Pernah suatu hari aku
bertanya pada Mamak. Tentang kenangan yang menjadi bagian hidup setiap orang. Aku
yakin kau juga punya kenangan, yang menyenangkan maupun sebaliknya. Dan saat
itu aku hampir saja terbunuh oleh kenangan pahit yang hampir setiap detik
melukis jejak baru, ia menghujam di benakku.
“Mak, sebenarnya apa
hakikat sebuah kenangan dalam kehidupan manusia?”
Mamak tersenyum waktu
mendengar pertanyaanku. Kemudian beliau mulai menjawab dengan penjelasan
panjang.
“Kenangan dalam
kehidupan manusia itu bagaikan air dalam bentangalam yang terbentuk dari batuan
gamping atau orang lebih mengenalnya sebagai Karst. Nah, biar kumulai dulu dari
penjelasan tentang air di Karst. Kau mungkin sering mendengar tentang
orang-orang yang tinggal di daerah Karst yang selalu mengalami krisis air
bersih. Sumur yang sangat dalam, hampir tidak ada sungai permukaan dan danau
yang selalu kering ketika musim kemarau.”
“Tapi ada satu poin
yang dilewatkan banyak orang tentang Karst, Nak. Sekalipun banyak bencana
kekeringan melanda orang yang tinggal di sana, tetapi sejatinya perbukitan
gamping itu menyimpan berjuta-juta kubik air bersih di dalamnya. Ya, Karst
punya cadangan air tanah yang sangat melimpah. Air itu melimpah-ruah membentuk
sistem aliran bawah tanah, yang orang menyebutnya sebagai sungai bawah tanah. Lalu,
dari mana asal air itu hingga membentuk sebuah sistem aliran bawah tanah? Tentu
saja dari hujan. Air hujan jatuh menimpa batuan gamping, lantas melarutkannya
hingga ke dalam membentuk aliran. Aliran air itu mengalir melalui lorong-lorong
goa, yang pada akhirnya bermuara di laut lepas sebagai induk mereka. Namun
tidak sedikit dari air itu yang akhirnya menyeruak keluar sebagai mata air
melalui celah batuan atau mulut gua. Air yang keluar itupun kebanyakan memiliki
debit yang besar, Nak. Cukup untuk menghidupi kebutuhan air satu desa,” Mamak
menghela napas sejenak.
“Nah, lalu apakah ada
hubungan air di Karst dengan kenangan? Tentu saja ada. Jika tidak maka mamak
tidak akan menjelaskan sedemiakan panjang lebar dari awal,” Mamak tersenyum
lebar melihat raut wajahku yang penuh antusias.
“Jadi begini, Nak.
Sama halnya dengan perbukitan gamping, manusia itu punya banyak hal yang
tersembunyi di balik penampilan luar maupun sikapnya, yaitu kenangan. Jika air
di perbukitan gamping datang dari hujan, maka kenangan di kehidupan manusia
datang dari pengalaman. Pengalaman yang dialami manusia itu sendiri semasa
hidupnya. Kenangan itu tersimpan rapat di dalam pikiran dan hati manusia. Hanya
saja pengalaman yang terus menerus dialaminya setiap hari membentuk kenangan
baru. Kenangan baru itu terus menumpuk kenangan lama yang sebelumnya telah
terbentuk. Itulah sebabnya tidak setiap orang mampu mengingat hal-hal lalu yang
pernah dilaluinya dengan sangat baik,” saat menjelaskan ini nada bicara Mamak
terdengar lebih lembut dan pelan.
“Tapi tak jarang dari
banyaknya kenangan itu, ada satu dua atau lebih kenangan yang menyeruak tanpa
diminta. Itu lah air yang keluar melalui goa. Ia terus mengalir tanpa sekalipun
kita menuntut untuk mengingatnya. Sekalipun lubang itu kau coba sumbat, akan
ada jalan lain dari kenangan itu untuk menyeruak melalui celah kecil.”
“Nah, sebab kenangan
itu telah sempurna menyeruak keluar, maka sepantasnya manusia memanfaatkannya dengan
baik, layaknya orang-orang di perbukitan gamping yang memanfaatkan air untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika kenangan yang keluar berasa manis, kau
dapat berceburan riang di dalamnya. Menikmati tiap tegukan bahagia yang pernah
kau rasakan sebelumnya. Tapi jika kenangan yang keluar itu berasa pahit kita
dapat memanfaatkannya dengan cara menyuling pelajaran manis di baliknya. Jadi
kita akan mendapatkan bekal berharga untuk mengukir kenangan selanjutnya.”
Itu saja pesan mamak
waktu itu. Jawaban ini sekaligus mengakhiri semua kisahku tentang makna
kehilangan dan arti sebuah kenangan.
Tutup buku.
Ya, aku punya
kehidupan untuk dilanjutkan.
***
eLKa (0115)
0 komentar:
Posting Komentar