MENUNGGU SEPI

Aku ingin menunggu sepi dulu, Kawan
Pagi kemarin rasanya sudah riuh saja
Angin bergerak dengan mulut
Dingin juga sudah berdesakan di perempatan kota
Embun yang selalu mengecupku tiap pagi, entah menginap di helai daun mana
Aku hanya tengah rindu pada sepi
yang biasanya duduk di kursi taman dengan senyum manisnya

Aku ingin menanti sepi datang dulu, Kawan
Siang rasanya sudah bukan lagi tempat favorit sepi
Aroma tubuhnya tidak pernah lagi tercium bekasnya
Ku coba tanya pada roda-roda delman yang seharian mengitari kota, sepi tak tampak hidungnya
Aspal jalan masih sama mengutuk keberadaanku, yang berjalan mondar mandir mencari jejak sepi yang barangkali mengering di perutnya
Aku hanya rindu pada sepi, yang biasanya selalu menawariku payung untuk melindungiku dari sengatan langit

Aku ingin memeluk sepi dulu, Kawan
Sore hari adalah saat senyumnya semakin manis di wajah
Senja adalah sajak kesukaannya, ia suka saat aku membacakan beberapa bait hati tepat di telinganya
Dan senja di ujung sana menyoraki kami hingga aku tersipu dan sepi kembali mengecup keningku
Aku hanya rindu kemesraan kami,
ia yang selalu tahu bagaimana caranya membuatku jatuh hati padanya berkali-kali

Aku ingin bersandar pada sepi dulu, Kawan
Malam adalah panggung baginya untuk menyanyikan lagu romantis
Di bawah formasi lintang dan pendaran perak syahdu
Menghanyutkanku pada tarian kata dan rasa yang berpilin dalam melodi
Tiada dingin yang ingin memaksa orang mengenakan jaket tebalnya
Aku dan orang-orang akan dengan senang hati berhamburan dalam pesta
Sepi adalah bintang utamanya
Menyanyi di panggung, sembari matanya menatapku lembut
Amat romantis

Aku hanya rindu sekali pada sepi, Kawan
Aku rindu dengan bualannya ketika mengartikan puisiku
Aku rindu dengan tawanya ketika aku meluapkan kecemburuanku yang tak bertuan
Aku rindu dengan tangannya yang mengusapku lembut ketika memeras mata adalah satu-satunya yang bisa ku lakukan malam itu
Aku hanya sedang rindu pada sepi, Kawan
Jadi tinggalkan dulu aku
Izinkan aku duduk di sini sendiri
Aku akan menanti sepi datang lagi
Bahkan meski puisiku harus mengejang ngeri
 ***

Tanjung Permai, November 2016
Mutiara Ha(ya)ti

CONVERSATION

1 komentar:

Back
to top