“Sudahlah Nak, usaplah
air matamu. Tak perlu kau menangis terus,” ujar Mamak lembut seraya mengelus
punggung anaknya. Selepas isya’ tadi anak sulungnya itu tiba-tiba merubuhkan
tubuhnya di pangkuan Mamak. Matanya tak henti memeras air. Satu hingga beberapa
tetesannya jatuh mengenai kulit Mamak yang mulai keriput.
“Tapi, Mak, kenapa
kehilangan itu selalu menyakitkan?” tanya Sulung yang masih tersedu di pangkuan
Mamak. “Sulung tak pernah menginginkan ini, Mak. Semua kehilangan ini teramat
menyakitkan. Sulung sudah terlalu banyak berkorban. Berkorban pikiran, tenaga
bahkan hati. Tapi kenapa harus dibalas dengan sedemikian menyakitkan, Mak?
Kenapa?”
Mamak tampak
menghembuskan napas. Tangannya tidak henti mengelus punggung anak sulungnya yang
amat ia cintai. Sebenarnya kalau kau bisa melihat, hati Mamak juga tengah
tersayat melihat putri sulungnya tersuruk dalam luka yang meradang. Napasnya
terus menderu seolah ada yang menyumbat saluran napasnya hingga terlihat begitu
berat sekali hirup.
“Nak, tidak ada sebuah
kejadian ditimpakan pada setiap manusia kecuali ada hikmah yang bisa dipetik di
dalamnya. Kejadian yang menyenangkan maupun yang menyakitkan seperti yang kamu
rasakan sekarang. Bisa jadi hal menyakitkan yang saat ini menggelayuti hatimu
justru secara diam-diam tengah menyiapkan hadiah terindah untukmu,” jawab Mamak
lembut.
“Tapi, aku tidak ingin
kehilangan, Mak. Ini terlalu menyakitkan.”
“Nak, ketahuilah.
Kehilangan tidak selalu berarti kau tidak akan memiliki selamanya. Kehilangan
tidak selalu berarti kau akan putus dengannya selamanya. Tak pernah terlibat
obrolan lagi, pun pertemuan. Kehilangan tidak selalu harus diartikan bahwa kau
tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk memilikinya kembali. Definisi
kehilangan tidak selalu semenyakitkan yang kau bayangkan, Nak.” Demi mendengar
tuturan Mamak, tangis anak itu mulai berkurang.
“Kau harus belajar
memahami definisi yang lebih bersahabat. Bahwa sejatinya kehilangan adalah batu
loncatan untuk meraih perasaan memiliki yang hakiki pada waktu dan situasi yang
tepat. Maka kau tak perlu tergesa-gesa memaksa waktu itu mengerucut. Kau justru
akan merusak skenario indah yang ditulis Tuhan. Akan ada momen-momen bahagia
yang bisa jadi kau lewatkan. Itulah gunanya Tuhan meminta kita bersabar.
Melapangkan hati, menerima apa yang saat ini dimiliki. Biarlah waktu itu datang
dengan sendirinya. Ia justru akan datang lagi padamu dengan keadaan yang lebih
baik dari yang sebelumnya.”
Anak itu tampak
tercengang. Suara tangisnya sempurna berhenti. Tapi isak dan air matanya masih
deras mengalir. “Tapi bagaimana jika memang kehilangan itu berarti tak memiliki
selamanya?”
“Itu artinya ada sosok
lain yang lebih baik dan pantas dari apa yang kamu bayangkan. Dan kapan ia akan
didatangkan, kuncinya seperti yang mamak bilang tadi. Waktu dan situasi yang
tepat,” tangan keriput itu kini mengelus lengan tangan anaknya yang diletakkan
lemas di paha Mamak.
Anak itu sejenak
berpikir. Seperti sedang mencerna sesuatu yang mengganjal di pikirannya. “Tapi
aku teramat ingin memilikinya, Mak.” tuturnya pelan.
“Nak, belajarlah
memaknai, apa yang selalu kita inginkan tidak selalu apa yang Tuhan takdirkan.
Kita tidak pernah tahu mana yang baik dan buruk untuk kita. Kita memang punya
kuasa atas diri kita sendiri. Seperti membuncahkan semangat. Tapi untuk urusan
memiliki atau tidak memiliki, itu murni kuasa Tuhan.”
Sang anak terdiam.
Isaknya masih tersisa.
“Biar ku beri tahu
rumus kehilangan, Nak. Terkadang ketika kita kehilangan sesuatu dan sudah
mencarinya berkali-kali hingga menyusuri jejak kembali, sesuatu itu tetap tidak
ketemu. Padahal seluruh tenaga sudah dikerahkan. Tapi hasil jauh dari yang
diharapkan. Justru ketika kita sudah mulai lupa, ia tiba-tiba datang dari arah yang
tidak terduga-duga. Namun jika pada akhirnya sesuatu itu tetap tidak kembali,
pasti akan ada pengganti yang lebih baik lagi,” terang Mamak seraya menatapnya
penuh sayang.
“Jadi maksud Mamak,
Sulung harus diam saja menunggu dia kembali atau pengganti yang lebih baik
lagi?”
“Lebih tepatnya bersabar,
Nak.”
Sang anak mengangguk.
Punggung tangannya menyeka air matanya yang membentuk alur sungai di pipi.
Sudut bibirnya kini mampu terangkat membentuk senyum tipis. Ada semangat baru
yang Mamak lihat dari pancaran sulungnya. Namun tiba-tiba raut sulung langsung
berubah kembali. Pancaran semagat di sudut matanya meredup. Bibir bawahnya ia
gigit menahan tanya yang tiba-tiba menyeruduk semerta-merta.
“Ada apa, Nak?” tanya
Mamak.
“Bagaimana dengan
kenangan, Mak? Selama jawaban itu belum datang, bagaimana Sulung harus
membendung semua kenangan yang bisa saja menerjangku?”
Senyum lembut mamak
kembali terkembang. Tangannya membelai lembut wajah Sulung dengan penuh kasih
sayang. Seolah hendak memancarkan ketenangan dari tangannya.
“Mamak akan beri kamu
rahasia tentang kenangan, Nak. Tapi, bukan sekarang. Lain waktu akan mamak
ceritakan.”
---bersambung---
0 komentar:
Posting Komentar