BERBICARA TENTANG PERNIKAHAN


Nikah? Apa sih yang kamu pikirkan ketika mendengar kata itu? Sudah sesering apakah kata ini menghantui hari-harimu? Atau sudah sejak kapan kata ini menjadi sering muncul dalam salah satu pertimbangan ketika kamu akan mengambil keputusan dalam hidup?
Beberapa hari yang lalu aku sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman tentang pandangan mereka terhadap fenomena gencarnya dakwah bertema pernikahan. Entah sejak kapan tapi media islami mulai banyak mengedukasi masyarakat khususnya muslim dan muslimah tentang pernikahan, dan tak sedikit pula yang membahas tentang pernikahan di usia muda. Aku juga sempat menjadi penikmat webseries yang banyak dibaperi oleh para muslimah, terutama para singlewati fisabilillah. Dan pernah juga baperan ketika baca konten-konten bertema demikian. Sebenarnya kalo diamati media islami yang begitu menggencarkan tentang indahnya pernikahan itu dilatarbelakangi oleh semakin gencarnya dan dianggap wajarnya fenomena pacaran di kalangan pemuda pemudi terutama untuk muslim dan muslimah. Sedangkan sudah jelas di Al Qur’an bahwa hal itu tidak dibenarkan. Belum lagi sudah beberapa tahun ini perkembangan internet sangatlah pesat dan hal ini tentu saja membuat segala macam informasi mudah diakses. Apabila seorang muslim/ah tidak pandai membuat tameng maka bisa jadi informasi negatif akan masuk pula, dan mungkin akan mengubah pola pemikiran mereka.
Beberapa minggu lalu sempat heboh di jagad per-sosmed-an tentang salah satu pernyataan yang membuat beberapa netizen “gemas”. Pernyataan itu intinya menyiarkan tentang pernikahan adalah solusi bagi perempuan yang lelah bekerja dan ingin dinafkahi. Berbagai macam sanggahan di sosmed dilontarkan oleh beberapa orang untuk menanggapi pernyataan itu. Dari beberapa yang ku baca banyak yang tidak setuju dengan pernyataan itu. Teman-teman yang sempat bertukar pikiran denganku juga melontarkan hal yang sama. Ada yang sedikit kecewa juga karena tema yang seperti ini lebih laku dibandingkan dengan tema lain seperti fiqh, shirah nabawiyah, tazkiyatun nafs, dll. Padahal sebenarnya kalo mau ditelusur mungkin tidak sedikit muslim/ah yang saat ini belum benar sholatnya, wudhunya, atau ibadah lainnya. Atau tidak banyak juga yang tahu tentang adab-adab lain yang diajarkan Rasululloh. Ilmu yang demikian menurutnya juga patut mendapatkan porsi untuk “digembor-gemborkan” layaknya para akun dakwah islam menyiarkan tentang pernikahan. Jadi muslim/ah di luar sana yang masih belajar mendalami Islam bisa lebih mendalami agamanya dan tidak hanya sebatas tentang ilmu pernikahan saja.
Ada juga teman yang pernah berpikiran ingin menikah saja dibandingkan harus pusing-pusing mencari kerja atau memikirkan hal lain. Tapi kemudian teman ini mengubah pola pikirnya. Sebab pernikahan adalah ibadah maka jika pernikahan yang dilakukan didasarkan karena pemikiran demikian, rasanya seperti menghilangkan hakikat pernikahan yang sesungguhnya. Lantas apakah dia lepas dari memikirkan hal tentang pernikahan? Tidak tentu saja. Teman satu ini diam-diam suka belajar tentang parenting, dari manapun.
Aku menulis panjang gini bermaksud untuk sharing. Yaa saat ini aku belum pernah menikah sih, hehe. Dan sesungguhnya rasanya agak gimana gitu menuliskan pemikiran tentang hal ini. Tapi lama-lama uneg-uneg ini menjelma kegelisahan dan tak tahan lagi untuk tidak ku tuliskan. Jadi berbekal dari pengamatan orang-orang terdekat, selebgram yang membagikan pernah pernik kehidupan pernikahan, baca di buku dan beberapa kali kepo ilmu pernikahan ke “guru”, ku ingin sedikit membagikan ilmu dari yang ku dapat. Jadi ini aku hanya akan sharing ilmu yang ku peroleh ya. Tidak menutup pintu bagi siapapun yang ingin memberikan masukan, berbagi pikiran, atau sanggahan, karena saat ini pun aku juga masih belajar :)
Oke kita mulai~
Pernikahan adalah salah satu ibadah. Sebagaimana ibadah lain seperti sholat, puasa, zakat/sedekah, menuntut ilmu, dll yang untuk melakukannya pun butuh ilmu, maka untuk mengerjakan pernikahan pun kita butuh tahu ilmunya. Sebab pernikahan tidak hanya sebatas seorang laki-laki mengucapkan kalimat ijab yang kemudian di kabulkan oleh sang wali perempuan lantas para saksi akan mengatakan “sah” dan “Alhamdulillah”. Pernikahan lebih dari itu. Ada banyak hal lain yang perlu kita (terutama para pejuang #2019gantistatus wkwk) garis bawahi sebelum memantapkan hati memutuskan untuk meminang atau menerima pinangan.
Selama ini kalau diperhatikan dari syiar akun dakwah islam tentang pernikahan, mereka lebih menekankan tentang indahnya pernikahan. Betapa indahnya hidup berdua tanpa harus khawatir dosa. Bahkan apapun yang dilakukan bersama bernilai pahala. Nggak perlu lagi backstreet atau khawatir orang lain tahu kalo sedang ada hubungan dengan seseorang. Ya memang ku akui (meski belum nikah), bisa disatukan dengan orang yang dicintai secara legal menurut agama dan negara itu menyenangkan. Tapi perlu digarisbawahi bahwa pernikahan itu bisa disebut sebagai salah satu fase yang akan mengubah hidupmu (mungkin total).
Seorang laki-laki dan perempuan yang akhirnya sah, kehidupannya jelas akan berbeda dibandingkan ketika mereka masih sebagai individu bebas. Seperti seseorang yang baru saja diterima kerja disebuah perusahaan. Setelah dia diterima sebagai salah satu pegawai di perusahaan itu maka dia telah dengan resmi mendapatkan tanggungjawab atas berbagai macam kewajiban yang harus dipenuhi. Dia juga memiliki hak terhadap atasannya, seperti mendapatkan perlindungan kerja, jaminan kesehatan, dan upah kerja tentu saja. Seperti itu pula yang terjadi pada seseorang yang telah sah menikah. Jika telah menikah maka di pundak suami dan istri itu akan muncul tanggungjawab yang harus mereka kerjakan. Ada hak dan kewajiban yang harus mereka penuhi, yang jika tidak dikerjakan tentu akan ada konsekuensinya. Suami wajib menafkahi istri lahir dan batin, sebaliknya istri wajib melayani dan patuh pada suami. Dari kewajiban yang dikerjakan itulah nilai ibadah akan tercatat jika dilakukan memang karena Alloh.
Hal lain yang nantinya akan membumbui kehidupan berdua bersama pasangan halal adalah tentang visi misi hidup. Akan kemana kamu membawa keluargamu kelak? Lalu bagaimana caranya kamu dan pasanganmu membawa keluargamu ke tujuan itu? Sama seperti life mapping yang kamu tuliskan saat pertama kali kamu masuk kuliah, maka pernikahan pun juga perlu kamu detilkan apa saja yang ingin kamu capai dan bagaimana kamu akan mencapainya. Berdua.
Beberapa minggu lalu juga sempat membaca di ig story penulis Kurniawan Gunadi yang menyingkap pernak pernik kehidupan setelah pernikahan. Ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengan finansial keluarga pun juga sangat perlu. Belum lagi sampai saat ini hantu riba dalam hal kredit rumah, kendaraan atau bahkan perabotan rumah lain juga belum musnah. Jika sejak awal tidak mengetahui tentang riba maka tentu saja akan berdampak pula pada berkah yang akan Allah turunkan pada keluargamu. Di ig story ini Mas Gun (sapaan kebanyakan netijen), juga membuka pemikiran singlewan dan singlewati fisabilillah tentang pentingnya komitmen dalam pernikahan. Terjangan dalam kehidupan setelah menikah tentu akan selalu ada dan jika salah satu pasangan atau bahkan keduanya tidak memegang komitmen untuk selalu bersama menghadapi terjangan itu maka hantu tentang perceraian bukan tidak mungkin datang menghampiri.
Hal lain yang tak kalah penting adalah tentang parenting. Di era modern ini tentu orang tua dan juga calon orang tua perlu sekali memperhatikan ilmu parenting yang akan mereka terapkan ke anak mereka. Sebab jika sejak awal anak tidak dibekali dengan ilmu yang benar, bukan tidak mungkin anak akan terbawa arus globalisasi ke arah yang membawa kerugian baik ke anak maupun orang tua. Saat ini sudah banyak sekali sumber untuk belajar tentang ilmu parenting.
Dari sekian banyak pertimbangan ketika akan memutuskan menikah salah satu hal yang jadi pertimbangan utama setelah kesiapan ilmu adalah kesiapan mental. Tanyakan ke diri sendiri apakah kamu sudah siap menanggung semua tanggungjawab yang akan kamu pikul setelah sah menjadi istri/suami orang? Sudah siapkah kamu menerima keberadaan orang baru dalam kehidupanmu yang akan kamu temui setiap harinya? Sudah cukupkah kamu menahan diri (ego dan emosi) ketika kamu mendapati pasanganmu bersikap atau berperilaku tidak sesuai dengan ekspektasimu? Siapkah kamu menghadapi segala macam tantangan yang akan datang menerjang keluarga kecilmu? Point that!
Belajar tentang ilmu pernikahan membuat pikiran terbuka bahwa memang nikah itu nggak cuma sekadar asyik berduaan aja. Ada tanggungjawab lain yang muncul dan harus dijaga ketika sudah sah menjadi pasangan seseorang. Lalu gimana dengan nikah muda? Bagiku kesiapan ilmu dan mental setiap orang untuk menikah itu beda-beda. Jika memang diusia muda dia sudah siap ilmu dan mentalnya, nggak perlu dinyinyir juga kalo memang mau menikah lebih awal dari yang lain. Lagipula setiap orang kan punya visi misi hidup masing-masing. Daripada sibuk melihat apa yang menjadi keputusan orang lain lebih baik kita fokus ke visi misi hidup kita masing-masing kan. Lagipula pernikahan bukan ajang perlombaan.
Menuntut ilmu itu harus selalu jadi prinsip. Jadi selagi menunggu waktu dan jarak menyusut antara kamu dan jodohmu, kuy perdalam terus ilmu tentang pernikahan. Tapi jangan lupa juga kita perlu perdalam lagi ilmu yang lain. Coba tengok sholat kita udah sesuai dengan tuntunan Rasululloh belum? Coba tanyakan ke diri sendiri, kalo lagi sholat terus baca bacaan sholat itu kita paham nggak apa makna bacaan yang kita baca? Jangan-jangan selama ini nggak sadar dengan maknanya. Coba tengok ke hati. Sudah sampai mana kamu tahu tentang penyakit hati? Sudah bisakah kamu membedakan antara nafs dan takwa? Ilmu diluar pernikahan seperti dua contoh itu perlu sekali kita upgrade setiap waktu. Hal seperti ini nantinya juga diperlukan dalam menjalani hidup ketika sudah menikah. Ah tapi sosmed sekarang kebanyakan cuma ngomongin nikah mulu. Menuntut ilmu nggak cuma dari sosmed. Rekaman kajian di youtube banyak tuu. Bahkan ada yang sampe berepisode. Sebaran informasi kajian juga sekarang mudah didapatkan. Buku tentang agama udah banyak di rak toko buku. Tinggal kitanya aja yang harus menggerakkan hati dan diri ke arah sana, dan pandai-pandainya kita menyaring informasi yang kita peroleh. Mana yang perlu disimpan untuk bekal kedepan atau mana yang cukup diliat saja sebagai pengingat.
Semangat merancang kehidupan pernikahanmu :)
***
Bantul, 25 September 2018

Note : mohon maaf jika ada kesalahan yang ku tuangkan dalam tulisan ini. Mohon koreksinya jika ada yang salah :) -Mutiara Hayati-


CONVERSATION

1 komentar:

  1. haii selamat pagi numpang promo yahhh
    E D E N POKER lagi bagi-bagi bonus newmember
    10.000 Rp Nihh yukk buruaan jangan sampaii
    ketinggalannn !!

    Ijin promo yahh
    Hallo Bossku ! mau kasih info sedikit nihh , di EDENPOKER lagi memberikan bonus
    10.000 Ribu GRATISS LHOO dan kami juga memberikan bonus next depo 5 % juga lhoo
    ayoo buruaan gabung bersama kami di E D E N P O K E R . X Y Z

    BalasHapus

Back
to top