MASA LALU

Astaga, Nak
Bagaimana mungkin kau bisa berpaling
Jika sampai waktu tumbuh dewasa,
Kesibukanmu tak lebih dari menonton tayangan masa lalu
Gemintang itu bosan kau tatapi
Hentikan saja rupa sendumu itu
Kau membuatnya ragu memasung kilau

Nak, tolong dengarkan
Penuh rugi kau pelototi gemintang itu
Ia masa lalumu, biarkan ia hangus bersama debu
Biarkan ia terlelap panjang dari ledakan nova
Sadarlah, jarakmu dengannya sudah berekor-ekor
Matamu mungkin mampu meraihnya
Tapi hatimu terengah menggapainya
Biar dia yang lindap, bukan hatimu

Petuah ini bukan cercauan belaka, Nak
Mamak dipeluk risau saban malam
Sebab kerjaanmu hanya duduk dibalut lamun
Menatap gemintang masa lalumu
Hentikan, Nak
Mamak tak ingin hidupmu habis bercumbu dengan kilau semu
*
Astaga, Mak
Aku bukan sedang memadu pilu di sini
Gemintang itu ku tatap sebab aku suka
Suka dengan kilau semunya
Sadarku melek, jarak itu benar wujudnya
Rintih harap itu lama terbaring kaku di liangnya
Maka aku sudah tak berniat mengayuh hati untuknya

Mamak bisa tidur nyenyak sekarang
Mataku terbuka kok, Mak
Pun hatiku dari dasar hingga kulitnya
Ia terus terjaga dalam posisi tegarnya


Keyongan Kidul, 5 Oktober 2014


CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top