Senja membuka mata. Buritan tiga warna dalam
satu kuas yang sama, melengkung indah di atas rasa-rasaku yang bergelimangan di
tanah. Ia selalu datang tepat waktu, membawakanku secangkir teh hangat ditambah
dengan beberapa sendok pengharapan atau perjumpaan yang tertulis pada lembaran
harian. Tapi kali ini, senja membawakanku selembar puisi. Tertera di amplopnya,
ada nama-nama anak-anak sajakku yang ditulis dengan goresan khasnya. Itulah
saat waktu menampakkan satu penggal hidupku yang tersembunyi di balik kelu.
Bunda,
melalui surat yang ku titipkan pada senja. Kami, anak-anak bunda, menghantarkan
beberapa tanya. Tanya yang hampir setiap malam menghantui mimpi-mimpi kami.
Tentang hati.
Bunda,
sampai kapan kami harus bersembunyi? Tidak kah kau kasihan pada kami, setiap
malam dalam sujud-sujud pertapaan, kala doa bunda terhantar pada lapisan-lapisan
langit. Kami meringkuk di pojok menangis atas renjana yang berdentuman, saling
bertubrukan, saling menghempaskan, tanpa penguatan.
Bunda, sampai
kapan kami harus menahan sesak ini? Kenapa kau tega sekali, Bunda? Tega sekali
kau hendak mematikan kami. Padahal selama ini kami selalu menurut padamu. Kau
bilang pada kami untuk diam. Maka kami pun menuruti titahmu untuk bungkam. Kau
bilang pada kami untuk tak ikut bersandiwara. Maka kami pun menuruti titahmu
untuk duduk diam, menontonmu melakonkan sandiwara pahit yang setiap gerakmu, Bunda menggetarkan palung ketegaran.
Bunda,
sampai kapan kami akan mengulum renjana? Pada setiap bait doamu yang kau
terbangkan ke langit, kami rangkaikan rentetan amin dan pengharapan pada Tuhan
agar doamu dikabulkan. Kami adalah hatimu, Bunda. Menyimpan segala bercak
hingga serpihan kaca yang kau piara.
Bunda, bukan
kah saat ini Tuhan sudah berkali-kali menurunkan jawaban doamu? Lantas apa lagi
yang kau tunggu? Bukankah Tuhan sudah memberitahukanmu tentang potongan-potongan
doa yang mulai menjelma mozaik rasa. Lantas apa yang akan kau lakukan, Bunda?
Lantas apa yang harus kami lakukan? Akan kah kau akan tetap menyuruh kami
berdiam diri? Menyembunyikan seluruh selir sampai waktu yang bahkan ia pun tak
tahu akankah sampai padaku. Atau kau akan tetap bersikeras membunuh kami
bersama rasamu yang sejujurnya telah disambut oleh bunga.
Bunda,
melalui surat yang kami titipkan pada senja. Kami bermaksud menyampaikan pinta.
Izinkan kami hidup, Bunda. Biarkan kami berdenyut bersama rasamu yang kau balut
dengan sandiwara. Izinkan kami menyimpan namanya. Izinkan kami menyebut dia
dalam setiap pinta. Izinkan kami menyimpan senyumnya atau matanya yang seolah
menyembunyikan permata dari bunda. Izinkan kami tetap ada. Pagari kami. Batasi
kami. Dan kami tak akan pernah lari. Bahkan lari pada dia ketika waktu masih
berkelana. Sudah kami siapkan jubah kesabaran untuk menguatkan ringkihnya tubuh
kami. Sungguh kami sanggup dan siap menerjang badai ketidakpastian. Tapi satu
yang pasti, kami tak akan pernah berhenti mengamini doamu, Bunda. Dan kami tak
akan pernah berhenti menguatkanmu.
Sungguh bunda, kami menyayangimu sebagaimana kau menyayanginya dalam
sujud panjangmu.
Bunda,
bersama surat ini kami berikan senja padamu. Untuk menemanimu mengenang dia
yang mungkin terselip di antara cerita harianmu.
***
25 November 2015
Mutiara Ha(ya)ti
![]() |
| Photo : Ery Widyatmoko (2016) Nuwun kiriman fotonya bro~ |

0 komentar:
Posting Komentar