PENDIRIAN

"Aku menyukaimu." lelaki di depanku menatap mataku tanpa berkedip. Ada seberkas gurat kejujuran dan pengharapan yang ku tangkap.
Tapi hal itu tidak menggoyahkanku. Pendirian ini tetap. Meski baru saja dibangun tapi tidak akan ku biarkan orang lain menghancurkannya. Sekalipun lelaki di depanku. Lelaki yang sudah hampir setahun mencuri malamku dan membuat tanganku tak lelah menuliskan puluhan puisi untuknya.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
Ku lempar mataku ke samping. Khawatir jika dengan menatap matanya hanya akan menyulut iba dari hatiku dan berujung pada runtuhnya pendirianku.
"Dengar. Perasaan boleh jadi adalah kepastian. Tapi masa depan tetap menjadi sebuah ketidakpastian. Kau boleh bilang kalau kau mencintaiku sekarang, tapi kita tetap tidak bisa memastikan apakah ke depannya akan tetap sama."
"Apa salahnya mencoba? Bukankah cinta adalah kekuatan? Kau dan aku bisa saling menguatkan. Lagipula bukan kah Tuhan meminta kita untuk terus berusaha? Apa salahnya jika dengan kita bersama ini lah yang menjadi usaha kita dalam merayakan cinta."
"Cinta tidak bisa sembarang dirayakan. Kau harus lihat dulu apakah cinta itu sudah berdiri di hati yang tepat atau belum. Kau tahu? Bahkan beberapa orang mampu merayakan cinta dalam diam. Merayakan cinta sendirian sebelum waktu menjawab semua." suaraku sedikit meninggi. Dan lelaki di depanku diam sejenak.
"Tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu, Re." suara lelaki itu melembut.
"Kalau kau memang mencintaiku, maka cintailah aku dengan keikhlasan."
"Aku ingin kau ada di sampingku, Re."
Ku hembuskan napas berat. Urusan ini rumit. Tapi segala permulaan memang tidak mudah. Terlebih permulaan untuk hal yang baik. Satu-satunya yang membuatku teguh adalah keyakinanku pada Tuhan yang memilikiku.
"Dengar. Kalau kau memang menginginkan hatiku, jangan minta padaku. Aku ini sekalipun yang memiliki hati tetap tidak sanggup mengontrol tiap rasa. Mintalah hatiku pada Tuhan jika kau memang ingin. Percayalah jika Tuhan mengabulkan permintaanmu, Dia akan membawaku kembali padamu."
Setelah berkata demikian, lelaki di depanku tiba-tiba menangis. Aku hanya bisa tertunduk. Menyebut nama Tuhan berkali-kali biar teguhku tidak mati.
***
Bantul, 5 Maret 2016
Mutiara Ha(ya)ti

*diilhami dari kisah seseorang

CONVERSATION

2 komentar:

Back
to top