KEHILANGAN (#1)

“Sudahlah Nak, usaplah air matamu. Tak perlu kau menangis terus,” ujar Mamak lembut seraya mengelus punggung anaknya. Selepas isya’ tadi anak sulungnya itu tiba-tiba merubuhkan tubuhnya di pangkuan Mamak. Matanya tak henti memeras air. Satu hingga beberapa tetesannya jatuh mengenai kulit Mamak yang mulai keriput.
“Tapi, Mak, kenapa kehilangan itu selalu menyakitkan?” tanya Sulung yang masih tersedu di pangkuan Mamak. “Sulung tak pernah menginginkan ini, Mak. Semua kehilangan ini teramat menyakitkan. Sulung sudah terlalu banyak berkorban. Berkorban pikiran, tenaga bahkan hati. Tapi kenapa harus dibalas dengan sedemikian menyakitkan, Mak? Kenapa?”
Mamak tampak menghembuskan napas. Tangannya tidak henti mengelus punggung anak sulungnya yang amat ia cintai. Sebenarnya kalau kau bisa melihat, hati Mamak juga tengah tersayat melihat putri sulungnya tersuruk dalam luka yang meradang. Napasnya terus menderu seolah ada yang menyumbat saluran napasnya hingga terlihat begitu berat sekali hirup.
“Nak, tidak ada sebuah kejadian ditimpakan pada setiap manusia kecuali ada hikmah yang bisa dipetik di dalamnya. Kejadian yang menyenangkan maupun yang menyakitkan seperti yang kamu rasakan sekarang. Bisa jadi hal menyakitkan yang saat ini menggelayuti hatimu justru secara diam-diam tengah menyiapkan hadiah terindah untukmu,” jawab Mamak lembut.
“Tapi, aku tidak ingin kehilangan, Mak. Ini terlalu menyakitkan.”
“Nak, ketahuilah. Kehilangan tidak selalu berarti kau tidak akan memiliki selamanya. Kehilangan tidak selalu berarti kau akan putus dengannya selamanya. Tak pernah terlibat obrolan lagi, pun pertemuan. Kehilangan tidak selalu harus diartikan bahwa kau tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk memilikinya kembali. Definisi kehilangan tidak selalu semenyakitkan yang kau bayangkan, Nak.” Demi mendengar tuturan Mamak, tangis anak itu mulai berkurang.
“Kau harus belajar memahami definisi yang lebih bersahabat. Bahwa sejatinya kehilangan adalah batu loncatan untuk meraih perasaan memiliki yang hakiki pada waktu dan situasi yang tepat. Maka kau tak perlu tergesa-gesa memaksa waktu itu mengerucut. Kau justru akan merusak skenario indah yang ditulis Tuhan. Akan ada momen-momen bahagia yang bisa jadi kau lewatkan. Itulah gunanya Tuhan meminta kita bersabar. Melapangkan hati, menerima apa yang saat ini dimiliki. Biarlah waktu itu datang dengan sendirinya. Ia justru akan datang lagi padamu dengan keadaan yang lebih baik dari yang sebelumnya.”
Anak itu tampak tercengang. Suara tangisnya sempurna berhenti. Tapi isak dan air matanya masih deras mengalir. “Tapi bagaimana jika memang kehilangan itu berarti tak memiliki selamanya?”
“Itu artinya ada sosok lain yang lebih baik dan pantas dari apa yang kamu bayangkan. Dan kapan ia akan didatangkan, kuncinya seperti yang mamak bilang tadi. Waktu dan situasi yang tepat,” tangan keriput itu kini mengelus lengan tangan anaknya yang diletakkan lemas di paha Mamak.
Anak itu sejenak berpikir. Seperti sedang mencerna sesuatu yang mengganjal di pikirannya. “Tapi aku teramat ingin memilikinya, Mak.” tuturnya pelan.
“Nak, belajarlah memaknai, apa yang selalu kita inginkan tidak selalu apa yang Tuhan takdirkan. Kita tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk untuk kita. Kita memang punya kuasa atas diri kita sendiri. Seperti membuncahkan semangat. Tapi untuk urusan memiliki atau tidak memiliki, itu murni kuasa Tuhan.”
Sang anak terdiam. Isaknya masih tersisa.
“Biar ku beri tahu rumus kehilangan, Nak. Terkadang ketika kita kehilangan sesuatu dan sudah mencarinya berkali-kali hingga menyusuri jejak kembali, sesuatu itu tetap tidak ketemu. Padahal seluruh tenaga sudah dikerahkan. Tapi hasil jauh dari yang diharapkan. Justru ketika kita sudah mulai lupa, ia tiba-tiba datang dari arah yang tidak terduga-duga. Namun jika pada akhirnya sesuatu itu tetap tidak kembali, pasti akan ada pengganti yang lebih baik lagi,” terang Mamak seraya menatapnya penuh sayang.
“Jadi maksud Mamak, Sulung harus diam saja menunggu dia kembali atau pengganti yang lebih baik lagi?”
“Lebih tepatnya bersabar, Nak.”
Sang anak mengangguk. Punggung tangannya menyeka air matanya yang membentuk alur sungai di pipi. Sudut bibirnya kini mampu terangkat membentuk senyum tipis. Ada semangat baru yang Mamak lihat dari pancaran sulungnya. Namun tiba-tiba raut sulung langsung berubah kembali. Pancaran semagat di sudut matanya meredup. Bibir bawahnya ia gigit menahan tanya yang tiba-tiba menyeruduk semerta-merta.
“Ada apa, Nak?” tanya Mamak.
“Bagaimana dengan kenangan, Mak? Selama jawaban itu belum datang, bagaimana Sulung harus membendung semua kenangan yang bisa saja menerjangku?”
Senyum lembut mamak kembali terkembang. Tangannya membelai lembut wajah Sulung dengan penuh kasih sayang. Seolah hendak memancarkan ketenangan dari tangannya.
“Mamak akan beri kamu rahasia tentang kenangan, Nak. Tapi, bukan sekarang. Lain waktu akan mamak ceritakan.”

---bersambung---


CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top