SECANGKIR PUISI DAN SELEMBAR KOPI

Malam menghitam
Aku ditemani secangkir puisi
yang pernah ku racik untukmu
Masih mengepul kata-katanya,
melebur padu dengan malam yang terasa beku
Sayangnya, kau hanya menatap secangkir puisi buatanku
Lantas kau meninggalkannya dengan tawa,
seolah aku meracik lelucon di dalamnya

Malam temaram,
Aku ditemani selembar kopi yang baru saja tintanya mengering,
Bekasnya masih hangat
Aromanya masih pekat
Selembar kopi ini juga ku tuliskan untukmu
Bersama rasa pahit mengendap menjadi bercak kepengecutan
Sayangnya, kau entah membacanya tidak
Sebab kau datang dengan mata dibenteng kaca hitam
Aku tak bisa membaca apa yang ada di baliknya

Malam kembali padam
Aku ditemani secangkir puisi dan selembar kopi,
yang semuanya khusus ku buat untuk yang masih berupa bayangan di mataku
Puisi ini pahit, dan kopi ini hampa
Tuhan seperti tengah mengaduk aku-kau dan puisi-kopi
pada dua cangkir yang berbeda
Puisi dan kopi melebur satu
Tapi entah untuk kau dan aku
Sebab kita masih bagai larutan yang berdiri sendiri
Entah akhirnya kita akan pusing sendiri diaduk,
lantas menunggu Tuhan mengaduk kita di cangkir terpisah
Atau kita hanya harus menahan pusing beberapa saat,
sebelum akhirnya menjadi satu larutan

Malam
Aku ditemani secangkir puisi dan selembar kopi
Seperti biasa di teras rumah,
ku seruput pahitnya puisi yang ku tuangkan menjadi selembar kopi

*** 

Bantul, 16 11 16
Mutiara Ha(ya)ti

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top