TENTANG PEREMPUAN (4)
"La fotoin dong," seru Taka yang sudah berpose dengan latar belakang langit yang mulai mengenakan jubah senjanya.
"Ey biasa aja mukanya nggak usah sok gitu," sahut Nilam yang sudah siap membidik dengan kameranya.
"Sok gimana? Sok ganteng? Ya emang pada dasarnya aku ganteng kali," Taka tertawa penuh percaya diri.
"Ah nggak jadi ah," Nilam menurunkan lagi kameranya kemudian menjauh dari tepian pantai. Taka di belakang langsung mengejar sambil tertawa.
"Nggak seru kamu, La. Canda doang." ujar Taka setelah mereka berdua duduk di dahan pohon kelapa yang tergeletak sekitar 8 meter dari bibir pantai.
"Iya aku juga cuma bercanda doang tadi mau foto kamu," balasnya seraya menyeringai.
Taka tertawa. "Oke deh, impas."
Hening sejenak menjeda di antara mereka berdua. Taka melemparkan pandangannya ke pantai. Pada segerombolan anak laki-laki yang bermain bola voli. Dan di sisi lain ada segerombolan anak perempuan sebaya yang tampak sesekali berbisik dan berteriak ke gerombolan pemain voli itu.
"La, perempuan itu emang suka banget ngomongin laki-laki ya," celetuknya tiba-tiba.
"Ha? Pede amat!"
"Maksudku gini, Nilam. Kan sekarang gampang tuh menemukan segerombol perempuan yang suka ngobrolin tentang idola mereka yang pastinya itu cowok. Aktor atau penyanyi misal. Bahkan yang ngobrolin model hafidz di Yutub itu juga ada kan. Atau ustadz muda ganteng dan belum nikah. Mesti tuh followernya kebanyakan para perempuan."
"Nggak semua perempuan gitu, Ka. Ada juga kok, perempuan yang nggak suka ngobrolin laki-laki. Nggak tertarik dengan obrolan segala hal yang bikin baper karena laki-laki."
Taka menyernyit. "Iya kah? Bukannya perempuan makhluk perasa?"
"Jangan lantas dengan mudah mengeneralkan kalo perempuan itu baperan dan suka dengan hal-hal yang memancing perasaan gitu. Di dunia ini ada juga perempuan yang nggak muluk-muluk memikirkan laki-laki. Bagi perempuan tipe ini dia memandang urusan perasaan terhadap laki-laki itu bukan jadi sorotan utama dalam perjalanan hidupnya. Dia lebih mementingkan mimpi-mimpi yang dirancangnya dan ingin sekali diwujudkan. Dia nggak ingin dipandang lemah. Dia sadar kalo Allah sudah beri dia kekuatan makanya dia ingin menggunakan kekuatan itu untuk meraih mimpinya. Jadi urusan laki-laki dia kesampingkan dulu. Karena perasaan bagi perempuan itu bisa jadi kelebihan atau kelemahan, makanya perempuan tipe ini tidak mau ambil risiko dengan mengorbankan perasaan pada hal-hal yang bersifat hubungan laki-laki dan perempuan. Dia ingin benar-benar fokus dengan mimpinya," terang Nilam panjang.
"Lalu apakah mereka nggak berpikir tentang menikah di masa depan? Mau terus-terusan hidup sendiri gitu?"
"Memang ada perempuan yang nggak mau nikah sama sekali. Dia lebih mementingkan bagaimana dia harus menghidupkan hidupnya dengan tangan sendiri. Tapi ya ini bukan hal yang sepatutnya muslimah pilih. Sebab gimanapun juga menikah kan, salah satu ibadah. Agar bisa menyempurnakan separuh agama kedua yang baru bisa dicapai dengan kehidupan setelah menikah. Sebab separuh pertama diperoleh dari menikah." ujar Nilam.
"Perempuan yang sangat berambisi dengan mimpi bukan berarti dia mengabaikan urusan perasaan ke laki-laki. Tanpa menempatkan menikah sebagai fokus utama dalam hidup, tapi dalam perjalanan menggapai mimpi perempuan ini tetap mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu sang calon imam datang. Bisa aja lho kalo ditanya tentang laki-laki dia bilang nggak tertarik buat bahas. Bisa aja ketika diajak ke kajian pranikah dia ogah. Atau bahkan berpikir buat apa sih getol banget ikut kajian gituan. Bisa aja dia juga nggak tertarik dengan film, cerita, atau puisi yang menurutnya di situ menunjukkan perempuan yang meratapi laki-laki. Tapi bukan berarti dia memang lepas nggak memikirkan itu. Dibalik semua ketidakpedulian itu perempuan ini bisa jadi tengah diam-diam membaca buku parenting. Kepo dengan berbagai macam metode mengasuh anak. Mencoba berbagai macam resep masakan. Dan pastinya dia juga belajar banyak hal yang mungkin nggak berkaitan dengan dunia setelah pernikahan. Tapi hal-hal yang dia pelajari itu justru bisa dijadikan sebagai salah satu amunisi untuk kelak dibagikan ke anaknya. Misal perempuan ini suka sekali dengan kegiatan sosial. Maka bisa saja besok ketika dia punya anak dia akan mengajari anaknya agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Atau perempuan ini amat cerdas. Pengetahuan tentang alam semesta sudah bagai Einstein saja. Maka bisa saja besok dia ajarkan ilmu itu ke anaknya sehingga anaknya lebih terbuka wawasannya tentang dunia."
"Memang mereka nggak takut ya kalo nggak laku? Kan ada tuh orang-orang tua yang bilang kalo pendidikan perempuan terlalu tinggi nanti susah cari jodoh karena banyak laki-laki yang minder."
Nilam tersenyum. "Itu berarti laki-lakinya emang nggak pantas buat perempuannya. Perempuan kan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Ya pasti ada jodohnya. Tinggal waktu aja yang bekerja untuk menyatukan mereka."
Taka mengangguk setuju.
"Lagian punya istri yang pintar dan berwawasan luas pastinya impian banyak laki-laki, kan? Sebab pendidikan pertama anak kan ada di orang tua, terutama ibunya. Pastinya laki-laki pengen istri yang model begini kan. Punya wawasan luas."
"Iya juga," Taka masih mengangguk-angguk. "Kayaknya kamu berwawasan luas deh, La. Gimana kalo kita nikah aja?" celetuk Taka tiba-tiba.
"Sembarangan," sahut Nilam cepat. Dia langsung berdiri. Tanpa menoleh ke Taka dia berjalan mendekat ke bibir pantai.
"Udah sini buruan tak fotoin mumpung senjanya mulai jelas. Sebelum aku berubah pikiran."
Taka berlari menyusul sambil tertawa lebar.
Di atas horizon tempat langit dan laut bertemu, langit tersenyum dengan jubah emasnya.
***
Tanjung, 9 Mei 2018
NB :
Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah berkunjung ke Aksara Hati. Mohon maaf jika dalam tulisan ini ada hal-hal salah.
Di episode ini ingin mengenalkan perempuan-perempuan kuat yang berani bermimpi tinggi dan mengerahkan kekuatannya untuk meraih mimpinya. Tanpa mengesampingkan kewajiban seorang perempuan, dia bangun tinggi mimpinya. Lantas ketika sudah berkeluarga dia salurkan ilmu yang diperoleh selama perjalanan menggapai mimpi ke anak-anaknya. Keren!
Jika ada masukan, kritik, saran, pertanyaan atau usulan cerita boleh sekali disampaikan di kolom komentar atau akun G+ saya :) Terima kasih.
Wassalamu'alaikum

1 komentar:
Posting Komentar