Sebuah malam.
Lengkap dengan langitnya yang ramai dengan kumpulan gemintangnya. Tepat di ufuk
barat, sabit tipis melengkung manis. Tepat di tempat surya tadi melambaikan
tangannnya. Dan di bawah mereka seorang Mamak tengah mengelus kepala anaknya yang
ditidurkan di pangkuannya. Sembari mata mereka menatap dalam lukisan alam.
“Hei, Nak. Apa kamu
tahu apa itu komet?” tanya Mamak lembut.
“Tentu saja aku
tahu, Mak. Benda langit berekor panjang yang terang dan hanya di waktu khusus
saja ia menampakkan rupa,” jawab anak bersemangat.
Mamak mengangguk
seraya tersenyum. “Tapi apa kau tahu apa itu komet hiperbola?” lanjut mamak
masih dengan senyumnya.
Sang anak
mengernyitkan kening. “Apa, Mak?”
“Komet hiperbola
adalah komet yang mengorbit dengan bentuk orbit hiperbola. Kau tahu bentuk
hiperbola, kan? Nah tahun lalu ada satu komet hiperbola yang mendekati
bumi. Tapi karena orbitnya yang spesial, ia hanya akan melintas di
dekat bumi sekali seumur hidupnya, sebelum ia kembali melanglang buana di angkasa sana,” terang Mamak.
“Eh? Jadi dia hanya
sekali saja
mendekati bumi? Setelah itu pergi?”
“Iya, Nak. Hanya
sekali saja seumur hidupnya.” Jawab Mamak seraya tersenyum. Nah kalo tahun ini ada komet hiperbola mendekati bumi
lagi, apakah kau mau menyambutnya untuk pertama dan terakhir kali?”
“Tidak, Mak! Tidak
akan pernah!” anak itu menggeleng tegas.
“Tapi kenapa, Nak?
Itu fenomena langka di bumi.”
“Sebab aku tidak
suka dengan orbitnya yang hiperbola. Jika memang demikian, maka ia hanya akan merajut kisah dengan bumi sekali. Apa mamak tidak
terpikir, bagaimana jika dalam waktu singakt itu bumi justru menaruh rasa besar
terhadap komet itu. Bukankah perasaannya akan sia-sia, Mak? Sebab komet itu hanya berkunjung sekali. Sebelum bumi sempat memiliki, mungkin komet
sudah melenggang pergi. Itu sangat menyakitkan, Mak.”
Mamak tersenyum
mendengar tutur kata anaknya. Tangannya yang mulai keriput tetap membelai
lembut. “Kau benar. Mungkin itu akan sangat menyakitkan bagi bumi. Tapi, mamak pikir, kau jauh sekali melayangkan imajinasi. Bumi
hanya benda mati. Kalaupun hidup ia tak punya hati.”
Anak itu tetap menggeleng tegas. Matanya
tajam menatap langit seolah di sana ada komet hiperbola yang melintas dengan
ekor panjangnya. “Tidak Mak. Aku tidak terlalu jauh berimajinasi. Sebab
kisah bumi itu bukan rekaan pikiran. Ia sungguh ada. Dan aku bumi yang
ditinggal komet setelah kunjungan singkatnya.”
***
ehm... lagi heboh-hebohnya ngomongin komet Lovejoy ya? :D well, upload juga ahh =w=)d tulisan lama yang kebetulan menggabungkan antara Karya Fiksi dengan Astronomi. Ngomongin soal inspirasi, tulisan ini terinspirasi dari komet ISON yang tahun 2013 lalu pedekate ke bumi terus pergi lagi ^^"

0 komentar:
Posting Komentar