Suatu malam, tiba-tiba aku teringat tentang kematian. Entah angin apa, tiba-tiba aku membayangkan bagaimana rasanya berada di alam kubur sendiri. Benar-benar sendiri. Di bawah tanah yang menguburku. Aku sendiri di situ. Terbaring. Lalu malaikat datang menunaikan tugasnya. Aku akan ditanyai tentang keimananku pada Tuhan. Jika aku tak menjawab dengan baik, malaikat akan memukulku berkali-kali hingga aku menjawab dengan benar. Tidak ada bapak, ibu, teman, atau saudara yang akan menolongku. Aku benar-benar murni sendiri. Astaga, aku tiba-tiba terbayang semua adegan itu. Dan aku (masih) merasa takut.
"Siapapun yang bernyawa pasti akan merasakan mati...." (QS. Al Imran:185)
itu kata Allah. Dan itu pasti. Pasti terjadi. Dan tidak ada yang tahu kapan waktu itu datang.
Iya, aku (masih) takut. Aku merasa gegabah, sombong, selalu berpikir bahwa waktuku di dunia ini masih banyak dan aku seenak jidat berbuat dosa, tobat, lalu mengulangi dosa lagi. Aku masih sombong karena menganggap aku masih punya waktu lama untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Padahal aku sudah tahu tidak ada yang bisa menjamin kapan waktuku datang. Aku masih terlalu percaya diri bahwa waktuku banyak untuk bercinta dengan dunia. Padahal aku sendiri tak bisa menjamin apakah tahun depan aku masih bisa melengkapi orbitku terhadap matahari untuk yang ke-23 kali. Bahkan untuk urusan pagi besuk pun, aku juga tak bisa menjamin.
Sungguh aku takut. Apakah amalan yang telah ku kerjakan sampai saat ini cukup untuk menjadi penerang di dalam kubur nanti? Apakah amalan yang telah ku lakukan sampai saat ini cukup untuk menjadi teman di alam kubur nanti?
Kawan, -jika belum terpikirkan- sebaiknya kau juga mulai memikirkannya.
***
Bantul, Juni 2017

0 komentar:
Posting Komentar