"La, aku penasaran. Kenapa sih, perempuan itu suka dengan hal-hal yang melow-melow gitu. Sesuatu yang mendayu dan yang galau-galau gitu. Sering sekali aku liat tulisan-tulisan yang semacam gitu pasti banyak disukai perempuan. Di repost lah. Di jadiin status lah. Apapun. Kenapa sih kok perempuan suka gituan?" tanya seorang laki-laki suatu siang ketika bayangan bersembunyi.
"He? Kok kamu tiba-tiba penasaran dengan hal itu?" perempuan yang tengah menikmati semangkuk es buah tertegun mendengar pertanyaan itu dari laki-laki di depannya.
"Ya habisnya aku sering lihat perempuan yang kayak gitu. Yang nangis liat film, dengerin lagu, baca novel atau apapun yang melow gitu. Kamu kan perempuan. Makanya aku tanya kamu."
Perempuan itu meletakkan mangkuk es buahnya. "Perempuan itu perasa, Ka. Dia dikaruniai Tuhan hati yang lebih perasa dan peka daripada laki-laki. Makanya kalo emosi beberapa perempuan susah berpikir pakai logika. Yang penting emosinya diluapkan. Yang penting perasaannya dikeluarkan. Barulah kalo emosinya sudah stabil logikanya kembali. Itu sebabnya ketika kamu nemuin perempuan yang lagi emosi, jangan ajak dia untuk berpikir logis. Tapi rengkuh dulu. Bantu dia ngendaliin emosinya. Dia cuma butuh seseorang untuk mendengarkannya. Setelah emosinya reda barulah ajak dia berpikir logis. Gitu."
"Yeee kalo soal perempuan itu perasa, aku juga tau. Tapi jawabanmu nggak sinkron banget sama pertanyaanku."
"Hehe iya itu intro biar kamu tahu dasarnya perempuan gimana."
"Ah iya deh, iya. Lalu jawaban pertanyaanku apa?"
"Jadi gini. Sebenarnya kamu nggak bisa mengeneralisir semua perempuan suka yang melow-melow gitu sih. Tapi memang ada yang gitu. Yang suka banget nulis, baca atau nonton hal hal yang bener bener mengaduk emosi. Kenapa suka? Pertama karena tadi, perempuan itu memang perasa. Perempuan akan langsung bisa tersentuh dengan hal-hal yang memang emosional. Nah yang kedua ini yang membedakan. Perempuan yang cenderung penikmat hal-hal yang-kamu-bilang-melow-tadi, mereka adalah perempuan yang butuh semacam pemicu untuk menyalurkan emosinya. Dia memendam emosi, dan kesulitan bagaimana meluapkan emosinya. Jadi jalan pintasnya perempuan ini akan mencari hal hal yang relate dengan apa yang dia rasakan agar emosinya bisa dikeluarkan. Misal dengan nangis. Sebab nggak baik juga perempuan menahan emosi. Menangis itu bisa mengurangi emosi. Melegakan. Makanya perempuan cenderung menangis. Tanpa berkata pun kadang cukup bagi perempuan untuk menghentikan kecamuk emosinya hanya dengan menangis. "
"Nah perempuan yang berkebalikan dengan hal itu bukan berarti dia nggak butuh meluapkan emosi. Beberpa perempuan memang sangat baik dalam menahan emosi. Mereka punya mekanisme lain dalam mengatasi emosinya. Tapi bukan berarti dia heartless. Mau gimana pun dasarnya memang perempuan itu perasa. Ada saat dia juga pasti nangis. Dan bisa jadi nggak ada siapapun yang tahu kecuali dia sendiri dan Tuhan."
"Memang harus dengan nangis ya untuk menyalurkan emosi?"
"Nggak juga sih. Tapi memang menangis nggak selalu buruk. Sesek tau nggak sih kalo emosi itu dipendem terus. Makanya kami mengeluarkannya. Dan nggak harus nangis juga sih. Itu cuma salah satu. Emosi perempuan bisa diluapkan dengan apapun. Tergantung gimana dia membawa emosinya keluar. Ada yang dengan berkarya atau melakukan suatu aktivitas. Main musik, nulis lagu, nulis puisi, melukis, olahraga, menari. Apapun itu. Cowok juga gitu kan? Meluapkan emosi dengan karya."
"Kamu sering ya gitu?"
"Menuangkan emosi ke karya? Ya aku mampunya gitu heheh."
"Nggak pernah nangis gitu?"
Perempuan itu mengernyit. Menatap sekian detik laki-laki di depannya.
"Ha? Kepo amat sih."
"Ya kali aja." laki-laki itu lalu berkata lirih, "Aku bisa jadi pendengarmu."
"Eh? Ngomong apa kamu barusan?"
Dan obrolan siang itu berakhir dengan tawa keras laki-laki dan kernyit penasaran di wajah perempuan. Di saksikan rindang pohon di lapangan alun-alun kota.
***
Bantul, 5 April 2018
Mutiara Hayati
Nb : Sebelumnya ingin minta maaf jika dalam penulisan (fiksi) ini opini yang Haya tulis terlalu mengeneralisir atau ada yang kurang sreg. Jadi Haya membuka peluang bagi para perempuan yang mungkin ingin membagikan perasaannya atau pendapatnya tentang kenapa beberapa perempuan suka dengan hal-hal melow. Akan dengan senang hati juga apabila mau bercerita tentang sisi lain perempuan yang bisa nantinya ku tuliskan untuk "Tentang Perempuan (2)" hehe. Dan ehm sejujurnya ingin menulis "Tentang Laki-Laki", tapi apalah daya Hayati ini perempuan. Tak paham sekali dengan apa yang dipikirkan atau dirasakan para kaum adam :') Lain kali aja lah ya kalo "keajaiban" itu datang wkwk oh ya terima kasih banyak sudah berkunjung ke Aksara Hati :')

0 komentar:
Posting Komentar