KAU MEMBUTUHKAN MEREKA. MEREKA MEMBUTUHKANMU

Sore kemarin, aku dan kedua sahabatku memutuskan untuk berkumpul setelah berminggu-minggu kami tidak saling bertemu full team. Salah satu sahabatku melanjutkan studi yang lokasinya cukup jauh dan melelahkan untuk ditempuh dengan sepeda motor. Dan baru kemarin setelah sekian lama akhirnya kami dipertemukan kembali di tempat sama.
Awalnya, niat kami bertemu adalah untuk membahas project kami. Tapi suasana sore itu yang menyenangkan membawa obrolan kami yang semula berkutat masalah bisnis menjadi curhat pribadi. Haha. Perempuan. Kalau sudah bertemu tempat yang nyaman akan keluar sisi bapernya juga. 
"Aku pengen curhat!" celetuk salah satu dari kami tiba-tiba.
"Ah, iya. Aku juga pengen cerita." sahabatku yang kuliah di tempat jauh ikut menimpali.
Tinggal aku yang diam sendiri, siap mendengarkan cerita masing-masing dari mereka.
Mulai lah sesi curhat itu. Mereka saling cerita permasalahan masing-masing. Dan setelah selesai maka aku dan yang lain akan memberikan tanggapan dan jawaban yang diajukan. Biasanya kami memang mengakhiri sesi cerita kami dengan sebuah pertanyaan yang mengganggu diri kami masing-masing. Di situlah sisi serunya. Aku selalu mendapat pandangan lain. Kadang juga sentilan. Seringnya saran yang sangat membantu.
Mereka banyak bercerita. Tentang bagaimana caranya harus menjaga hati ketika sudah berusaha untuk menciptakan jarak tapi takdir membawanya mendekat kembali. Tentang kepastian yang tidak pasti. Obrolan kami hangat. Hingga akhirnya mereka selesai menyelesaikan cerita dan sesi menyampaikan pendapat. Kedua sahabatku lantas menatapku.
"Apa?"
"Tinggal kamu yang belum cerita, Ik." 
Nah, serasa ditabok. Aku gelagapan sendiri. Sejujurnya aku bukan tipe orang yang mudah menceritakan masalah pribadi ke orang. Bahkan untuk masalah cinta yang sering kali memusingkan atau menuntutku menulis barisan puisi, aku tidak bisa menceritakan ke orang lain. Aku pernah bertekad tidak akan ada yang boleh tahu masalah "keresahan" ini sebelum ia benar-benar mencapai puncaknya yaitu ketika aku tidak bisa berkutat dengan pertanyaanku sendiri, atau ketika masalah itu sudah selesai. 
Ah, awalnya aku mengutuk suasana sore itu yang terlalu nyaman untuk bercerita. Aku akhirnya membeberkan hampir 85% dari perlawanan yang ada di diriku sendiri. Perlawanan sepihak. Dan seperti biasa mereka akan menyimakku dengan seksama. Rasanya saat itu aku menguliti diriku sendiri. 
Tapi sebenarnya bukan itu yang jadi inti keresahan kenapa aku menuliskan peristiwa sore kemarin. Aku menuliskannya bukan tentang apa permasalahan kami. Bukan tentang bagaimana mereka memperlakukanku. Tapi tentang bagaimana mereka mau selalu mendengarkanku dan menguatkanku.
Aku sering bertanya, di dalam hidup yang didasari aturan dari pedoman, kenapa masih banyak yang sudah tahu boleh tidaknya tapi tetap nekat dilakukan. Banyak yang tahu bahwa hubungan dekat laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah larangan. Tapi berapa banyak remaja yang pacaran saat ini? Banyak yang tahu betapa Allah amat menginginkan muslimah mengulurkan jilbabnya. Tapi berapa banyak muslimah yang belum berkerudung saat ini? Banyak yang tahu ghibah haram hukumnya. Tapi berapa banyak infotainment merebak di televisi? Dan berapa banyak pasang mata yang menontonnya tiap hari? Masih banyak pertanyaan lain di kepalaku. Yang semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan satu kata saja: banyak
Aku sering mendengar bahkan aku mengoar-ngoarkan dalam diriku sendiri tentang suatu perubahan. Tentang memperbaiki diri. Tentang menjadi pribadi yang lebih baik. Tentang fastabiqul khairat. Tapi setelah aku menjalaninya dan bertemu dengar mereka, aku sadar aku tak bisa menjalankan perubahan itu sendiri. Aku tetap butuh gandengan tangan dan telinga lain, mulut lain, dan pandangan lain untuk mewujudkan perubahan itu. Aku butuh sahabat. Sahabat yang bersedia menguatkan, mengarahkan, dan mendukung. Sebab sekuat-kuatnya seseorang ia tetap butuh penguatan dari orang lain. Semandiri-mandirinya orang ia tetap butuh orang lain. 
Jika kau baca cerita ini, aku hanya ingin bilang. Untuk sebuah perubahan dalam dirimu. Untuk visi baru dalam dirimu. Untuk mimpi yang ingin kau tuju. Kau butuh orang-orang atau seseorang untuk menggandeng tanganmu. Sebab ada kalanya kita pasti akan ada di titik terendah dalam sebuah perjalanan. Maka, disitulah letak pentingnya sahabat seperjuangan. Kau membutuhkan mereka. Mereka membutuhkanmu. Jadi kau akan mudah bangkit. Kembali tersenyum menatap mimpimu atau tujuan dari visimu.

Salam semangat untuk perubahan yang lebih baik :)

Untuk kedua sahabatku yang spesial, aku adalah salah satu dari milyaran orang di dunia yang sangat beruntung memiliki kalian :) 
***
Tanjung, sebuah pagi, 27 Juni 2016

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top