LAUT

Kekasih, terbuat dari laut kah engkau?
Kenapa aku hanya kuasa merabamu dengan mataku
Itupun jika Langit menggiring kita di satu titik sama
Bicara padamu pun bagaikan melihat
gerombolan lumba berkejaran di bawah siraman senja
Jarang, Kekasih
Terlebih bisa duduk di dekatmu
Bagaikan menemukan mutiara di kerang keberuntungan
Tidak selalu, Kekasih
Hanya jika Langit dan Bumi mengangguk untuk seikat sepakat

Kekasih, terbuat dari laut kah engkau?
Kenapa aku tak punya celah untuk menyelami dalamnya hatimu?
Apakah sungguh pintu samudramu tertutup untukku
Kenapa mereka kau izinkan masuk
sedang aku hanya mampu menatap dari bibir pantai, meratap
Menghitung butir pasir untuk membunuh waktu yang menginjak-injak teguhku
Aku ingin berlayar menujumu
Tapi meskipun terkadang Langit telah menyanggupi,
kau justru melengos,
lantas menghempaskan perahu ku kembali ke tepi

Kekasih, terbuat dari laut kah engkau?
Aku inign menikmati fajar bersamamu
Menyambut selarik cahaya pertama yang menyapa
Memeluk ombakmu ketika siang menyulut tenagamu
Mengantar senja pada malam bersamamu
Dan menyeruput malam dengan ketenangan sukmamu

Apakah kau sungguh tak izinkan aku menyelami palungmu
Atau haruskah aku meminta Langit mengremasiku
biar abuku bisa diantar padamu?


Tanjung, 1 Januari 2016
-Mutiara Ha(ya)ti

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top