Ketika malam datang bersama bentangan jubah hitamnya yang telah
dicuci oleh semburat jingga. Sehingga tak satu pun kapuk hitam menempel. Ketika kakimu menapaki
bumi di setengah bulan. Cobalah tengok ke atas. Apa yang tampak olehmu? Taburan
titik-titik putih yang bercahaya seraya bermain mata padamu. Berkelompok
membentuk bermacam-macam formasi nan elok. Indah. Cantik. Genit. Membuat setiap
pasang mata yang memandang tercuri hatinya.
Lalu, sekarang coba tengok di tempat kau temukan cahaya di pagi
hari. Apa yang tampak olehmu? Sebuah benda bulat sempurna berpendar. Sempurna
tergantung di atas horizon. Indah. Teramat indah. Menawan. Teramat menawan.
Pancaran cahayanya salurkan berjuta-juta energi damai. Menembus kulit-kulit lalu
tertancap di setiap hati sang pengamat. Sungguh, kau teramat sempurna membuat
makhluk-Nya jatuh cinta.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Ketika sebutir mutiara itu semakin bergeser ke atas, lalu tepat di zenit
hingga akhirnya tergantung di atas horizon barat. Apa yang tampak olehmu? Si
kecil permata-permata itu terlihat meredup ketika bersanding dengan bola
berpendar itu. Tak ada daya
melawan cahaya semu pada bola itu. Dia
sadar. Dia terlampau jauh. Tak ada protes. Tak ada sesal bahkan kesal. Tetap
berkelip ikhlas. Tanpa secuil pun
beban. Mengalah.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Dia sadar bulan telah merebut waktunya. Dia sadar bulan telah
merebut kesempatannya. Dan ia memberikan kesempatan itu. Meski
dia tak tahu akankah dia mendapatkan
kesempatan lagi atau tidak. Meskipun Tuhan memberi tahu bahwa itu adalah
kesempatan terakhirnya. Apakah kau merasakan pesan yang disampaikan Tuhan
melalui dua ciptaan-Nya itu?
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Belajarlah dari bintang. Yang
ikhlas ketika dia harus kehilangan
kesempatan. Yang yakin akan rencana-rencana Tuhan yang telah Ia gariskan
untuknya. Yang tak resah karena takut
kalah ketika ia mengalah. Dia tetap terus berkelip meski bulan merenggut
perhatian berjuta-juta pasang mata melalui pesonanya. Ia tetap tabah.
Menyediakan tempat untuk bulan.
Karena dia tahu tempat yang ditempatinya faktanya bukanlah miliknya. Karena dia
tahu keindahan yang ada dalam dirinya faktanya tak akan selamanya bertahan.
Karena dia tahu pada saatnya ia pun akan hancur menjadi supernova maupun nova.
Bintang pun mengalah untuk bulan.
Bukan karena (faktanya) ia memiliki cahaya sendiri sedangkan bulan
hanya menerima cahaya dari matahari. Bukan karena (faktanya) ia jauh lebih
besar jika dibandingkan dengan bulan. Bukan karena (faktanya) ia lebih panas
dari bulan. Tapi karena dia tahu, ada hari-hari lain setelah itu, yang membuatnya
tersenyum ikhlas kala berbagi waktu.
Smada,
3 Januari 2012
BINTANG
“Aku mengalah untuk bulan”
-eLKa
Keyongan Kidul, 2 Juni 2011
0 komentar:
Posting Komentar