"Kemarin salah seorang temanku ada yang cerita ke aku tentang perempuan," kata Taka. Sore itu Taka dan Nilam tengah duduk di kursi taman di pinggir telaga yang ada di pusat kota. Nilam yang duduk setengah meter di sampingnya tengah fokus membaca sebuah novel.
"Cerita apa memang?" tanya Nilam, tanpa memalingkan pandangannya dari buku di tangannya.
"Temanku bilang saat ini ada seorang perempuan yang menyukainya. Tapi temanku ini merasa nggak nyaman dengan sikap perempuan itu."
"Memang apa masalahnya?"
"Perempuan itu bisa dibilang suka cari muka. Kadang suka minta tolong apa gitu, tapi menurut temenku, sebenarnya dia bisa minta tolong ke yang lain. Nggak harus ke dia," terang Taka.
"Ya kali aja memang perempuan itu benar-benar butuh pertolongan temanmu," Nilam masih belum berpaling dari bukunya.
"Ya kalo satu dua kali sih, temenku itu nggak masalah. Tapi hampir setiap ada masalah perempuan itu minta tolongnya ke temenku. Dan kalo udah sekali chat gitu kayak nggak berujung. Sampe sering temenku ilfeel."
Nilam hanya bergumam.
"Memang perempuan itu kalo lagi tertarik sama laki-laki itu gimana, La?"
Nilam menutup bukunya. Tanpa menoleh ke laki-laki di sampingnya, dia mulai bercerita panjang.
"Biar ku mulai dengan dua kisah perempuan yang kisah cintanya dikenal dimana pun. Kisah pertama tentang seorang wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Dia adalah seorang wanita kaya. Suatu hari dia mendengar tentang kabar seorang pemuda yang terkenal dengan perangai dan sifat baiknya. Wanita itu penasaran. Dia tertarik untuk menjadi istri pemuda itu. Tapi dia tidak semata-mata langsung mengutarakan maksudnya. Wanita itu mempekerjakan pemuda itu untuk mengantar barang dagangan ke kota sebelah. Sebagai mata-mata, wanita itu menyuruh salah seorang pekerjanya untuk menemani pemuda itu selama di perjalanan sampai tujuan dan kembali lagi. Cerdas sekali wanita ini. Dia ingin sekali membuktikan perangai dan sifat pemuda itu dengan menyuruhnya melakukan perjalanan dan ditambah lagi dengan tanggungjawab untuk mengantar dagangan. Kau tahu kan, seperti teori mendaki gunung. Kau akan tahu perangai asli seseorang ketika kau sedang mendaki bersamanya. Dan rumor itu memang fakta. Pemuda itu sungguh baik perangainya, seolah tanpa cacat. Lalu tanpa ragu akhirnya wanita itu dengan berani melamar pemuda itu melalui perantara. Ya. Wanita itu maju duluan," Nilam tampak bersemangat berkisah.
"Kisah kedua adalah tentang seorang perempuan muda yang berkali-kali sahabat ayahnya datang ke rumah untuk meminangnya. Tapi dari sekian banyak yang datang tidak satupun yang mendapat lampu hijau dari sang ayah. Hingga suatu hari seorang pemuda yang biasa-biasa saja bertemu dengan sang ayah. Pemuda itu sesungguhnya memiliki rasa terhadap perempuan itu. Dia akhirnya datang dengan pasrah tanpa berekspektasi lebih. Sudah menyiapkan separuh hati lebih jika penolakan itu ada. Tapi ternyata sang ayah justru ridho anak perempuannya menikah dengan pemuda itu. Dan kau tahu apa bagian spesialnya? Ternyata sudah lama juga perempuan itu memiliki rasa suka terhadap pemuda itu. Cinta dalam ketenangan yang berbuah keindahan."
"Dua kisah itu tadi sepertinya aku tahu," celetuk Taka.
Nilam tersenyum seraya mengangguk. "Iya, kisah pertama adalah kisah Bunda Khadijah dengan Rasulullah. Kisah kedua adalah kisah romantis Fatimah dengan Ali."
Taka tampak berpikir sejenak. "Jadi maksudmu ada dua tipe perempuan yaitu seperi Khadijah dan Fatimah?"
"Tepat sekali!" Nilam menjentikkan jari.
"Nggak semua perempuan memiliki keberanian seperti Khadijah yang mau selangkah lebih maju untuk menggapai perasaannya. Ada juga perempuan yang lebih memilih untuk diam ketika menyukai seorang laki-laki. Kenapa diam? Sebab perempuan sangat berhati-hati dengan urusan perasaan. Dia tidak akan main-main dengan perasaannya. Nggak berani coba-coba. Meski sesungguhnya dia sangat berharap perasaan itu terbalas. Dia berharap laki-laki itu menyadari apa yang dirasakannya. Maka beberapa dari perempuan ini akan membuat semacam kode. Meskipun sebenarnya kode itu kadang dikeluarkan ketika dia sungguh kewalahan menahan perasaannya tetap sembunyi. Tapi ada juga perempuan yang memang kuat menyembunyikan perasaannya bahkan hanya Tuhan dan dia saja yang tahu. Perempuan tipe ini sangat khawatir jika ekspektasi itu ya hanya ekspektasi saja. Dia tidak siap jika ternyata kisahnya hanya cinta satu sisi saja. Itu sebabnya dia lebih merasa aman dengan diam daripada mengungkapkan."
"Lalu bagaimana tentang perempuan yang lebih dulu mengungkapkan?"
"Menurutku perempuan yang maju lebih dulu adalah perempuan yang berani. Dia seperti sudah siap dengan segala kemungkinann baik atau buruk yang bisa terjadi setelah dia mengutarakan perasaan. Tapi hei, di sini aku hanya merasa salut pada mereka yang memang mengutarakan perasaan untuk ke tahap yang serius. Bukan hanya asal obral perasaan dan ujung-ujungnya hanya seperti trial and error."
"Lalu untuk urusan menggapai perasaan, mana yang lebih baik? Ini bukan kompetisi atau hal yang patut dibandingkan menurutku. Setiap perempuan berhak memilih akan seperti apa ia melabuhkan perasaannya. Apakah dengan diam yang dibuntuti sederet doa atau dengan maju mengungkapkan lebih dulu. Perempuan berhak memilih mana yang lebih membuatnya nyaman. Mungkin perempuan itu lebih nyaman diam dan berharap laki-laki itu datang lebih dulu. Tapi bisa saja perempuan merasa harus bergerak lebih dulu karena dia butuh kejelasan atas perasaannya. Ibarat bilang gini, aku punya rasa ke kamu. Kamu mau nggak jadi suamiku? Kalo iya datanglah melamarku. Jika tidak oke nggak masalah aku berarti harus menghapusmu dari hatiku. Jadi, sekuat-kuatnya perempuan tipe ini menanggung risiko, sejujurnya itu adalah bentuk usahanya untuk kejelasan atas perasaannya. Sebab bagi perempuan kepastian itu sangat penting. Mereka mudah sekali membuat asumsi atas segala kemungkinan."
"Lalu apa jadinya jika perasaan perempuan yang nyaman dengan diam bertepuk sebelah tangan?" tanya Taka.
"Dia diam bukan berarti hanya sebatas diam menyembunyikan perasaan. Ada banyak sekali doa yang sangat dia gantungkan pada Tuhan, Yang Menghembuskan Perasaan. Perempuan ini sangat pasrah dengan ketentuan Tuhan. Dia hanya mengandalkan usaha doa. Maka dalam doanya dia bukan minta muluk-muluk agar perasaannya terbalas, tapi tentang kebaikan untuk dia. Jika perasaan itu jatuh di orang yang tepat tentunya dia berharap agar jalan itu dimudahkan. Tapi jika perasaan itu jatuh di tempat yang belum tepat dia berhadap agar Tuhan kembali mengambil perasaannya tanpa sedikitpun menyisakan luka, penyesalan, atau semacam rasa negatif serupa. Semua yang akan terjadi dia percayakan dan mempercayakannya pada Tuhan."
Taka diam sejenak. Dia tampak tengah mencerna penjelasan panjang Nilam.
"Perasaan perempuan itu rumit, maka sebagai laki-laki jangan semakin memperumit dengan mempermainkan hati perempuan," kata Nilam menutup obrolan sore itu.
Bantul, April 2018
Mutiara Hayati
Note :
Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah mau sharing ke Haya tentang perasaan perempuan. InsyaAllah Tentang Perempuan akan lanjut :) Menerima kritik saran dan masukan. Yang mau sharing juga boleh :D Terima kasih juga sudah berkunjung ke Aksara Hati.
Nilam menutup bukunya. Tanpa menoleh ke laki-laki di sampingnya, dia mulai bercerita panjang.
"Biar ku mulai dengan dua kisah perempuan yang kisah cintanya dikenal dimana pun. Kisah pertama tentang seorang wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Dia adalah seorang wanita kaya. Suatu hari dia mendengar tentang kabar seorang pemuda yang terkenal dengan perangai dan sifat baiknya. Wanita itu penasaran. Dia tertarik untuk menjadi istri pemuda itu. Tapi dia tidak semata-mata langsung mengutarakan maksudnya. Wanita itu mempekerjakan pemuda itu untuk mengantar barang dagangan ke kota sebelah. Sebagai mata-mata, wanita itu menyuruh salah seorang pekerjanya untuk menemani pemuda itu selama di perjalanan sampai tujuan dan kembali lagi. Cerdas sekali wanita ini. Dia ingin sekali membuktikan perangai dan sifat pemuda itu dengan menyuruhnya melakukan perjalanan dan ditambah lagi dengan tanggungjawab untuk mengantar dagangan. Kau tahu kan, seperti teori mendaki gunung. Kau akan tahu perangai asli seseorang ketika kau sedang mendaki bersamanya. Dan rumor itu memang fakta. Pemuda itu sungguh baik perangainya, seolah tanpa cacat. Lalu tanpa ragu akhirnya wanita itu dengan berani melamar pemuda itu melalui perantara. Ya. Wanita itu maju duluan," Nilam tampak bersemangat berkisah.
"Kisah kedua adalah tentang seorang perempuan muda yang berkali-kali sahabat ayahnya datang ke rumah untuk meminangnya. Tapi dari sekian banyak yang datang tidak satupun yang mendapat lampu hijau dari sang ayah. Hingga suatu hari seorang pemuda yang biasa-biasa saja bertemu dengan sang ayah. Pemuda itu sesungguhnya memiliki rasa terhadap perempuan itu. Dia akhirnya datang dengan pasrah tanpa berekspektasi lebih. Sudah menyiapkan separuh hati lebih jika penolakan itu ada. Tapi ternyata sang ayah justru ridho anak perempuannya menikah dengan pemuda itu. Dan kau tahu apa bagian spesialnya? Ternyata sudah lama juga perempuan itu memiliki rasa suka terhadap pemuda itu. Cinta dalam ketenangan yang berbuah keindahan."
"Dua kisah itu tadi sepertinya aku tahu," celetuk Taka.
Nilam tersenyum seraya mengangguk. "Iya, kisah pertama adalah kisah Bunda Khadijah dengan Rasulullah. Kisah kedua adalah kisah romantis Fatimah dengan Ali."
Taka tampak berpikir sejenak. "Jadi maksudmu ada dua tipe perempuan yaitu seperi Khadijah dan Fatimah?"
"Tepat sekali!" Nilam menjentikkan jari.
"Nggak semua perempuan memiliki keberanian seperti Khadijah yang mau selangkah lebih maju untuk menggapai perasaannya. Ada juga perempuan yang lebih memilih untuk diam ketika menyukai seorang laki-laki. Kenapa diam? Sebab perempuan sangat berhati-hati dengan urusan perasaan. Dia tidak akan main-main dengan perasaannya. Nggak berani coba-coba. Meski sesungguhnya dia sangat berharap perasaan itu terbalas. Dia berharap laki-laki itu menyadari apa yang dirasakannya. Maka beberapa dari perempuan ini akan membuat semacam kode. Meskipun sebenarnya kode itu kadang dikeluarkan ketika dia sungguh kewalahan menahan perasaannya tetap sembunyi. Tapi ada juga perempuan yang memang kuat menyembunyikan perasaannya bahkan hanya Tuhan dan dia saja yang tahu. Perempuan tipe ini sangat khawatir jika ekspektasi itu ya hanya ekspektasi saja. Dia tidak siap jika ternyata kisahnya hanya cinta satu sisi saja. Itu sebabnya dia lebih merasa aman dengan diam daripada mengungkapkan."
"Lalu bagaimana tentang perempuan yang lebih dulu mengungkapkan?"
"Menurutku perempuan yang maju lebih dulu adalah perempuan yang berani. Dia seperti sudah siap dengan segala kemungkinann baik atau buruk yang bisa terjadi setelah dia mengutarakan perasaan. Tapi hei, di sini aku hanya merasa salut pada mereka yang memang mengutarakan perasaan untuk ke tahap yang serius. Bukan hanya asal obral perasaan dan ujung-ujungnya hanya seperti trial and error."
"Lalu untuk urusan menggapai perasaan, mana yang lebih baik? Ini bukan kompetisi atau hal yang patut dibandingkan menurutku. Setiap perempuan berhak memilih akan seperti apa ia melabuhkan perasaannya. Apakah dengan diam yang dibuntuti sederet doa atau dengan maju mengungkapkan lebih dulu. Perempuan berhak memilih mana yang lebih membuatnya nyaman. Mungkin perempuan itu lebih nyaman diam dan berharap laki-laki itu datang lebih dulu. Tapi bisa saja perempuan merasa harus bergerak lebih dulu karena dia butuh kejelasan atas perasaannya. Ibarat bilang gini, aku punya rasa ke kamu. Kamu mau nggak jadi suamiku? Kalo iya datanglah melamarku. Jika tidak oke nggak masalah aku berarti harus menghapusmu dari hatiku. Jadi, sekuat-kuatnya perempuan tipe ini menanggung risiko, sejujurnya itu adalah bentuk usahanya untuk kejelasan atas perasaannya. Sebab bagi perempuan kepastian itu sangat penting. Mereka mudah sekali membuat asumsi atas segala kemungkinan."
"Lalu apa jadinya jika perasaan perempuan yang nyaman dengan diam bertepuk sebelah tangan?" tanya Taka.
"Dia diam bukan berarti hanya sebatas diam menyembunyikan perasaan. Ada banyak sekali doa yang sangat dia gantungkan pada Tuhan, Yang Menghembuskan Perasaan. Perempuan ini sangat pasrah dengan ketentuan Tuhan. Dia hanya mengandalkan usaha doa. Maka dalam doanya dia bukan minta muluk-muluk agar perasaannya terbalas, tapi tentang kebaikan untuk dia. Jika perasaan itu jatuh di orang yang tepat tentunya dia berharap agar jalan itu dimudahkan. Tapi jika perasaan itu jatuh di tempat yang belum tepat dia berhadap agar Tuhan kembali mengambil perasaannya tanpa sedikitpun menyisakan luka, penyesalan, atau semacam rasa negatif serupa. Semua yang akan terjadi dia percayakan dan mempercayakannya pada Tuhan."
Taka diam sejenak. Dia tampak tengah mencerna penjelasan panjang Nilam.
"Perasaan perempuan itu rumit, maka sebagai laki-laki jangan semakin memperumit dengan mempermainkan hati perempuan," kata Nilam menutup obrolan sore itu.
***
Bantul, April 2018
Mutiara Hayati
Note :
Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah mau sharing ke Haya tentang perasaan perempuan. InsyaAllah Tentang Perempuan akan lanjut :) Menerima kritik saran dan masukan. Yang mau sharing juga boleh :D Terima kasih juga sudah berkunjung ke Aksara Hati.

haii selamat pagi numpang promo yahhh
BalasHapusE D E N POKER lagi bagi-bagi bonus newmember
10.000 Rp Nihh yukk buruaan jangan sampaii
ketinggalannn !!
Ijin promo yahh
Hallo Bossku ! mau kasih info sedikit nihh , di EDENPOKER lagi memberikan bonus
10.000 Ribu GRATISS LHOO dan kami juga memberikan bonus next depo 5 % juga lhoo
ayoo buruaan gabung bersama kami di E D E N P O K E R . X Y Z