SEMEJA BERDUA


Sebuah meja
Kau dan aku
Duduk di antara malam basah
Hujan di luar, beradu rasa dan beku di dalamnya
Berdentingan, memercik yang kehilangan
Segelas kopi di depanmu
Dan segelas teh hangat di tanganku
Berpandangan, melarutkan kata-kata kita dalam pahitnya kopi
Kau bertanya padaku dengan matamu,
“Apakah di dalam sana dingin?”
Aku mengangguk (juga dengan mataku)
Lalu, kata-kata itu ku lihat menguap lagi dari matamu
Aromanya sejenak ku hirup, tapi kopimu lebih merasuk
Pahit, yang ku cium hanya pahit
Aku bertanya padamu dengan mataku
“Apakah di dalam sana dingin?”
Kau mengangguk (juga dengan matamu)
Teh manis ku sodorkan padamu
“Untuk apa?” kau bertanya (dengan matamu)
“Minumlah. Ada puluhan bait puisi terlarut di dalamnya. Ia dapat mendekam dinginmu,” mataku berbicara

Bungkam
*
Sebuah meja
Kau dan aku
Di antara malam, duduk berdua
Di luar hujan memetik dawainya
Kita mengobrol berdua, dengan mata
Tapi obrolan kita hanya sebatas kau, hujan, dan aku
Kau tak menerobos hujan untuk meraih puisiku
Dan aku terlalu kaku untuk meraih kata-kata yang menguap bersama kabut di matamu
***


Pagaralam, 30 Maret 2017
-Mutiara Ha(ya)ti-

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top