CERITA PERSALINAN || SELAMAT DATANG DI BUMI, KELANA
Bulan demi bulan terlewati. Di usia
kehamilan menjelang akhir trimester tiga, aku mengikuti prenatal gentle yoga yang
difasilitatori oleh teman SMA yang sekarang berprofesi sebagai bidan. Aku
sengaja mengambil paket yoga langsung selama sebulan dengan 4 kali pertemuan. Seharusnya
di usia kehamilan ke-38 menjadi pertemuan terakhir. Tapi, pagi harinya aku
mendapati ada flek yang sudah muncul diikuti dengan rasa nyeri di perut bawah.
Hari-hari sebelumnya memang aku sudah merasakan kontraksi palsu. Namun, rasa
nyeri kali ini tidak berhenti seperti biasa. Aku memutuskan mencoba menghitung
durasi dan frekuensi dari rasa nyeriku. Saat itu aku tidak menyangka tanda
persalinan ini akan datang lebih awal.
Malam hari, rasa kontraksi yang ku
rasakan sejujurnya tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Tapi, flek
terus keluar. Ibu dan saudaraku sudah memintaku untuk ke rumah sakit, dan aku
menyanggupinya setelah jam menunjukkan pukul 9 malam. Sejujurnya saat itu aku
belum begitu mantap untuk segera ke rumah sakit, karena aku merasa masih mampu
menahan rasa nyeri. Aku teringat kata temanku agar tidak terlalu dini ke tempat
persalinan dengan memperhatikan tanda dari jeda kontraksi. Namun karena
dorongan dari keluarga membuatku akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit malam
itu. Toh jika pembukaan belum 4 atau lebih bisa jadi diminta untuk pulang,
pikirku saat itu.
Sampai di rumah sakit aku langsung
ditangani oleh seorang bidan di IGD. Setelah ditanyai beberapa pertanyaan
terkait data diri dan tanda persalinan yang ku rasakan, bidan kemudian mengecek
pembukaan. Saat itu ternyata pembukaannya masih 1. Bidan kemudian melaporkan ke
dokter kandungan yang ku kehendaki untuk membantu proses persalinan nanti.
Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan CTG untuk melihat detak jantung
janin dan perkembangan gerakan janin. Setelah sekitar 30 menit, dari hasil CTG
dokter menyarankan untuk tetap stay
di rumah sakit. Tujuannya untuk memantau perkembangan pembukaan setiap 4 jam
sekali. Malam itu, setelah tanda tangan persetujuan, aku dipindah ke ruang
observasi dengan didampingi suami.
Perkembangan pembukaan jalan lahir janinku
terbilang cukup lambat. Hingga jumat malam, pembukaan masih belum menyentuh
tingkat 3. Meskipun sepanjang hari aku sudah terus mengikhtiarkan dengan
gerakan di atas gymball, pijat
oksitosin, dan makan kurma untuk merangsang pembukaan. Malam ba’da maghrib,
bidan dan dokter jaga menyampaikan pesan dari dokter obsgynku. Beliau
menyarankan untuk dilakukan induksi dengan dua skenario persalinan. Pertama,
apabila kontraksi dan pembukaan semakin signifikan, maka proses persalinan
pervaginam bisa dilaksanakan. Kedua, apabila hingga batas akhir induksi tidak
menunjukkan perkembangan kontraksi dan pembukaan yang sifnifikan maka proses
persalinan dilakukan secara SC/operasi. Aku dan suamiku sempat meminta waktu
sebentar untuk berpikir. Aku sempat jeri dengan adanya pilihan kedua, sebab aku
merasa tidak siap jika harus dibedah perutku. Tapi kemudian, kami menyetujui
tindakan ini. Perasaan ingin segera menyudahi rasa kontraksi, dan ingin segera
bertemu dengan adek, membuat kami mantap menjalani proses ini. InsyaAllah
ikhtiar sudah kami lakukan, dan saat itu kami berharap proses persalinan
berjalan lancar dengan kondisi aku dan adek yang sehat.
Ba’da isya, setelah berganti pakaian
khusus untuk persalinan, perawat mulai menyuntikku dengan larutan oksitosin
melalui selang infus. Dua puluh menit awal aku masih belum merasakan penambahan
kontraksi yang signifikan. Tapi setelah penambahan tetes larutan, akhirnya
sekitar 1 jam-an, gelombang kontraksi itu mulai semakin intens terasa dan
jedanya pun semakin pendek. Aku terus mengatur napas selama kontraksi itu
muncul, sembari tanganku menggenggam (mungkin lebih tepatnya- meremas) tangan
suamiku. Dan di jeda kontraksi aku juga mencoba untuk minum dan makan kurma
agar nanti tidak kehabisan energi ketika proses mengejan.
Setelah (mungkin) sekitar 2 atau 3 jam
(sudah tidak tau saat itu jam berapa), rasa kontraksi itu sudah tidak tertahan
lagi. Akhirnya aku dipindahkan ke ruang tindakan. Saat itu ibuku diperbolehkan
untuk menengokku sebentar. Dan karena sudah tidak sanggup berdiri, aku pun
dibawa ke ruang tindakan bersama dengan tempat tidur di ruang observasi. Saat
itu rasanya aku ingin memeluk ibuku, minta doa restu. Tapi bahkan untuk melihat
ibu saja aku tidak sanggup menahan air mata. Akhirnya aku pun masuk ke ruang
tindakan. Di dalam sana sudah ada seorang ibu yang juga tengah berjuang menunggu
proses pembukaan lengkap. Kemudian aku dipindahkan ke tempat tidur khusus untuk
persalinan. Saat itu kontraksi benar-benar semakin intens. Dan aku masih terus berusaha
mengatur napas.
Proses menunggu pembukaan lengkap
bagiku menjadi momen yang sangat penuh perjuangan. Waktu bagiku berjalan begitu
lambat menunggu pembukaan lengkap. Rasa kontraksi yang semakin memuncak dengan
jeda antar kontraksi yang semakin singkat membuatku bergelut melawan diri
sendiri. Melawan rasa sakit dengan tetap fokus mengatur napas atau terbawa
dengan rasa sakit itu dan hilang kendali. Syukurnya, suami terus memanduku
untuk mengatur napas. Berkali-kali juga suami terus mengatakan padaku kalo aku
pasti bisa. Sesekali suami juga melontarkan jokes
bapak-bapaknya, tapi mana bisa aku ketawa. Bidan-bidan justru yang ketawa.
Ketika rasa ingin mengejan sudah
muncul tapi pembukaan belum lengkap, aku beberapa kali mulai hilang kendali.
Mengatur napas menjadi semakin sulit. Aku beberapa kali menggelengkan kepala
ingin menyerah, tapi sekian detik kemudian sadar untuk tetap fokus atur napas
dan mengatakan pada diriku sendiri aku pasti bisa. Hingga akhirnya ketika
pembukaan sudah lengkap, aku mulai dipandu bidan untuk mengejan. Sayangnya aku
sudah mulai kehabisan energi untuk mengejan. Bisa jadi karena ketika puncak
kontraksi sebelumnya aku sudah tidak bisa makan kurma, hanya mengandalkan air
putih. Tapi aku terus mencoba dengan dorongan dari suami yang tak hentinya ikut
memanduku. Tak lama kemudian dokter kandungan datang dan mulai membantu membuka
jalan lahir. Hingga akhirnya tepat di jam 02.20 WIB, Kelana lahir dengan tangisnya
yang kencang. Terharu sekali rasanya begitu aku dan Kelana mulai sesi IMD
(inisiasi menyusui dini). Masih tak percaya bayi menggemaskan ini selama 9
bulan kemarin tumbuh dan berkembang di perutku. Masih tak percaya bisa melihat
dan mengelus langsung bayi yang dulu sering menendang-nendang ketika diajak
ngobrol atau jalan-jalan. Dan masih takjub rasanya aku bisa melewati proses
persalinan yang penuh dengan perlawanan pada tubuh sendiri.
Setiap kali aku teringat momen persalinan kemarin, aku selalu dibuat terharu dengan dukungan suami. Kata-kata penyemangat darinya, bagaimana dia terus memanduku mengatur napas, dan melayaniku ketika aku berjuang melawan sakit menjadi energi besar bagiku untuk terus fokus dalam prosesnya. Saat itu rasanya aku tidak akan kuat jika suami tidak mengambil sikap dan tindakan itu. Sebelumnya aku memang sudah berkali-kali sounding pada suami setiap malam untuk mengingatkanku tentang fokus atur napas ketika proses persalinan nanti. Alhamdulillah suami benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.
***
Selamat datang di bumi, Kelana Gumi Abrar. Tumbuhlah menjadi anak yang sholih dan membawa manfaat untuk sekelilingmu. Bumi ini luas, Nak. Berkelanalah sembari mengamalkan ayat-ayat cinta Tuhanmu yang penuh dengan kebaikan. Ayah dan Ibu dengan tulus hati akan selalu menyayangimu.
*****
Bantul, Februari 2021

0 komentar:
Posting Komentar