MALU PADA TUHAN

Sebuah percakapan di penghujung senja terselip di antara dua sahabat yang sama-sama mencandui langit
"Kau tahu, akhir-akhir ini aku merasa sangat malu pada Tuhan," kata perempuan yang dipanggil orang Senja.
"Malu pada Tuhan? Malu bagaimana?" tanya sahabatnya yang sering dipanggil Fajar.
"Aku merasa sangat malu pada Tuhan, sebab aku hanya akan datang dan menangis pada-Nya ketika banyak masalah menimpa. Ketika apa yang ku kerjakan seperti sia-sia, tak berujung sesuai harapan, atau bahkan sulit untuk ku selesaikan. Hanya saat tekanan itu sudah mulai membuat kepalaku hampir pecah aku baru bersimpuh menangis di depan-Nya. Sisanya, ketika kesuksesan ku genggam seketika itu juga Tuhan ku lupakan. Sungguh, aku malu sekali dengan diriku yang demikian." 
Fajar tersenyum tipis mendengar penjelasan Senja. 
"Sama. Aku juga sering merasa malu. Terlebih ketika sudah lama aku tidak bersungguh-sungguh memanjatkan doa pada-Nya, lalu tiba-tiba aku melakukannya karena aku merasa lemah." 
"Ya, kan? Kau berarti tahu bagaimana rasanya." 
"Tapi, justru seperti itu salah satu yang Tuhan suka." 
"Maksud kamu?"
"Meski seseorang hanya menangis di depan Tuhan ketika masalah melanda, tapi justru itu yang disukai Tuhan. Daripada ketika masalah melanda lalu seseorang itu justru membawa masalah itu jauh dari Tuhan. Setidaknya, orang itu sadar kalau hanya Tuhan yang bisa membantu menyelesaikan permasalahnnya."
Hening sejenak. Lembayung senja mulai menipis di ujung cakrawala. 
"Kau benar," ujar Senja. "Tapi akan jauh lebih baik lagi kalau orang itu menghadap Tuhan dengan sepenuh hati dalam kondisi suka maupun duka, kan?" 
"Memang," Fajar tersenyum.
Senja di barat sempurna tenggelam. 
***

Bantul, Juli 2017
-Mutiara Hayati-

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top