“Pagi, Spica,” sebuah sapaan menghampiri Spica pagi ini, ketika
semburat surya masih setengah di cakrawala.
Perhatian Spica pada roti isi daging yang tengah ditata di rak
teralihkan pada pemuda yang baru saja menyapanya. Demi menghargai sapaannya,
Spica menyambut singkat dengan anggukan kepala lantas kembali melanjutkan
menata roti di rak.
“Seperti biasa ya, Spica. Paket spesial,” pemuda itu tersenyum
lebar pada Spica yang hanya menatapnya tanpa balasan senyuman.
Pemuda ini adalah pelanggan setia toko roti keluarga Spica. Dia
bekerja sebagai kelasi kapal dagang yang waktu seminggu hingga dua minggunya habis untuk
mengantarkan puluhan ton gandum dan bahan pangan mentah lainnya hingga ke
negera tetangga yang jaraknya beratus-ratus mil jauhnya. Hampir setiap pagi
ketika kembali ke kota, ia selalu menyempatkan datang ke toko roti untuk
membeli sarapan. Tiga potong roti isi daging adalah kesukaannya.
Dua hari yang lalu pemuda ini baru saja pulang dari negeri timur.
Dan pagi ini ia datang sebagaimana hari-hari biasanya ketika tengah berada di
kota ini. Membeli roti untuk sarapan.
“Tiga hari lagi aku akan berlayar, Spica.” seperti biasa pemuda
itu mulai bercerita tanpa diminta. Itu adalah rutinitasnya di toko roti selain
membeli paket roti kesukaannya. “Tapi ini berbeda dengan biasanya. Pelayaran
besok akan menjadi pelayaran paling lama yang akan ku lakukan. Pemilik kapal
mendapatkan pesanan untuk mengantar bahan pangan ke sebuah negara di benua
paling jauh dari kota kita. Butuh berbulan-bulan untuk tiba di negara itu dan
kembali lagi ke kota ini. Jadi, ku rasa kau harus membuatkanku berkarung-karung
roti daging untuk bekalku selama beberapa bulan ke depan.” Pemuda itu lantas terkekeh
sendiri dengan omongannya.
Spica hanya terdiam mendengar ocehan temannya. Tangannya cekatan
memasukkan tiga potong roti daging ke dalam kantong kertas.
“Bagaimana menurutmu, Spica?” tanya pemuda itu. Ia paham, gadis
yang sudah dikenalnya sejak ia pindah di kota ini tujuh tahun yang lalu, tidak
akan berbicara jika tidak dipancing pertanyaan.
“Asal kau senang, itu bagus buatmu.”
Pemuda itu kembali terkekeh senang mendengar pendapat Spica,
sekalipun ketika mengatakannya tetap tak ada senyuman di wajah Spica.
“Kalau begitu kau harus benar-benar membuatkanku bekal roti selama
perjalanan berbulan-bulan nanti, ya. Aku tidak bisa jika harus menunggu
berbulan-bulan untuk dapat menikmati roti buatanmu lagi.”
Spica menyodorkan sekantong roti pesanan pemuda itu yang langsung
diterima dengan raut senang.
“Ah, iya kalau tidak salah kau sebentar lagi ulang tahun, ya?
Berapa umurmu nanti? Dua puluh empat, kan?” celetuknya tiba-tiba.
Spica mengangguk pelan. Ia sudah hendak melanjutkan pekerjaannya
ketika pertanyaan pemuda itu kembali terlepas.
“Bukankah kau sudah harus segera menikah? Ku dengar kau
berkali-kali menolak lamaran yang datang.”
Gerakan kaki Spica spontan terhenti. Ruang dadanya mendadak
seperti ditekan kuat hingga rasanya sesak untuk bernapas. Hatinya meletup-letup
dan setiap letupannya menyeruakkan aroma kepahitan dalam rongga jiwanya. Udara
di ruangan seperti lenyap terhempas pertanyaan pemuda di depannya. Ia jadi
sulit sekali bernapas. Tapi ia bertahan dalam sesak sebagaimana ia yang selalu
menahan tangisnya.
“Bagaimana mungkin aku menikah?” suara Spica hampir tertelan kebisingan
di luar toko. “Jika…” kalimatnya menggantung di ujung bibirnya.
“Jika apa?”
Suara langkah kaki kuda yang lewat di depan toko sejenak mengisi ruangan
berukuran 4 x 4. Pemuda itu menatap lekat mata Spica yang lurus menatap lantai.
“Jika apa, Spica?” pemuda itu mengejar. Suaranya mendadak lembut.
Seolah hendak menyentuh rahasia Spica yang diletakkan di palung hatinya.
“Jika kau ke mari hanya untuk membeli roti, bukan untuk
menjemputku menjadi istrimu sampai nanti.”
Kalimat itu dikatakannya berkali-kali. Tapi sayangnya ia keluar
dari mulut hati.
*
“Aku akan bilang padanya untuk segera melamarmu, Spica,” ujar
Capella dengan nada yakin.
“Jangan, Capella. Ku mohon jangan lakukan itu,” cegah Spica.
“Waktumu hampir habis, Spica. Dua hari lagi ulang tahunmu. Kalau
kau tak lekas bilang padanya, bisa lebih besar urusannya. Dua hari lagi dia
juga akan pergi. Kau sendiri dengar darinya kan, pelayarannya kali ini akan
memakan waktu sangat lama. Kau mau menunggu dia sampai kapan?”
Spica tertunduk. Dadanya sesak. Apa yang dikatakan Capella memang
ada benarnya. Tapi ada hal lain yang membuatnya bertahan dalam penantian.
Perasaan yang dirasakannya entah kenapa benar-benar menguatkannya untuk tetap
duduk dalam posisi sama.
“Sampai dia datang melamarku.”
“Iya, tapi kapan dia akan datang melamarmu? Kau hampir kehabisan
waktu. Permudah saja lah, Spica. Kau bilang padanya lalu dia akan datang
melamarmu. Kalian menikah. Dan kau akan selamat dari mitos itu.”
Spica menggeleng kuat.
“Tidak, Capella. Mau sampai kapan pun, aku akan tetap menunggunya.
Biarkan cintaku ini berjalan sesuai kodratnya. Aku tak ingin merusak
keindahannya dengan bilang pada dia,”
“Tapi bagaimana dengan waktumu, Spica? Bagaimana dengan mitos
itu?”
“Kesialan tidak akan menghentikanku untuk terus berusaha setiap
hari. Akan ku jabat kesialan itu. Barangkali hati Tuhan akan luluh dan
membuatkanku takdir yang baru.”
Capella mengusap wajahnya yang kebas. Ia sudah kehabisan kata-kata
untuk menembus benteng keteguhan sahabatnya. Bertahun-tahun mereka bersahabat,
Capella tak pernah melihat Spica seteguh ini mempertahankan prinsipnya.
“Cinta memang akan terasa lebih indah ketika akhirnya memiliki.
Tapi jika ternyata aku tidak bisa memiliki setidaknya aku pernah merasakan
indahnya menanti dan mencintai. Aku selalu bahagia dengan penantianku.
Sekalipun menyesakkan, tapi aku tidak pernah sekalipun merasa keberatan
merasakannya,” kata Spica dengan senyum lembutnya.
Ia lantas menolehkan kepalanya pada sahabatnya. Dengan tatapan
penuh pengharapan matanya menyentuh hati Capella.
“Ku mohon jangan pernah katakan semua ini padanya, Capella. Kau
tak perlu mengkhawatirkanku atau masa depanku. Ini adalah hidupku. Biarkan aku
yang memegang kendalinya. Aku hanya butuh kau untuk selalu di sampingku sampai
kapanpun. Aku bahagia hidup dengan prinsipku. Kau senang melihatku bahagia,
kan? Jadi, berjanjilah padaku, kau tak akan pernah mengatakannya.”
Gadis dengan rambut bergelombang itu diam sejenak. Tapi demi
melihat pancaran sinar keyakinan dari mata sahabatnya, akhirnya ia mengangguk.
“Ya, aku berjanji.”
Senyum Spica semakin lebar mendengarnya.
Penantian itu tetap berlanjut.
-bersambung-
Keyongan, 28 Maret 2016
Mutiara Ha(ya)ti
Pesan Hayati:
Terima kasih sudah mengikuti "Perempuan Paling Nekat"~ ^^
Mohon kritik dan sarannya untuk tulisan saya selanjutnya :3
Terima kasih ^^
Terima kasih ^^
Pic, tunggu aja dulu umurmu 25an. Baru kasih kode tuh si om. hahahaaa...
BalasHapus