Beberapa hari yang lalu adek sepupuku yang
masih berusia 5 tahun menjalani operasi mata kiri. Saat itu aku ikut menunggu
proses jalannya operasi hingga malam hari. Sekitar satu setengah jam kemudian,
bulikku dipanggil untuk menuju ruang operasi karena adek sepupuku sudah sadar
dan mulai merengek. Tak lama kemudian bulik keluar dengan menggendong si kecil
yang mata kirinya ditutup perban. Setelah sampai di kamar inap, adek sepupuku
semakin kencang menangis. Rasa sakit pasca operasi barulah dirasakan. Berkali-kali
bilang “Ibuk, sakit!” atau “Perih, Bu, ini perih.” dan berkali-kali pula bulik
mencoba menenangkan si kecil dengan lembut. Punggungnya diusap pelan. Beberapa kali
tangan adekku hendak melepas perban di matanya, tapi bulik dengan sergap
mencegah tangannya. Bulik saat itu tidak berhenti menenangkan si kecil. Ia
mendengar semua keluh kesah yang dilontarkan si kecil tanpa memotong satu kata
pun. Kemudian bulik akan bilang “Iya, ibu tahu ini sakit, nak. Tapi perbannya
nggak boleh dilepas sekarang, ya. Besok dilepas sama dokter.”
Ada satu hal yang ku amati dari hal itu, yaitu
tentang memvalidasi perasaan. Validasi perasaan maksudnya adalah menerima dan
memahami kondisi internal (pikiran/perasaan) yang terjadi pada diri sendiri
atau orang lain. Meski mungkin perasaan atau pikiran tersebut tidak sesuai
dengan value hidup kita, tapi validasi perasaan adalah ketika kita tetap
menerima dan memahami perasaan tersebut memang ada. Kita tidak menilai perihal
perasaan atau pikiran tersebut benar atau salah, tapi kita membenarkan jika
memang perasaan itu ada dan sedang dirasakan. Tidak menyangkal perasaan tersebut
juga termasuk dari bagian memvalidasi perasaan.
Pernah nggak sih, ketika kamu sedang merasa
sedih atau kecewa lalu menceritakan perasaanmu ke orang lain, tapi orang lain
itu justru mengatakan kalo apa yang kamu rasakan itu berlebihan atau justru
menghakimi bahwa seharusnya kamu tidak perlu merasakan emosi demikian. Atau perkataan
lain yang bersifat menyalahkan, menghakimi, menolak, atau berusaha menganggap
remeh perasaanmu. Hal yang seperti itu justru akan membuat kita semakin sedih. Termasuk
ketika kita sedang merasa sedih tapi kita sendiri menolak untuk merasa sedih. Validasi
perasaan adalah salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk berdamai dengan
luka yang kita rasakan dengan mengakui bahwa perasaan itu sedang dirasakan.
Perasaan adalah refleksi dari pikiran,
persepsi, dan pengalaman yang ada dalam diri kita. ketika kita melihat atau
mengalami suatu hal yang tidak menyenangkan, emosi negatif tersebut akan datang
sebagai bentuk dari respon terhadap hal yang kita alami atau lihat. Perasaan
sedih atau kecewa ketika orang yang kita percayai ternyata mengkhianati. Perasaan
marah atau kesal ketika salah seorang teman atau rekan kerja kita tidak bisa
mengerjakan pekerjaannya sesuai yang ia janjikan. Emosi negatif itu muncul
menanggapi apa yang kita alami atau lihat, dan munculnya perasaan itu adalah
normal. Emosi negatif adalah bagian dari sistem alamiah diri kita dan termasuk
hal yang tidak bisa kita hindari dalam hidup. Hal ini akan selalu terjadi dalam
hidup kita, pun orang lain juga akan merasakan hal yang sama dalam pengalaman
yang sama atau berbeda. Sehingga kita tidak perlu menyangkal munculnya perasaan
itu.
Lalu sebenarnya untuk apa kita menyadari
adanya emosi negatif?
Sebagaimana kita yang diciptakan oleh Tuhan
dengan suatu tujuan, maka emosi (negatif atau positif) dihembuskan pada hidup
kita karena ada tujuan pula. Emosi negatif ini dapat membantu kita dalam
menghadapi segala situasi dan tantangan dalam hidup. Mereka juga bisa berperan
sebagai sinyal atau alarm untuk diri ketika ada suatu hal yang salah dalam diri
kita. Mereka bisa membantu mengidentifikasi apa yang bermasalah dalam diri
sehingga kita bisa mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah itu. Pada
beberapa artikel juga menyebutkan bahwa emosi negatif pun bisa dijadikan
sebagai katalis untuk melakukan perubahan. Mereka bisa kita jadikan sebagai
penggerak untuk lebih produktif, menyelesaikan masalah, mengumpulkan kembali
energi positif dan membuat perubahan yang menguntungkan kehidupan kita.
Emosi ada berbagai macam, positif maupun
negatif, dan kita tidak bisa dengan mudahnya memilih emosi mana saja yang kita
pilih selama hidup. Sudah pernah nonton film “Inside Out”? Dari film itu secara
tidak langsung menjelaskan bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa kita hadapi
hanya dengan satu emosi –misal “Joy” saja. Tapi kita memerlukan emosi negatif
lain seperti “Sadness”, “Anger”, “Fear” dan “Disgust”. Ada satu scene ketika Bing Bong kehilangan kereta
luncurnya, saat itu hadir Sadness yang menunjukkan empatinya. Tak lama kemudian
Bing Bong kembali ceria setelah mengeluarkan semua kesedihannya. Mungkin jika
saat itu Joy yang memilih peran untuk menghibur, Bing Bong tidak akan merasakan
perasaan lega karena dengan mengabaikan perasaan sedihnya, maka perasaan sedih
itu akan tetap terus ada dalam dirinya. Ya, emosi akan tetap bertahan dalam
diri kita jika kita cenderung mengabaikan atau menyembunyikannya.
Perlu diingat pula bahwa emosi negatif bisa
membentuk pertahanan kita. Maksudnya gimana? Jadi gini, ketika kita pernah mengalami
perasaan kecewa yang sangat mendalam pada seseorang secara tidak sadar, diri
kita membentuk sistem pertahanan. Ibaratnya, pada diri kita secara tidak sadar
terbentuk toolbox yang di dalamnya terdapat tool-tool strategi untuk menghadapi
perasaaan tersebut. Sehingga ketika perasaan itu suatu hari dirasakan kembali,
kita sudah tahu strategi menghadapinya.
Saat melihat adek sepupuku yang menangis dan
bulik yang terus mencoba menenangkan, saat itu pula aku teringat dengan
beberapa kata yang bersliweran di media sosial tentang “validate your feelings”. Pada beberapa situasi kata-kata
penyemangat memang tidak relevan disampaikan pada orang yang sedang bergelut
dengan emosi negatifnya. Dia hanya perlu empati dari orang lain tentang apa
yang dirasakannya. Mempelajari tentang validasi perasaan ini juga secara tidak
langsung mengajarkan kita agar bisa lebih memposisikan diri ketika orang
terdekat kita tengah merasakan emosi negatif.
Jadi, saat sedang merasakan emosi negatif,
coba untuk lebih mendengarkan dirimu sendiri. Dengarkan apa yang dirimu
katakan, apa yang dirasakan. Akui perasaan itu memang ada, jangan disangkal
atau disalahkan dengan adanya perasaan itu. Cukup akui bahwa memang kamu sedang
sedih, kecewa, takut, marah, khawatir, cemas, frustasi atau perasaan negatif
lainnya. Tidak ada salahnya juga jika kamu menangis, karena menangis juga
bagian dari respon dirimu terhadap segala perasaan negatif yang tengah kamu
rasakan. Katakan pada dirimu bahwa merasa sedih, kecewa, takut, marah,
khawatir, cemas, atau perasaan lain itu normal. Katakan pada dirimu bahwa orang
lain juga ada yang merasa demikian pada beberapa situasi. It’s okay to be not okay sometimes, because we’re human with feelings. We’re
human with emotions. Face your
emotions.
***
Bantul, 4 Agustus
2019
Mutiara Hayati
Nb : saya bukan
seorang psikolog atau seseorang yang punya background pendidikan psikologi ya, tapi sangat
tertarik dengan tema semacam ini dan tidak menutup kesempatan jika ada yang
ingin dikoreksi dari tulisan ini. Mari berdiskusi ~ :)
read more about self validation and negative emotions here :


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusluarbiasa seperti biasanya
BalasHapusyap benar. emosi negatif memang diperlukan. penting malah. Dalam banyak kasus, setauku depresi justru memicu kreatifitas. kebalikan dengan kondisi dimana kamu terlalu bahagia, atau orang psikologi menyebutnya dengan "mania". sifat ini justru mereduksi performa karier karena mereka yang merasakan itu cenderung merasa sudah mencapai target tertentu sehingga kurang inisiatif dan proaktif. dan kecenderungan yang lain ialah melakukan hal2 beresiko.ingat bahwa semakin banyak olaraga yang ekstrim? nahh,itu. btw,ini bukan orang psikologi,boleh sih aku perpendapat demikian,hhehehe
nah iya memang kalo bisa mengontrol emosi negatif dengan baik, justru hal itu bisa dijadikan motivasi untuk berkarya. atau bisa dibilang emosinya disalurin dalam bentuk karya.
Hapusmemang ya segala sesuatu yang berlebihan nggak baik. terlalu bahagia ternyata gak baik juga wkwk. btw nuwun sudah sharing, han
yahhooo :D
Hapusternyata untuk menerima dan memahami perasaan kita sendiri aja kita masih sering kelupaan dan cenderung mengabaikannya. bagi ku tulisan ini membantu kita untuk menyadari hal itu.
BalasHapusTulisannya bagus dan bermanfaat banget mba
terima kasih mba