CERITA PERSALINAN || SELAMAT DATANG DI BUMI, KELANA


Suatu pagi di hari pertama puasa tahun 2020, aku mendapati diriku hamil setelah melihat ada dua garis biru di 2 testpack yang ku gunakan. Perasaan seketika membuncah. Syukur dan sekaligus khawatir. Syukur karena peran baru yang akan aku dan suami emban beberapa bulan ke depan. Namun sekaligus merasa khawatir akankah kami bisa menjalani peran baru ini dengan baik. Dan semenjak itu, drama-drama kehamilan pun mewarnai kehidupan rumah tangga kami. Mual di tengah malam, emosi yang naik turun, dan lelah yang lebih mudah terasa ketika beraktivitas. Aku membuka kembali buku-buku yang membahas tentang kehamilan yang pernah ku baca sebelum menikah. Rasanya hal-hal yang ada di buku menjadi lebih konkrit setelah benar-benar menjalani kehamilan. Sosial mediaku pun mulai dipenuhi dengan informasi-informasi terkait kehamilan dan parenting, semenjak aku mulai mengikuti beberapa akun dokter dan bidan.

Bulan demi bulan terlewati. Di usia kehamilan menjelang akhir trimester tiga, aku mengikuti prenatal gentle yoga yang difasilitatori oleh teman SMA yang sekarang berprofesi sebagai bidan. Aku sengaja mengambil paket yoga langsung selama sebulan dengan 4 kali pertemuan. Seharusnya di usia kehamilan ke-38 menjadi pertemuan terakhir. Tapi, pagi harinya aku mendapati ada flek yang sudah muncul diikuti dengan rasa nyeri di perut bawah. Hari-hari sebelumnya memang aku sudah merasakan kontraksi palsu. Namun, rasa nyeri kali ini tidak berhenti seperti biasa. Aku memutuskan mencoba menghitung durasi dan frekuensi dari rasa nyeriku. Saat itu aku tidak menyangka tanda persalinan ini akan datang lebih awal.

Malam hari, rasa kontraksi yang ku rasakan sejujurnya tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Tapi, flek terus keluar. Ibu dan saudaraku sudah memintaku untuk ke rumah sakit, dan aku menyanggupinya setelah jam menunjukkan pukul 9 malam. Sejujurnya saat itu aku belum begitu mantap untuk segera ke rumah sakit, karena aku merasa masih mampu menahan rasa nyeri. Aku teringat kata temanku agar tidak terlalu dini ke tempat persalinan dengan memperhatikan tanda dari jeda kontraksi. Namun karena dorongan dari keluarga membuatku akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit malam itu. Toh jika pembukaan belum 4 atau lebih bisa jadi diminta untuk pulang, pikirku saat itu.

Sampai di rumah sakit aku langsung ditangani oleh seorang bidan di IGD. Setelah ditanyai beberapa pertanyaan terkait data diri dan tanda persalinan yang ku rasakan, bidan kemudian mengecek pembukaan. Saat itu ternyata pembukaannya masih 1. Bidan kemudian melaporkan ke dokter kandungan yang ku kehendaki untuk membantu proses persalinan nanti. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan CTG untuk melihat detak jantung janin dan perkembangan gerakan janin. Setelah sekitar 30 menit, dari hasil CTG dokter menyarankan untuk tetap stay di rumah sakit. Tujuannya untuk memantau perkembangan pembukaan setiap 4 jam sekali. Malam itu, setelah tanda tangan persetujuan, aku dipindah ke ruang observasi dengan didampingi suami.

Perkembangan pembukaan jalan lahir janinku terbilang cukup lambat. Hingga jumat malam, pembukaan masih belum menyentuh tingkat 3. Meskipun sepanjang hari aku sudah terus mengikhtiarkan dengan gerakan di atas gymball, pijat oksitosin, dan makan kurma untuk merangsang pembukaan. Malam ba’da maghrib, bidan dan dokter jaga menyampaikan pesan dari dokter obsgynku. Beliau menyarankan untuk dilakukan induksi dengan dua skenario persalinan. Pertama, apabila kontraksi dan pembukaan semakin signifikan, maka proses persalinan pervaginam bisa dilaksanakan. Kedua, apabila hingga batas akhir induksi tidak menunjukkan perkembangan kontraksi dan pembukaan yang sifnifikan maka proses persalinan dilakukan secara SC/operasi. Aku dan suamiku sempat meminta waktu sebentar untuk berpikir. Aku sempat jeri dengan adanya pilihan kedua, sebab aku merasa tidak siap jika harus dibedah perutku. Tapi kemudian, kami menyetujui tindakan ini. Perasaan ingin segera menyudahi rasa kontraksi, dan ingin segera bertemu dengan adek, membuat kami mantap menjalani proses ini. InsyaAllah ikhtiar sudah kami lakukan, dan saat itu kami berharap proses persalinan berjalan lancar dengan kondisi aku dan adek yang sehat.

Ba’da isya, setelah berganti pakaian khusus untuk persalinan, perawat mulai menyuntikku dengan larutan oksitosin melalui selang infus. Dua puluh menit awal aku masih belum merasakan penambahan kontraksi yang signifikan. Tapi setelah penambahan tetes larutan, akhirnya sekitar 1 jam-an, gelombang kontraksi itu mulai semakin intens terasa dan jedanya pun semakin pendek. Aku terus mengatur napas selama kontraksi itu muncul, sembari tanganku menggenggam (mungkin lebih tepatnya- meremas) tangan suamiku. Dan di jeda kontraksi aku juga mencoba untuk minum dan makan kurma agar nanti tidak kehabisan energi ketika proses mengejan.

Setelah (mungkin) sekitar 2 atau 3 jam (sudah tidak tau saat itu jam berapa), rasa kontraksi itu sudah tidak tertahan lagi. Akhirnya aku dipindahkan ke ruang tindakan. Saat itu ibuku diperbolehkan untuk menengokku sebentar. Dan karena sudah tidak sanggup berdiri, aku pun dibawa ke ruang tindakan bersama dengan tempat tidur di ruang observasi. Saat itu rasanya aku ingin memeluk ibuku, minta doa restu. Tapi bahkan untuk melihat ibu saja aku tidak sanggup menahan air mata. Akhirnya aku pun masuk ke ruang tindakan. Di dalam sana sudah ada seorang ibu yang juga tengah berjuang menunggu proses pembukaan lengkap. Kemudian aku dipindahkan ke tempat tidur khusus untuk persalinan. Saat itu kontraksi benar-benar semakin intens. Dan aku masih terus berusaha mengatur napas.

Proses menunggu pembukaan lengkap bagiku menjadi momen yang sangat penuh perjuangan. Waktu bagiku berjalan begitu lambat menunggu pembukaan lengkap. Rasa kontraksi yang semakin memuncak dengan jeda antar kontraksi yang semakin singkat membuatku bergelut melawan diri sendiri. Melawan rasa sakit dengan tetap fokus mengatur napas atau terbawa dengan rasa sakit itu dan hilang kendali. Syukurnya, suami terus memanduku untuk mengatur napas. Berkali-kali juga suami terus mengatakan padaku kalo aku pasti bisa. Sesekali suami juga melontarkan jokes bapak-bapaknya, tapi mana bisa aku ketawa. Bidan-bidan justru yang ketawa.

Ketika rasa ingin mengejan sudah muncul tapi pembukaan belum lengkap, aku beberapa kali mulai hilang kendali. Mengatur napas menjadi semakin sulit. Aku beberapa kali menggelengkan kepala ingin menyerah, tapi sekian detik kemudian sadar untuk tetap fokus atur napas dan mengatakan pada diriku sendiri aku pasti bisa. Hingga akhirnya ketika pembukaan sudah lengkap, aku mulai dipandu bidan untuk mengejan. Sayangnya aku sudah mulai kehabisan energi untuk mengejan. Bisa jadi karena ketika puncak kontraksi sebelumnya aku sudah tidak bisa makan kurma, hanya mengandalkan air putih. Tapi aku terus mencoba dengan dorongan dari suami yang tak hentinya ikut memanduku. Tak lama kemudian dokter kandungan datang dan mulai membantu membuka jalan lahir. Hingga akhirnya tepat di jam 02.20 WIB, Kelana lahir dengan tangisnya yang kencang. Terharu sekali rasanya begitu aku dan Kelana mulai sesi IMD (inisiasi menyusui dini). Masih tak percaya bayi menggemaskan ini selama 9 bulan kemarin tumbuh dan berkembang di perutku. Masih tak percaya bisa melihat dan mengelus langsung bayi yang dulu sering menendang-nendang ketika diajak ngobrol atau jalan-jalan. Dan masih takjub rasanya aku bisa melewati proses persalinan yang penuh dengan perlawanan pada tubuh sendiri.

Setiap kali aku teringat momen persalinan kemarin, aku selalu dibuat terharu dengan dukungan suami. Kata-kata penyemangat darinya, bagaimana dia terus memanduku mengatur napas, dan melayaniku ketika aku berjuang melawan sakit menjadi energi besar bagiku untuk terus fokus dalam prosesnya. Saat itu rasanya aku tidak akan kuat jika suami tidak mengambil sikap dan tindakan itu. Sebelumnya aku memang sudah berkali-kali sounding pada suami setiap malam untuk mengingatkanku tentang fokus atur napas ketika proses persalinan nanti. Alhamdulillah suami benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.

***

Selamat datang di bumi, Kelana Gumi Abrar. Tumbuhlah menjadi anak yang sholih dan membawa manfaat untuk sekelilingmu. Bumi ini luas, Nak. Berkelanalah sembari mengamalkan ayat-ayat cinta Tuhanmu yang penuh dengan kebaikan. Ayah dan Ibu dengan tulus hati akan selalu menyayangimu. 



*****

Bantul, Februari 2021

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top