BERHENTI MENULIS PUISI...

Beberapa minggu lalu, seorang ustadz berkata di tengah beliau menyampaikan tausiyahnya, "jangan terlalu dalam suka pada seseorang yang belum tentu jodohmu. Lantas tiap malam kau habiskan waktumu untuk menulis puisi." semua pendengar yang hadir di acara itu tertawa.
Sebenarnya bukan hanya sekali aku mendengar statement semacam itu. Dan pernyataan seperti itulah yang membuatku bertanya, "apa aku telah melakukan sebuah dosa setiap kali aku melahirkan puisi?"
Dan terhitung tahun lalu, aku berikrar berhenti melahirkan puisi-puisi yang bermuara pada satu nama. Tapi, ikrar itu nampaknya tidak berjalan mulus. Aku berkali-kali kewalahan menahannya.

Ini serius. Aku benar-benar bertanya, apakah sungguh aku telah berdosa ketika menuangkan semua yang ku rasa menjadi berpuluh-puluh judul puisi? Apa sungguh itu terhitung dosa, Tuhan?
Aku tidak tahu. Maafkan aku atas ketidaktahuanku.
Tapi sungguh, jika memang itu dosa, berarti puisi-puisi itu lahir karena aku sejatinya belum mampu mengontrol hati dan rasa. Aku merasa terlalu sesumbar. Bilang memendam tapi dituangkan.

Setelah ini, sungguh aku akan kembali meneruskan ikrarku. Berhenti melahirkan puisi tentangmu. Jadi, kalau kau berkunjung ke album aksara ini, kau mungkin tak akan kembali menemui dirimu di antara kata-kataku. Biar urusan hati ini menjadi urusanku dengan Tuhan. Tapi aku tidak akan berhenti menulis puisi. Aku akan tetap menulis. Bedanya, sebisa mungkin akan ku coba agar tidak bermuara padamu lebih awal (jika memang ini adalah awalan). Aku tidak tahu apakah akan ada puisi yang lahir lagi untukmu atau tidak. Biar waktu yang menjawabnya.
***

Bantul, 2 Juni 2017
Mutiara Ha(ya)ti


CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top