TIMELAPSE : BERSABAR DALAM BERDOA
2013
adalah tahun ketika pertama kali aku dipertemukan dengannya. Kami sama-sama
mahasiswa baru di kampus dan bahkan di jurusan yang sama. Saat itu aku hanya
mengenal sebatas nama. Aku mengenalnya sebagai teman pertama yang berasal dari
Pulau Dewata. Selanjutnya interaksi kami hanya sebatas teman kuliah yang
disibukkan dengan bahasan kuliah dan praktikum. Saat itu tidak ada sepintas
pikiran apapun tentang dia.
2015
adalah tahun ketika pertama kali aku menuliskan puisi tentang dia. Yang
kemudian berbuntut pada lahirnya berpuluh-puluh judul puisi lainnya yang
bermuara pada satu nama yang sama. Aku mulai bingung dengan perasaan
sendiri. Pertanyaan pertama pun muncul sebelum rententan
pertanyaan-pertanyaan lain tentang dia bermunculan. "Kenapa tiba-tiba dia?"
2016,
tahun ketika aku berperang melawan diri sendiri. Tahun ketika aku memulai lakon
dan berpura-pura seolah semua dalam diriku baik-baik saja. Tahun ketika aku
menyadari bahwa apa yang dikatakan Azhar Nurun Ala dalam bukunya adalah benar “Cinta adalah perlawanan”. Saat hati
menginginkan aku untuk melepaskan semua perasaan, tetapi logika menuntut pada
pilihan yang bersebrangan. Saat hati berontak ingin menuliskan
seterang-terangnya melalui puisi, tetapi logika mencegahnya. Membuatku terpaksa
harus melawan perasaan sendiri. Mengurungnya di ruang terdalam dan tergelap
yang ada dalam diri. Perlawanan ini sungguh sebuah topeng bagiku, tidak hanya
wajah tapi seluruh tubuhku. Pertemuan tak sengaja aku dengannya di kampus bagaikan
pisau bermata dua. Aku bisa tersenyum tapi sakit dalam waktu bersamaan. Aku membencinya
tapi aku pun tidak tahu bagaimana lepas darinya.
2017,
tahun ketika kami sama-sama berjuang mengerjakan tugas akhir kuliah. Pertanyaan
kembali muncul ketika aku dan dia dibimbing oleh dosen yang sama, termasuk
lokasi penelitian sama. Tahun ini pula aku memutuskan untuk berhenti menulis
puisi tentangnya. Pertanyaan-pertanyaan mulai berjejalan dan membuatku muak
dengan perasaan sendiri. Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti menulis puisi
tentangnya. Tapi kenyataannya ibarat api dalam tungku, dia adalah kayunya. Aku
sengaja tak meletakkan kayu atau benda apapun dalam tungku. Api pun tidak
menyala. Puisiku tidak ada yang lahir. Doa mulai ku kencangkan. “Rabb Yang Membolak-balikkan Hati, urusan
menciptakan alam semesta yang kompleks ini pasti mudah bagi-Mu, apalagi urusan
hatiku. Pasti amat sangatlah mudah bagi-Mu untuk membalikkan hatiku jika memang
ini bukan bagian dari skenario-Mu. Balikkan hatiku, semudah aku membalikkan
telapak tanganku sendiri, bahkan bisa jadi lebih mudah dari itu.”
2018,
tahun ketika akhirnya kami wisuda. Sama-sama mengenakan toga dan berfoto dengan
senyum lebar bersama keluarga masing-masing. Tahun ini pula menjadi awal ketika
aku mulai mengalihkan tulisanku yang semula puisi menjadi prosa. Aku yang telah
diujung titik kepasrahan dengan apa mau Alloh terhadap perasaan yang masih saja
bertengger santai di dalam. Aku yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus ku
lakukan agar jawaban dari puluhan pertanyaanku terjawab. Aku yang akhirnya benar-benar
bisa dengan hati lapang berkata, “Aku benar-benar
pasrah dengan skenario-Mu, Rabb.”
2019,
tahun ketika aku akhirnya sempurna tidak bertemu dengannya berbulan-bulan
lamanya. Ketika aku mulai sibuk dengan pekerjaan di luar kota dan dia yang
sibuk dengan projek di kampus dan persiapannya mendaftar kuliah. Tahun ini pula
menjadi tahun ketika tiba-tiba satu pemantik besar meresahkanku. Ketika
seseorang yang tidak pernah sekalipun ku harapkan datang justru datang. Aku
merasa diteror. Bisikan-bisikan orang tentang kemungkinan dia adalah “orang”-nya
menghantuiku. Tapi di sisi lain aku merasa ditahan oleh perasaan sendiri. Seolah
mereka berkata, “Jangan dengarkan mereka.
Percayalah padaku. Pasti ada alasan kenapa Alloh masih membiarkanku hidup dalam
hatimu.” Aku memilih untuk mengutamakan hatiku. Kemudian pilihan ini mendorongku
mengambil keputusan, maju dan tuntaskan semuanya terang-terangan. Butuh
berbulan-bulan lamanya hingga aku berani memutuskan untuk mengambil pilihan:
mengajukan semua pertanyaan padanya. Pertanyaan yang selama berpuluh-puluh bulan
mengadudomba pikiran dan hati. Aku memberanikan diri untuk membuka topeng dan
mempersiapkan diri untuk jatuh. Sebab saat itu hanya ini pilihan paling masuk
akal agar aku bisa mengambil keputusan untuk melanjutkan bertahan atau melepas.
Setidaknya jika harus dilepas, aku bisa melepasnya dengan lebih mudah setelah
dipatahkan.
Tapi ternyata
memang semua rentetan kejadian dari awal perkenalan kami hingga saat itu
bermakna. Jawaban semua pertanyaanku terjawab oleh satu rentetan kalimat singkat
darinya, “Insyaallah aku akan maju.” Akhirnya di bulan Agustus kami memutuskan
untuk saling mengonfirmasi secara langsung pilihan kami masing-masing. Dia datang
ke rumah bersama dengan guru ngajinya. Aku pun didampingi dengan guru ngajiku
dan sahabat terbaikku. Di situ kami sama-sama bersepakat untuk melanjutkan
proses. Dan beberapa hari kemudian dia datang ke rumah menemui bapak ibu.
Dilanjut dengan proses lamaran satu bulan kemudian ketika keluarga kami pertama
kali bertemu. Hingga akhirnya proses terus berjalan. Dan di bulan Desember aku
tak dapat membendung air mata, ketika dia selesai mengucapkan kalimat kabul
dalam satu tarikan napas yang kemudian disambut “Sah” dari para saksi dan lafadz
hamdalah dari para tamu. Kau, Hujan, dan
Aku1 telah sempurna menjelma Kau
dan Aku.
**
Aku
pernah meminta skenario indah pada Alloh tentang perasaanku. Dan aku percaya Alloh pasti telah menyiapkan semuanya. Tapi aku tidak pernah menyangka akan
seindah ini skenario yang dituliskan-Nya. Setiap rentetan kejadian yang ku
alami adalah bagian dari skenario-Nya. Bahkan setiap kali aku membaca ulang
puisi lama, aku menjadi paham bahwa Alloh telah menuntunku sejak lama. Termasuk
seberapa yakin dan kuat aku bertahan dan menahan. Keyakinan bahwa perasaan ini
ada karena satu misi. Sekalipun hal-hal di luar mencoba merecoki, tetapi
keyakinan ini sejak awal seperti telah menemukan tempat tinggalnya di hati.
Perasaan
ini juga telah membuatku belajar banyak hal. Salah satunya tentang bersabar
dalam berdoa. Adalah sebuah ikhtiar yang nyata dan bernyawa ketika seseorang
mampu bersabar dalam berdoa. Sebab itu artinya meski jawaban dari doanya belum
didapatkan, tetapi ia yakin bahwa suatu hari nanti Alloh memberikan jawabannya.
Ia percaya dengan janji Alloh tentang mendengar dan mengabulkan doa
hamba-hambaNya. Dia percaya Alloh tidak pernah ingkar dengan janji-Nya. Sehingga
satu-satunya jalan adalah tetap berikhtiar dalam berdoa.
***
Bantul, 8 April 2020
Mutiara Hayati

0 komentar:
Posting Komentar