Aku bukan
langit
Ya. Bukan!
Memang siapa
bilang aku langit?
Tapi sungguh
aku bukan langit
Sekalipun gumpal
di hati yang mendenyutkan jiwaku,
selapang langit
yang menggantung di atas ubun-ubunku
Aku tetap bukan
langit
Meski selembar
hari ia melukis resah
Selembar hari
lain ia melukis bungah
Aku bukan
langit dan tak akan menjadi langit
Meski ada
kalanya aku terbuai gelap layak langit tidur terlelap
Dan di kala
lain aku sempurna terisi warna warni
Persis seperti
langit berkalung pelangi
Aku tetap
bukan langit dan menolak menjadi langit
Ada banyak
sisi dan sudut yang sama di antara kami
Pun ada suka
saat mataku melanglang jauh menatapnya
Dan ia akan
balas senyumku dengan kedipan genit di mata
Tapi aku kukuh
bukan langit, pun saudaranya
Kami hanya dua
maha karya yang dipertemukan dalam banyak mozaik yang sama
Aku bukan
langit dan langit bukan aku
Aku tak akan
menjadi langit dan langit tak akan menjadi aku
Sebab yang
kembar pun punya sisi berbeda
Terlebih aku
dan langit yang tak sebapak sebunda
Kau tau apa
bedaku dengan langit?
Adalah hati
Hatiku memang
selapang langit
Tapi tidak
serupa langit kala mengandung banyak butir sendu di hatinya
Langit akan
tumpahkan,
meski itu akan
membuat Dewa di istana menebaskan pedang kilatnya,
dan monster
angkasa menyerukan gemuruh kebenciannya
Butir rasa akan
tetap ia tumpahkan
Sekalipun butir
itu adalah rasa cinta yang menggulung ombak di hatinya
Sedang, saat
loker di hatiku telah penuh sampah berasa kelu,
aku akan tetap
berdiri melukis warna di pipi
Meskipun butir
itu bermetamorfosis belati bermata dua
aku akan tetap
berdiri dengan posisi sama
bahkan jika
butir itu adalah gemuruh rasa
yang saban
hari meletup, menggulung, mengaduk hingga berupa tanpa bentuk
aku tidak akan
meluapkannya
pada semua
mata terlebih pada rupa yang didamba
Memang benar
aku bukan langit dan langit bukan aku
sebab aku tak
akan pernah menjelma langit
dan langit tak
akan pernah menjelma aku
Keyongan
Kidul, 9 Maret 2015
-eLKa
0 komentar:
Posting Komentar