HIJRAH

"Apakah kau mendapatkan ujian dalam proses hijrahmu?"
Pertanyaan umum.
Pertanyaan yang selalu ditanyakan orang-orang.
Apa aku pernah mengalaminya? Selama manusia hidup di dunia sudah pasti akan diuji, Kawan. Duduklah sebentar. Aku punya kisah menarik tentang perjalanan hijrah seorang manusia.
*
Aku dulu adalah manusia yang ditempa dari tempat kotor. Keseharianku habis untuk menelan kotoran dunia. Waktuku habis untuk kebusukan yang terus menguar pada tiap langkah. Telingaku hanyalah pajangan. Mataku hanyalah hiasan. Pikiranku hanyalah mesin karatan yang berderit tiap dipaksa memintal logika. Terlebih hatiku. Hanya segumpal daging berdarah yang sekarat. Tiada lagi bagian dari tubuh ini yang berfungsi. Aku bagaikan mayat yang dipaksa hidup lagi. Berjalan terhuyung ke sana ke mari tak tahu arah. Tak bisa merasa. Tak mampu berpikir.
Hingga akhirnya langit turun padaku. Ada tangan yang merengkuhku. Awalnya keraguan menyerap. Tapi Dia lantas bilang, "Ikutlah dengan-Ku. Akan ku tunjukkan suatu hal yang pasti kau sukai."
Aku menurut. Mengikuti Dia dengan pakaian serba lusuh dan tubuh yang terbalut kotoran penuh. Ada satu titik yang berpendar di hatiku saat itu. Titik itulah yang menggerakkan kakiku melangkah maju. Mengikuti Dia meski sebagian besar tubuhku ribut bertanya, "Mau kemana kita?"
Singkat cerita, akhirnya aku keluar dari kematian. Kembali hidup. Aku tiba di sebuah tempat yang di dalamnya ada banyak orang berbaju putih. Salah seorang mengampiri dan memberiku pakaian putih. Dia bilang aku boleh memilikinya. Ia juga memintaku untuk membersihkan diri di sebuah mata air bening yang saking beningnya aku bisa melihat pantulan pendar hatiku berdenyut hebat di situ. Mata air ini wangi bagaikan parfum yang menyusup keluar dari rekahan batuan. Baju baru yang ku pakai juga tak kalah wangi. Dan sejak itulah aku mulai merasa cahaya di hatiku berpendar semakin terang. Hatiku sudah kembali hidup.
Aku menemukan hidup baru. Telingaku kembali berfungsi. Pun mata, pikiran, tangan, dan kaki. Mantap sekali kaki ku langkahkan dengan bibir melantunkan kalimat pujian. Langkahku tegap. Tekadku bulat terarah pada tujuan hidup yang telah ku dapat.
Tapi tiba-tiba alam berbalik muka. Wajahnya yang semula ramah padaku beralih menjadi seringai mengerikan. Entah dari mana datangnya, sudah ada mata-mata yang menatapku seolah aku adalah kutu. Bisik-bisik yang keluar dari mulut dan pikiran mereka, mencabik-cabik tekadku yang masih ku besarkan. Situasinya gawat sekali. Aku bagai berdiri di atas batu karang di tengah lautan. Ombak dari segala arah datang menerjang. Berusaha melemahkan kakiku agar terhuyung dan jatuh di telan gelombangnya. Berkali-kali kakiku dijilat ombak. Menarik. Menghempas. Astaga tenaga mereka kuat sekali. Pakaian putihku sudah basah. Beberapa bahkan robek lantaran tergores buih ombak yang tajam.
Aku sudah jatuh jika cahaya di hatiku tidak membantuku bertahan. Dalam kesakitan dan luka yang saling berdesakan, aku meneriakkan nama-Nya. Ia ku sebut berkali-kali.
"Tuhan, jika jalan ini yang Kau suka mohon bantu diri ini untuk tetap berdiri."
*
Apakah ujian ada ketika seseorang berusaha untuk hijrah?
Jawabannya tentu saja ada, Kawan. Mau bagaimana pun selama kita hidup pasti akan diuji oleh Dia yang memiliki semesta.
Lantas apa yang membuat seseorang teguh untuk tetap maju meski ujian itu hampir membunuhnya?
Biar ku beri tahu rahasianya.
Seseorang yang bisa bertahan dalam proses hijrahnya adalah mereka yang sejak awal sudah memantapkan hati pada jalan yang ditapaki. Sejak awal melangkah ia bangun kepercayaan pada Tuhan. Ia percaya pada Tuhan. Dan dia tidak hanya percaya saja tapi mempercayakan hidupnya pada Tuhan. Itu lah rahasianya, Kawan. Dia percaya bahwa Tuhan selalu mencintai manusia lebih besar daripada cinta manusia pada-Nya. Dan Tuhan Maha Penyayang. Dia tidak akan membiarkan seseorang susah payah sendirian berjalan menuju-Nya. Dia tidak akan pernah diam saja jika melihat ada orang yang kesulitan berjalan pada-Nya. Pasti Dia akan ulurkan tangan. Pasti Dia akan menuntun pada jalan terang. Sebab (sekali lagi), 
"Dia mencintaimu lebih besar dari cintamu pada-Nya."
Kau hanya perlu bilang dengan penuh kerendahan, "Tuhan, aku sedang berjuang menuju-Mu. Mohon tolong aku biar aku bisa sampai pada-Mu."

"Apakah kau mendapatkan ujian dalam proses hijrahmu?"
Iya aku berkali-kali diterjangnya. Tapi, cinta yang ku punya tidak pernah terasa menyakitkan sejak bersanding dengan-Nya.
***

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”
(HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).


-Februari, 2016-
Mutiara Ha(ya)ti

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top