BUANGLAH SAMBAT PADA TEMPATNYA


Hidup itu berat. Mau sambat? Apakah kita benar-benar butuh sambat?
Hidup di dunia memang nggak melulu selalu enteng dan indah. Selalu ada hal yang mewarnai kehidupan kita tapi berwarna hitam. Pada beberapa kondisi pun terasa amat sangat berat dipikul, menguras banyak air mata, meruntuhkan semua energi dan semangat. Ketika di posisi seperti itu nggak bisa dipungkiri sambat (mengeluh) memang melegakan, karena pada dasarnya sambat itu mengeluarkan emosi yang tengah bergejolak, seperti kekecewaan, kesakitan, dan kemarahan. Semua kepenatan yang sedang dirasakan keluar melalui kata-kata entah itu dengan langsung maupun lewat tulisan. Tapi sadar nggak sadar, sambat yang terlalu banyak bisa menjadikan kita orang yang kurang atau lupa bersyukur loh. Apalagi jika sampai hal-hal yang terkesan spele dikeluhkan.
Mungkin di antara kita ketika sedang berselancar di media sosial pernah membaca status atau postingan dari orang-orang yang isinya hanya seputar keluhan dia. Saking seringnya sampai kita merasa sikap dia untuk sambat di media sosial terlalu berlebihan. Mengeluhkan tentang tugas-tugas, kerjaan, pekerjaan rumah, nasib hidup dan semacamnya. Kesel nggak sih bacanya? Berseliweran di timeline, nggak berharap baca, tapi nggak sengaja kebaca juga. Rasanya tu pengen bilang ke dia kalo apa yang dia kerjakan atau miliki sekarang seharusnya bisa membuat dia bersyukur, sebab tak sedikit orang yang menginginkan hal tersebut tapi belum kesampaian. Pernah menemui kasus ada anak yang mengeluhkan tentang makanannya yang nggak enak? Atau barangkali kamu sendiri pernah demikian ketika kecil? Mogok makan karena nggak suka dengan pilihan masakan yang dimasak ibu hari itu. Tapi kemudian bapak akan bilang tentang perasaan syukur karena masih diberi rezeki untuk bisa makan, sedang di luar sana masih banyak saudara kita yang bahkan dalam sehari saja belum terjamin bisa makan atau tidak.
Terus kalo gitu kita sebenarnya boleh sambat nggak sih?
Boleh-boleh aja, kok. Tapi sebelum kita bahas itu lebih jauh aku tanya dulu, deh. Ketika kamu sedang merasa sedih, kecewa, atau marah lalu kamu ingin sambat ke orang yang kamu rasa mengerti apa yang kamu rasakan, kira-kira apa respon yang kamu harapkan dari temanmu setelah mendengarkan keluh kesahmu? Aku sempat membuka diskusi dengan beberapa temanku di whatsapp. Dan jawaban mereka menjadi poin yang ingin ku garis bawahi, yaitu kita itu manusia yang punya perasaan. Kalo lagi bunek dan pengen sambat pasti hal pertama banget yang diharapkan adalah pengen didengarkan, yang kemudian beberapa dari kita akan minta pendapat dan saran setelah kita selesai bercerita. Tapi pasti juga pernah kita berada di kondisi ketika hanya ingin didengarkan saja. I just want you to listen to me. Dan ini sah-sah saja. Kenapa? Karena itu salah satu cara kita mengakui perasaan kita sendiri. Jujur dengan perasaan kita sendiri. Ya kalo sedih ya sedih aja. Ya kalo kesel ya kesel aja. Dan kita butuh orang yang mau mendengarkan kita dan paham dengan apa yang kita rasakan. Jujur tentang perasaan kamu itu bagus, kok. Itu artinya kamu peduli dengan dirimu. Sebab kamu nggak perlu memaksa diri untuk terlalu berpura-pura tidak apa-apa. Ini juga sekaligus menjadikanmu sadar dengan emosimu.
source : pinterest
Tapi sampai mana takaran sambat yang memang dibutuhkan oleh diri kita dengan sambat yang terlalu berlebihan sehingga terkesan lupa bersyukur? Nggak ada takaran yang pasti. Lagian, we’ve all grown up. Harusnya udah tahu hal sambat seperti apa yang memang tujuannya untuk meringankan beban di hati. Kalo hal-hal kecil aja disambati bisa berakibat ke perasaan yang cenderung bad mood terus. Kamu hanya perlu melihat hal-hal itu dengan kaca mata lain saja, biar kamu tahu sebenarnya itu hal yang patut untuk dikeluhkan atau disyukuri. Poinnya, kalo kamu memang merasa penat, banyak hal yang harus kamu selesaikan, atau ada orang yang membuatmu kecewa dan marah, maka keluarkan! Sekali aja dan nggak usah lama-lama atau berlarut-larut. Keluarin itu. Lalu setelah itu get back to yourlife. Hadapi hal itu dengan kepala dingin. Tetap selesaikan apa yang harus kamu selesaikan dengan usaha terbaik, atau maafkan orang yang sudah membuatmu kecewa. Lalu lakukan apa yang kamu senangi dan be happy!
source : pinterest
Tapi memang kadang ada juga sih orang yang nggak mau atau sedang tidak mood untuk mendengarkan sambatan kita. Alih-alih didengarkan, dia malah balik curhat. Alih-alih dapat solusi, dia malah kasih komen pedas. Bisa jadi kita salah orang untuk curhat. Atau bisa jadi temanmu sedang dalam kondisi tidak baik untuk mendengarkan sambatan. Kalo udah gitu gimana? Ya udah nggak usah dipikir pusing. Kalo pada akhirnya dia memberikan respon tidak sesuai yang kamu inginkan, nggak usah dimasukin ke hati kata-katanya. Ya udah sih, yang penting kamu udah mengeluarkan uneg-uneg. Emang pasti ada sedikit rasa kecewa atau mungkin jadi trauma cerita ke temanmu karena responnya, tapi misimu untuk mengeluarkan keluh kesah sudah tercapai, jadi kembalilah ke hidupmu!
Sebaik-baik sambat ke Allah.
Mau bagaimana pun sebaik-baik sambat memang ke Allah. Nggak bisa dipungkiri. Kalo lagi penat terus curhat ke Allah itu ending-nya pasti selalu adem. Plong gitu. Bahkan kadang tanpa kita minta, Allah justru memberi solusi atau jalan keluar dari masalah kita. Dan yang selalu menjadi kabar baik, Allah nggak pernah menolak curhatan kita. Justru kapanpun kita mau curhat Allah selalu ada. Kabar baiknya lagi, Allah pasti mau dengerin. Kayak direngkuh gitu. Sambil di-pukpuk. Adem banget nggak, sih. Habis itu pasti rasanya langsung enteng gitu, masyaallah. Hal yang seperti ini pasti adalah respon terbaik yang sangat kita harapkan ketika lagi penat dan curhat.
Jadi aku kudu buang sambat ke siapa nih?
Buanglah sambatmu pada tempatnya.
***

Bantul, 26 April 2019
-Mutiara Hayati-

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top