WIS NGAJI DURUNG?
"Wis ngaji durung?"
Pertanyaan itu selalu diucapkan bapak setelah pulang dari sholat
maghrib di masjid. Biasanya bapak akan bertanya seperti itu jika sepulang dari
masjid beliau menjumpai aku tengah berleha-leha di atas tempat tidur atau
khusyuk di depan hp/televisi. Ketika pertanyaan itu ku jawab dengan
"belum", maka bapak akan menyuruhku segera untuk mengaji. Kalimat
bapak pun mulai tambah panjang seiring berjalannya waktu, terlebih dengan
masuknya teknologi telepon pintar di rumahku. Yang semula hanya "Gek ndang ngaji." menjadi "Gek ndang ngaji. Ora dolanan hp wae."
Dialog seperti itu juga tidak hanya dilontarkan padaku saja. Ibu dan adikku
juga sering mendapat pertanyaan serupa.
Mengaji. Orang yang berpengaruh besar pada kemampuanku dalam
membaca deretan tulisan Arab dengan tanda fathah, kasrah, dhommah dan
sejenisnya adalah bapak. Aku Kecil pernah beberapa kali mengikuti TPA di masjid
dekat rumah. Namun karena dirasa kurang kondusif akhirnya bapak memutuskan
untuk menjadi guru ngajiku. Bersama teman satu gengku, aku diajari bapak
mengenal huruf hijaiyah. Susunan materi TPA kami juga dirancang rapi oleh
bapak. Ada pelajaran akhidah akhlak, sejarah nabi dan para sahabat, fiqh Islam,
hafalan doa dan surah juz amma, tata cara menulis huruf Arab, dan mengenal tajwid
tentu saja. Materi yang paling kami senangi adalah sejarah nabi dan para
sahabat. Kami paling senang kalau bapak mulai bercerita. Bahkan beberapa kami
sering request cerita. Pada beberapa
waktu ketika bapak menyampaikan tentang hukum apapun dalam Islam, beberapa dari
kami sering mengajukan pertanyaan.
"Kalau belum tahu dosa nggak, pak?"
"Nggak dosa."
Dan biasanya kami merasa lega dan aman mendengar jawaban itu.
Hehehe~
Awalnya murid bapak hanya sekitar 5-6 anak. Tapi semakin lama,
temanku dari dusun tetangga juga gabung. Rumahku jadi semakin ramai tiap sore
hari dalam seminggu sekali. Aku dan kelima temanku yang sudah beranjak level ke
Al Qur'an akhirnya diminta bapak untuk membantu menyimak teman lain.
Kami juga sering saling menyimak ketika hafalan surat. Berkat
ajaran bapak, lebih dari setengah juz 30 dapat kami hapal. Selebihnya kami
menghapal sendiri karena saat itu TPA di rumahku berhenti semenjak gempa
melanda.
Meski sudah tidak ada TPA di rumah, bapak tetap mengajariku
mengaji. Sebelum aku pernah mengkhatamkan Al Qur'an untuk yang pertama kali,
setiap habis maghrib bapak selalu menyimakku mengaji. Biasanya aku hanya kuat
sampai satu halaman dalam sekali baca. Tapi bapak tidak pernah protes. Tidak
juga menyuruhku untuk menambah. Seenggaknya aku sudah mau konsisten membaca
setiap hari.
Motivasi bapak agar aku bisa khatam Al Qur'an adalah ketika bapak
bilang, "Bapak pertama kali khatam Qur'an di kelas lima." Kata itu
terus diulang oleh bapak dan tanpa sadar kalimat itu menjadi dorongan
terbesarku. Pada akhirnya aku berhasil menyamakan "prestasi" dengan
bapak. Dan motivasi itu juga bapak tularkan di adikku. Meski pada akhirnya
adikku sedikit lebih lama daripada kami.
"Wis ngaji durung?"
Kalimat itu masih ditanyakan bapak sampai saat ini. Meski
frekuensinya mulai berkurang semenjak aku kuliah. Tapi sampai sekarang aku
selalu mengingatnya. Bahkan selepas maghrib jika tidak lekas mengambil Al
Qur'an di rak, rasanya ada yang kurang. Pada dasarnya, pertanyaan sederhana
bapak mengajarkan kami (aku dan adik) untuk selalu membaca Al Qur'an setiap
hari. Bapak ingin kami mencintai Al Qur'an, yang di dalamnya bisa ditemukan
ketenangan, sumber kebahagiaan, obat, dan petunjuk. Bapak secara tidak langsung
mengajarkan kami untuk menjaga hati melalui Al Qur'an.
"Wis ngaji durung?"
Pertanyaan sederhana, yang penuh makna. Semenjak aku kuliah,
kesibukanku semakin bertambah. Tugas dan laporan praktikum yang menumpuk.
Kegiatan di organisasi. Ditambah lagi dengan jarak tempuh rumah kampus yang
cukup memakan waktu dan tenaga. Awalnya aku sempat keteteran mengatur waktuku.
Sampai rumah, apalagi jika lebih dari jam sholat maghrib, aku
sering beberapa kali melewatkan waktu bersama Al Qur'an. Sebenarnya bapak
pernah bilang "kalo hari ini benar-benar nggak bisa ngaji, diganti besok
di hari selanjutnya." Aku beberapa kali mencoba menerapkan rumus itu. Tapi
pada akhirnya aku lebih sering gagal daripada berhasil.
Aku mulai gila dengan kegiatan baruku. Jadwal ngaji juga semakin
keteteran. Bahkan beberapa kali merasa biasa-biasa saja ketika melewatkan waktu
ba'da maghrib tanpa Al Qur'an. Hingga akhirnya suatu hari, ketika rasa-rasanya
napas semakin berat, aku kembali terpanggil. Aku benar-benar merasa hidupku
menjadi tidak menenangkan ketika jauh dari Al Qur'an. Lalu aku mulai mengatur
jadwal lagi. Mengambil lagi waktu ba'da maghribku untuk ngaji. Tak banyak
mungkin. Tapi semenjak itu aku bertekad tidak akan lagi meninggalkan kewajiban
satu ini. Meski minimal satu hari hanya satu lembar saja.
Aku belajar banyak dari pertanyaan sederhana bapak. Sesibuk apapun
kita dengan urusan kampus, organisasi, dan kegiatan sosial lain, tidak
seharusnya kita lupa untuk mengadakan waktu berdua bersama Al Qur'an setiap
harinya. Rasanya berat memang. Ya, aku tahu. Aku juga merasakan, dulu dan
sekarang. Godaan itu ada-ada saja. Deadline tugas yang mengejar seakan merebut
semua waktu kita untuk sejenak dalam 10-15 menit bersama Al Qur'an. Padahal
kalau saja kita mau berpikir lebih jeli, Allah memberi kita waktu 24 jam dalam
sehari semalam. Dan kita hanya butuh maksimal 15 menit saja dari 1440 menit
untuk menghayati surat cinta Tuhan. Tuhan sejujurnya tidak butuh apakah kita
membaca kitabnya atau tidak. Justru sebenarnya kita yang butuh Al Qur'an. Ngaji
akan memberikan keuntungan bagi kita sendiri. Jadi, ku rasa kurang pas rasanya
jika kita mencoba mencari keuntungan hanya dari belajar giat untuk menambah skill agar dapat pekerjaan layak dan
pendapatan bagus. Al Qur'an juga bisa mendatangkan keuntungan. Lebih bahkan.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak berkumpul suatu kaum di salah
satu rumah Allah SWT, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya,
melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, dilliputi para malaikat,
dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)
Jadi, hari ini kamu sudah ngaji belum?
:)
***
Bantul, Agustus
2016
0 komentar:
Posting Komentar