Tersebutlah di sebuah kota. Seorang penulis spesialis cinta. Seluruh penjuru
negara tidak ada yang tidak mengenalnya. Tanya saja orang yang kau temui. Sebut
nama penulis itu. Maka tidak ada yang akan menggeleng bilang “aku tidak tahu”.
Jangan tanya tentang novel dan sajak cinta yang ditulisnya. Ia selalu berhasil
membuat seluruh pembaca menitikkan air mata haru. Kau belum pernah baca? Coba
saja kalau begitu. Pergilah ke toko buku di dekat rumahmu. Cari bukunya di
rak-rak best seller. Kau akan temui
seluruh bukunya berada di bagian yang strategis, mudah ditemukan, mudah
diambil.
“Aku selalu suka tulisannya. Hatiku meleleh setiap membacanya,” kata salah
seorang pembaca setia.
“Aku bahkan sudah membaca seluruh novelnya berkali-kali. Lihat saja isi
tasku. Aku selalu membawa satu novel karangannya untuk ku baca di sela
waktuku,” tutur pembaca lain dengan amat antusias.
Jawaban semacam itu yang akan kau dapati setiap bertanya tentang penilaian
pembaca terhadap tulisannya.
Tapi, tidak ada satu pun yang tahu. Penulis spesialis cinta itu sejatinya
diam-diam menyembunyikan kisah paling merana. Sejak awal kisah itu berawalan
sampai sekarang, ia masih tetap dalam kondisi menyedihkan. Tak ada kemajuan.
Tak ada kepastian.
Kisah menyedihkan itu tentang penulis yang jatuh cinta dan langsung
tergelincir patah hati. Seperti sebuah gelas piala yang terjatuh dan langsung
hancur begitu menyentuh lantainya. Dan orang itu ada tidak jauh dari sang
penulis.
Ya, setiap hari mereka hampir selalu bertemu. Berada di dalam gedung yang
sama. Sebuah pekerjaan yang sama. Tapi tak sekali pun mereka pernah saling
bertegur sapa. Hanya satu dua kali penulis itu berpapasan dengannya. Satu dua
kali berdiri satu meter darinya. Satu dua kali mata mereka tak sengaja saling
bertautan. Tapi, tidak ada tiga, empat bahkan ribuan kali selanjutnya. Apalagi
obrolan panjang. Bah, itu seperti sebuah harapan yang tak ada ujungnya.
Kisah itu hanya berlanjut seperti itu saja selama ini. Jarak mereka bisa
dibilang dekat sekali. Tapi hati, pikiran, pun akrab jauh sekali jangkauannya.
Jangan bandingkan dengan jarak bumi-matahari. Jarak mereka lebih jauh lagi.
Penulis jatuh cinta dan sekaligus patah hati. Seperti paket coklat yang
isinya coklat berasa manis dan pahit. Tapi hatinya patah bukan lantaran kabar
kabur tentang adanya sosok perempuan lain di hati pemuda itu. Ya, ia dengar
kabar itu. Dan ia tidak patah karena itu. Sebab ia tidak mudah percaya kecuali
kabar itu datang langsung dari tutur jujur pemuda yang didamba.
Satu hal yang membuatnya patah adalah kepastian. Ya, kepastian yang
digantung itu yang membuatnya merasakan luka sekali jatuh cinta. Jarak yang
mengambil kendali menjadi sebab kepastian itu terus bergelantungan tidak jelas.
Membuat sesekali penulis harus menghela kesabaran lagi. Sesekali menghembuskan
napas berat yang jika kau perhatikan ia sekaligus melepas semua beban hati.
Baginya kepastian adalah duri yang sesungguhnya.
Mungkin kau bertanya-tanya. Bagaimana mungkin penulis yang berhati rapuh
ini bisa menulis puluhan novel dan ratusan sajak cinta?
Hei, kau salah mengambil sudut pandang. Sebenarnya novel dan sajak cinta
yang ia tulis itu adalah harapan terbesarnya selama ini. Berharap semakin
sering ia menulis tentang cinta, akan merangsang kepastian itu berdiri gagah di
depannya. Tapi, sampai saat ini tak ada perubahan nyata. Jarak itu tetap tak
henti memanjangkan tubuhnya.
Kau tahu, diam-diam penulis sering melamun. Dan dalam lamunannya kata-kata
itu selalu menjadi curahan yang selalu dikirim ke Tuhannya. Selalu kata-kata
itu. Tidak pernah berubah dari awalan kisah sampai saat ini.
Oh, Tuhan bagaimana mungkin ini terjadi? Menulis novel dan sajak tentang
cinta sudah jadi makananku sehari-hari. Bahkan setiap langkahku pun aku
bersajak cinta. Setiap hela napasku pun aku berkisah cinta. Aku bisa saja
membuat kisah cinta paling romantis di dunia.
Kisah
cinta ter-romantis antara dua tokoh yang memang kurasa sangat cocok untuk
disatukan. Membuat mereka hidup bahagia
selamanya tanpa gangguan dari tokoh-tokoh lain.
Tanpa perlu ada noda yang dapat mengaburkan rona romantisnya. Ya, aku punya kuasa
atas tulisanku.
Tapi, dalam kisah cintaku sendiri,
kuasa itu jauh sekali dari genggaman.
Aku angkat tangan. Aku sendiri tidak bisa memaksa
berjodoh dengan orang yang sangat kuharapkan.
Bahkan
untuk sekedar membuatnya melirik sajak-sajakku pun, kuasa itu mustahil bagiku. Aku sungguh sadar. Hidupku ini di dunia nyata, bukan
hanya sebatas fiksi belaka.
Ya, setinggi-tingginya gelar yang kudapat, Penulis Spesialis Cinta. Tapi
aku justru tersuruk dengan kisah cintaku sendiri. Bahkan jika dituliskan, bisa
jadi kisah ini akan menjadi kisah yang tidak romantis sama sekali. Mungkin
tidak akan kau rasakan aroma kebahagiaan di dalamnya. Sebagai gantinya aroma
luka seutuhnya. Dan sehari-hari hanya ada senandung sendu yang mengiringi.
Diputar terus tanpa pernah berganti. Menyedihkan memang.
Aku sudah terlanjur menjatuhkan hati padanya, Tuhan. Dan hati ini hanya
bisa bersembunyi di balik pilarnya. Diam-diam memerhatikan. Diam-diam
mengumpulkan harapan. Kecil saja harapan ini, Tuhan –dan aku yakin Kau pasti
tahu. Cukup mengenalnya. Menjalin obrolan (meski singkat) dengannya. Tapi, apa
yang bisa hatiku perbuat? Saat jarak tak bosan mengulur tubuh di antara hati
dan yang didamba. Maka pilihannya hanya bersembunyi-dibalik-pilar. Sesekali
tersenyum saat tak sengaja melihatnya memadu senyum. Sesekali ikut murung, saat
ia memasang wajah sendu. Cinta. Seperti sihir yang menautkan suasana hati tanpa
diminta.
Tuhan, persoalan kisah cintaku ini, hanya Engkau saja satu-satunya yang
berkuasa. Memegang kendali pun skenarionya. Orang-orang itu salah. Engkaulah sejatinya
Penulis Spesialis Cinta yang sebenarnya. Bahkan Kau bisa membuat skenario yang
jauh lebih romantis dari apa yang aku tulis. Pun dengan bumbu-bumbu manis di
dalamnya. Aku jelas kalah telak. Jauh nian kalau ada yang tanya selisihnya.
Akulah Penulis (yang dijuluki) Spesialis Cinta itu, Tuhan. Tapi sejatinya
aku adalah tokoh dalam kisah yang Kau tuliskan. Entah akan di waktu dan tempat
yang mana kisah ini berakhir romantis bahagia. Pun tokoh lain yang menjadikan
kisah ini romantis. Aku tak tahu tokoh lain itu akan berupa seperti apa. Apakah
benar dia atau tokoh lainnya? Tapi biarlah, Penulis (yang dijuluki) Spesialis
Cinta ini akan sabar menunggunya. Biar nanti waktu yang memberi kabar. Aku
harus membuka lembar baru atau tetap duduk dengan posisi tegar.
***
Keyongan Kidul, 15 Oktober 2014
"Penulis spesialis cinta" aku seneng dengan kata-kata itu :D
BalasHapus^^ hehe...
Hapus