WE COMPLETE EACH OTHER

Aku ingin berbagi sedikit cerita yang pernah ku alami dengan sahabat dekatku, sebut saja dia Antares. Kejadian ini terjadi ketika kami berdua merencanakan perjalanan ke kota tetangga untuk menghadiri sidang sahabat kami, sebut saja Gomeisa. Kami menyiapkan beberapa hadiah spesial untuk Gomeisa, salah satunya adalah handlettering yang ku buat dengan skill pemula.
Sidang Gomeisa dijadwalkan hari Kamis pagi. Dan kami merencanakan sampai sana tengah hari karena paginya Antares ada jadwal mengajar dulu di salah satu SD. Sementara itu di hari Rabu aku ada agenda dari siang sampai malam yang tidak bisa ditinggal. Waktu itu aku belum sama sekali mengerjakan handletteringnya. Akhirnya semua ku kebut di Rabu pagi sebelum siangnya menghadiri agendaku. Awalnya aku sudah merencanakan semua dengan matang, sebelum jam 12 siang handlettering harus sudah jadi. Setelah itu aku harus beli pigura dan kertas kado untuk membungkusnya. Lalu aku harus segera siap-siap untuk agendaku sendiri. Aku merencanakan untuk menyelesaikan urusan handlettering ini sebelum sorenya pergi, karena sudah dipastikan pulang malam jadi tidak akan mungkin menyiapkan.
Tapi karena handlettering yang ku buat tidak hanya satu dan skillku yang masih pemula, rencanaku berubah total. Aku baru selesai ketika waktu sudah mepet untuk persiapan agendaku di luar. Alhasil aku mengabari Antares, bilang apakah dia bisa membelikan pigura supaya besok sebelum berangkat bisa dipasang dulu. Tapi Antares bilang belum tau apakah bisa membelikan atau tidak karena jadwal mengajar di sekolah yang sampai sore. Kelabakan lah aku waktu itu haha. Belum lagi ketika dia mencoba memberikan masukan ke handletteringku.
"Itu kayaknya bagus kalo dikasih corak, Ik." katanya via pesan online.
"Aku udah nggak sempat ngasih tambahan nih. Udah mepet keburu pergi," balasku.
Kemudian statement-statement (yang menurutku) "gila" darinya mulai muncul.
"Oh ya udah gak papa. Besok di kereta aja nambahinnya."
Lah. Aku bengong baca pesannya.
"Kan kita belum tentu dapat tempat duduk :')"
"Kereta jam berapa sih? Kita pagi-pagi aja."
"Lagian di kereta kan goyang, An. Gimana coba mau ngelukis di kereta."
"Bisa bisa."
Yak. Waktu itu dengan perasaan gemas-gemas gimana gitu aku langsung beli pigura karena ketidakpastiannya. Di tengah jalan aku nggak henti-hentinya menertawai kejadian barusan. Maksudku, how come dia bisa berpikiran seenteng itu. Nglukis di kereta? Coba bayangkan aja, mainan cat air di kereta yang jelas itu keretanya bukan kereta Jepang yang kalo jalan gak kerasa goyang. Ku ingin tertawa sambil menangis mengenangnya ahahaha.
Ya begitulah salah satu contoh bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Dan apa jadinya ketika orang yang terorganisir bertemu orang yang spontanitas. Ngeselin tapi lucu juga. Apalagi ketika setelah ku sampaikan unek-unek ini ke dia, masih aja dia bisa membela diri, bilang dengan ngotot, "gak bisa gimana? bisa lah ik nglukis di kereta tu." etdahh wkwkwk.
Benar memang jika orang yang dekat itu biasanya karena memang saling melengkapi. Aku merasakan sekali perbedaanku dengan sahabatku, Antares ini. Dia yang ekstrovert dan aku yang introvert. Dia yang spontanitas dan aku yang tertata. Dia yang bisa santai dengan perubahan dan aku yang akan kelabakan ketika planningku tak berjalan mulus. Justru perbedaan itu yang membuatku bisa akrab dengannya. Aku, si introvert, yang tidak bisa dengan mudah memberikan kepercayaan, ketika bertemu dengannya, entah kenapa aku mudah saja memberikan kepercayaanku kepadanya.
Mengaca dari hal itu, aku jadi paham. Jodoh juga seperti itu ya. Kita dijodohkan oleh Tuhan dengan pasangan yang memang berbeda dengan kita. Apa jadinya jika orang yang suka berbicara dijodohkan dengan yang suka bicara juga? Siapa yang akan mendengarkan jika dua-duanya ingin berbicara? Apa jadinya jika dua orang yang pemarah dijodohkan? Apa jadinya jika dua orang yang pendiam dijodohkan? Apa iya keluarga yang dibentuk nanti akan sunyi sepi gitu? Seorang perencana sepertiku bisa nyambung dengan Antares yang bisa mencairkan suasana ketika aku mulai panik tentang to-do-list-ku. Orang yang spontanitas macam Antares ini lah yang jadi pelengkap ketika aku mulai kelabakan dengan rencana sendiri. Yang bisa menenangkan hati dengan, "santai santai. Jangan panik. Semua bisa diselesaikan."
Iya benar memang bahwa hubungan itu menyatukan perbedaan. Sama seperti menyusun puzzle. Agar nyambung maka potongan-potongannya gak ada yang sama. Sebab potongan satu akan melengkapi yang lain.
Jadi, sebenarnya nggak perlu minder juga dengan kekurangan kita. Jangan jadikan kekurangan dalam diri sebagai alasan untuk menarik diri. Jika memang kekurangan itu tidak bisa diubah maka itu bukan suatu kesalahan. Sebab bisa jadi itu akan cocok dengan kelebihan yang ada di orang lain. Tapi jika kekurangan itu bisa diubah, misal seperti sifat nggak sabaran, ya ubah aja. Memang hakikatnya manusia itu dianjurkan untuk terus mengevaluasi diri sendiri agar jadi pribadi yang lebih baik kan?
We complete each other.
The rainbow will never look beautiful if it's only red or yellow or blue.
Alloh creates Rainbow in different colors to show us that difference looks better in unity.
***
Mutiara Hayati
Bantul, 070318

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top