KENANGAN (#2)

Pernah suatu hari aku bertanya pada Mamak. Tentang kenangan yang menjadi bagian hidup setiap orang. Aku yakin kau juga punya kenangan, yang menyenangkan maupun sebaliknya. Dan saat itu aku hampir saja terbunuh oleh kenangan pahit yang hampir setiap detik melukis jejak baru, ia menghujam di benakku.
“Mak, sebenarnya apa hakikat sebuah kenangan dalam kehidupan manusia?”
Mamak tersenyum waktu mendengar pertanyaanku. Kemudian beliau mulai menjawab dengan penjelasan panjang.
“Kenangan dalam kehidupan manusia itu bagaikan air dalam bentangalam yang terbentuk dari batuan gamping atau orang lebih mengenalnya sebagai Karst. Nah, biar kumulai dulu dari penjelasan tentang air di Karst. Kau mungkin sering mendengar tentang orang-orang yang tinggal di daerah Karst yang selalu mengalami krisis air bersih. Sumur yang sangat dalam, hampir tidak ada sungai permukaan dan danau yang selalu kering ketika musim kemarau.”
“Tapi ada satu poin yang dilewatkan banyak orang tentang Karst, Nak. Sekalipun banyak bencana kekeringan melanda orang yang tinggal di sana, tetapi sejatinya perbukitan gamping itu menyimpan berjuta-juta kubik air bersih di dalamnya. Ya, Karst punya cadangan air tanah yang sangat melimpah. Air itu melimpah-ruah membentuk sistem aliran bawah tanah, yang orang menyebutnya sebagai sungai bawah tanah. Lalu, dari mana asal air itu hingga membentuk sebuah sistem aliran bawah tanah? Tentu saja dari hujan. Air hujan jatuh menimpa batuan gamping, lantas melarutkannya hingga ke dalam membentuk aliran. Aliran air itu mengalir melalui lorong-lorong goa, yang pada akhirnya bermuara di laut lepas sebagai induk mereka. Namun tidak sedikit dari air itu yang akhirnya menyeruak keluar sebagai mata air melalui celah batuan atau mulut gua. Air yang keluar itupun kebanyakan memiliki debit yang besar, Nak. Cukup untuk menghidupi kebutuhan air satu desa,” Mamak menghela napas sejenak.
“Nah, lalu apakah ada hubungan air di Karst dengan kenangan? Tentu saja ada. Jika tidak maka mamak tidak akan menjelaskan sedemiakan panjang lebar dari awal,” Mamak tersenyum lebar melihat raut wajahku yang penuh antusias.
“Jadi begini, Nak. Sama halnya dengan perbukitan gamping, manusia itu punya banyak hal yang tersembunyi di balik penampilan luar maupun sikapnya, yaitu kenangan. Jika air di perbukitan gamping datang dari hujan, maka kenangan di kehidupan manusia datang dari pengalaman. Pengalaman yang dialami manusia itu sendiri semasa hidupnya. Kenangan itu tersimpan rapat di dalam pikiran dan hati manusia. Hanya saja pengalaman yang terus menerus dialaminya setiap hari membentuk kenangan baru. Kenangan baru itu terus menumpuk kenangan lama yang sebelumnya telah terbentuk. Itulah sebabnya tidak setiap orang mampu mengingat hal-hal lalu yang pernah dilaluinya dengan sangat baik,” saat menjelaskan ini nada bicara Mamak terdengar lebih lembut dan pelan.
“Tapi tak jarang dari banyaknya kenangan itu, ada satu dua atau lebih kenangan yang menyeruak tanpa diminta. Itu lah air yang keluar melalui goa. Ia terus mengalir tanpa sekalipun kita menuntut untuk mengingatnya. Sekalipun lubang itu kau coba sumbat, akan ada jalan lain dari kenangan itu untuk menyeruak melalui celah kecil.”
“Nah, sebab kenangan itu telah sempurna menyeruak keluar, maka sepantasnya manusia memanfaatkannya dengan baik, layaknya orang-orang di perbukitan gamping yang memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika kenangan yang keluar berasa manis, kau dapat berceburan riang di dalamnya. Menikmati tiap tegukan bahagia yang pernah kau rasakan sebelumnya. Tapi jika kenangan yang keluar itu berasa pahit kita dapat memanfaatkannya dengan cara menyuling pelajaran manis di baliknya. Jadi kita akan mendapatkan bekal berharga untuk mengukir kenangan selanjutnya.”
Itu saja pesan mamak waktu itu. Jawaban ini sekaligus mengakhiri semua kisahku tentang makna kehilangan dan arti sebuah kenangan.
Tutup buku.
Ya, aku punya kehidupan untuk dilanjutkan.
***
eLKa (0115)

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top