MEMBANGUN KEPERCAYAAN


Manusia terkadang sangat sombong di dunia ini. Keberhasilan, keberuntungan, kemenangan, kesenangan, dan kenikmatan yang diperoleh, dirasakan sebagai buah dari tangan mereka sendiri. Seolah mereka punya kekuatan besar untuk mengubah suatu hal menjadi luar biasa. Seolah mereka yang punya kuasa atas rencana-rencana yang sudah dirancang sebelumnya. Seolah mereka yang memegang kendali atas setiap penggal kisah di kehidupan. 

Manusia terkadang juga terlalu dalam membenamkan dirinya dalam pikiran negatif. Sibuk mereka-reka ketakutan dan kekhawatiran menjadi hantu besar dalam angan mereka. Sibuk merangkai kemungkinan buruk di masa mendatang. Sibuk menangis tapi air matanya hanya sebatas jatuh saja, tidak melalukan batu yang mengganjal di hati maupun pikiran. Sibuk menulis sederet kalimat keluh, lantas dipandangi setiap hari, diulang-ulang dari matahari terbit hingga terbit lagi. Sibuk membesarkan kecemasan. Seolah mereka sendiri saja. Seolah tidak ada yang menjanjikan kebahagiaan untuk mereka.

Sayang sekali. Manusia terkadang lupa pada Tuhan. Tapi, lebih menyayangkan lagi manusia yang ingat Tuhan namun lupa untuk mempercayakan hidup pada-Nya. Iya. Mempercayakan segala hal pada Tuhan. Kepercayaan yang dibangun itulah yang akan meruntuhkan semua pikiran negatif manusia tentang kehidupan. Kepercayaan itu juga yang akan mematikan benih kesombongan dalam hati manusia, sebab mereka akan sadar semua yang diperoleh adalah skenario Tuhan yang akhirnya mereka lakonkan. Kepercayaan yang dibangun pada Tuhan akan membawa ketenangan adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan.

Kepercayaan pada Tuhan. Itu akan menjadi sebuah PR besar bagiku, kamu dan kalian juga, di masa kini dan mendatang. Memastikan kepercayaan itu kita bangun dalam diri, jika belum sejak kemarin, setidaknya sejak saat ini. Kita juga perlu mengusahakan agar kepercayaan ini tetap ada di masa mendatang. Jadi, kelak saat masing-masing dari kita sudah memiliki anak, rumus ini dapat kita tanamkan dalam diri mereka. Bukankah mengharukan ya membayangkan anakmu kelak berkata, "Tidak apa-apa, aku kan punya Allah." di sela-sela kesulitan yang dia hadapi. Dan akan lebih mengharukan lagi jika sewaktu kita kehilangan kepercayaan itu, si kecil yang masih polos berbisik di telingamu, "Jangan menangis, Bu. Ibu kan punya Allah."

Jadi,
Berhentilah sombong.
Berhentilah mengeluh.
Berhentilah dari kecemasanmu.
Kau punya Allah.
Kau punya Allah.
Kau punya Allah.
Lalu tersenyum :)

***
Bantul, 29 November 2016

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top