Di sebuah kota kecil di sebuah negara. Hiduplah seorang perempuan
yang belum lama merayakan ulang tahunnya. Ia amat cantik jelita. Kulitnya berkilauan bak setiap hari dibalut permata. Rambutnya hitam lebat selalu tergerai membuat
ia nampak seperti seorang putri. Matanya lentik bersinar bak ada bintang yang
bersemayam di bola matanya.
Ia kini sempurna di usia yang matang bagi seorang perempuan di
negara itu untuk menikah. Berkali-kali pemuda datang untuk melamarnya. Dari
buruh di pasar hingga pedagang kaya raya dari negeri seberang. Semua datang
membawakan janji dan harapan. Tapi, tak satu pun dari pemuda itu yang
diterimanya.
Bahkan di tahun selanjutnya. Saat ia sudah bukan lagi perempuan
berumur 22. Semakin banyak pemuda yang menawarkan diri untuk mendampinginya
sehidup semati. Tapi hal itu sebanding dengan penolakan yang ia putuskan.
Alasan? Ia selalu enggan menjawab setiap kali ditanya. Ibu dan ayahnya hingga
dibuat resah. Di kota mereka mitos itu masih sangat kental. Jika seorang anak
gadis belum menikah di usia 24, kehidupannya akan penuh dengan kesialan.
Setengah tahun menuju usia 24. Perempuan itu tetap selalu
menggeleng pada lelaki yang melamarnya. Orang tuanya semakin pasrah.
"Pemuda seperti apa yang kau impikan untuk menjadi suamimu,
Spica?" tanya ibu suatu hari.
Perempuan yang dipanggil Spica itu tersenyum. "Tidak ada syarat khusus, Bu."
Sebulan menjelang ulang tahunnya. Akhirnya orang tua perempuan itu
menyerah. Mereka datangkan sahabat karib anaknya untuk menanyakan apa yang
sebenarnya diinginkan.
"Spica, katakan padaku kenapa kau selalu menolak lamaran
laki-laki?"
"Aku tidak ingin menghabiskan sisa waktuku bersama dengan
salah satu dari mereka."
"Lantas siapa yang kau inginkan?"
Spica hanya terdiam. Angin pukul 5 sore memainkan ujung rambutnya
yang tergerai.
Melihat Spica yang hanya terdiam, emosi sahabatnya tersulut. Suaranya
mulai meninggi.
"Kau sudah hampir dua empat, Spica! Sebentar lagi batas itu
terlampaui. Dan sampai sekarang kau tidak menunjukkan tanda-tanda akan menikah.
Bahkan lamaran terakhir dari seorang laki-laki pemusik di kota sebelah kau tolak
mentah-mentah. Anak saudagar kaya raya ditolak bahkan sebelum kau lihat
wajahnya. Kau sudah hampir dua empat, Spica! Tidakkah kau resah dengan waktumu
yang semakin sedikit? Bukan kah kau sendiri yang bilang padaku bahwa mitos itu
sungguh ada. Lantas kenapa kau selalu menolak lamaran, Spica?!" Ia hampir
di ujung keputusasaan pada sahabatnya yang masih melajang sampai saat ini.
“Aku sedang menunggu seseorang, Capella.”
“Seseorang? Siapa laki-laki yang kau tunggu?”
Spica menyebut nama seorang laki-laki yang langsung disambut
pekikan tertahan dari Capella.
“Apa? Kau sungguh menunggunya?”
Spica mengangguk. “Ya, aku menunggunya datang menjemputku.”
“Lantas kapan dia akan datang? Dia gila apa? Ini sudah hampir ulang
tahunmu tapi sampai sekarang dia tidak datang melamarmu.”
“Aku tidak tahu kapan dia akan datang,” jawab Spica tenang, tidak
terusik dengan raut kesal di wajah sahabatnya.
“Apa?!”
“Aku tidak pernah bilang padanya kalau aku menunggunya. Dia tidak
tahu. Tapi aku akan terus menunggunya.”
“Kau gila! Astaga, Spica! Baru kali ini ku dengar ada orang
senekat dirimu menunggu lamaran seseorang yang bahkan orang itu tidak tahu
kalau sedang ditunggu. Kau ini perempuan, Spica! Pe-rem-pu-an. Makhluk paling
perasa di muka bumi. Makhluk yang paling mudah patah hati. Makhluk yang paling
rentan dalam urusan hati. Kau sadar tentang hal itu kan, Spica?”
“Aku sepenuhnya sadar, Capella.”
“Lantas kenapa kau tetap menunggunya sampai saat ini? Baiklah,
kalau kau tetap bersikukuh menunggunya. Tapi setidaknya beri tahu dia kalau kau
duduk di sini menanti kehadirannya. Jadi kau tak perlu meneguk kepahitan setiap
hari.”
“Aku senang menelan semua kepahitan dalam penantianku ini,
Capella. Setidaknya hal ini menyadarkan bahwa aku masih hidup.”
Capella mengepalkan tangannya. Ia tampak gemas sekali dengan
sahabatnya yang nekat berbuat hal paling mengerikan.
“Kalau caramu begini, kau hanya hidup untuk kemudian mati hati,
Spica.”
“Aku akan tetap menunggu bahkan jika itu membawa kesialan paling
sial di hidupku.”
“Lantas apa yang membuatmu bertahan dalam penantian ini?”
“Aku tidak tahu. Yang ku tahu, aku mencintainya. Entah bagaimana
perasaannya padaku. Tapi hatiku setiap hari mengatakan bahwa dia mencintaiku.
Meski separuhnya lagi tak yakin dengan kalimat itu. Aku mencintainya. Itu saja
yang ku tahu.”
Langit mulai dibalut lembayung senja.
“Apa yang kau lakukan sekarang sangat berisiko, Spica. Hanya ada
dua kemungkinan untuk seluruh penantianmu. Dia sungguh datang padamu atau dia
tidak datang sama sekali. Tentu saja kau pasti menginginkan jawaban paling
manis. Tapi apa kau sudah mempertimbangkan jawaban terburuknya? Aku tak sanggup
melihatmu menangis jika ternyata dia tidak datang, Spica.” Capella menggenggam
tangan sahabatnya lembut.
“Aku hanya akan menangis untuk satu hal.”
“Apa?”
Spica kembali terdiam. Matanya lurus menatap senja seolah di
sanalah ia simpan keteguhan.
-bersambung-
Bantul, 13 Maret 2016
Mutiara Ha(ya)ti
Aaaaaaaaak~ 😆
BalasHapus