Tidak
terasa sudah 24 lebih 5 bulan aku mengorbit matahari. Rasa-rasanya baru
beberapa hari lalu aku masih sibuk berkutat dengan laporan praktikum Hidrologi
Sungai yang membuatku pusing lantaran harus mengukur kontur DAS dengan benang.
Rasanya baru beberapa minggu lalu aku dan Annis, sahabatku, pergi ke rental
komik depan sekolah untuk menyewa beberapa komik. Rasanya baru bulan kemarin
aku menghabiskan waktu istirahatku di perpusatakaan SMP untuk membaca buku
tentang dinosaurus atau astronomi. Rasanya baru sekian purnama lalu, aku
menghabiskan waktu seusai pulang sekolah untuk bermain mengeksplore desa
bersama teman-teman masa kecilku. Sudah 24 revolusi terhadap matahari, sebelum
akhirnya aku menapak pada satu jenjang kehidupan yang selalu digadang-gadang sebagai
kenaikan level yang berbeda dari kehidupan di dunia.
Setiap
kali menengok ke depan pada mimpi-mimpi yang ingin dicapai, pikiranku akan
kembali terlempar pada hal-hal yang ku alami selama 24 tahun ini, khususnya
pada apa yang ku alami ketika masih menjadi anak kecil polos yang lelahnya
hanya sebatas akibat seharian bermain di luar rumah. Seperti pilihanku sekitar
hampir 6 tahun yang lalu untuk memilih Geografi sebagai pilihan studiku setelah
lulus SMA. Pilihan itu tidak lepas dari apa yang telah diajarkan oleh bapak
selama aku masih kecil. Iya, bapak adalah alasan kenapa aku bisa sangat
menyukai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam. Ketertarikanku
pada Astronomi muncul setelah bapak mengenalkan padaku setiap malam cerah
tentang rasi bintang atau pengalaman beliau ketika kecil suka berburu satelit
di langit. Bapak juga yang selalu mengajakku mampir mengeksplore Sungai Opak
atau memetik bunga liar di pinggir jalan, sepulang dari membeli pakan ayam di
Imogiri. Bapak dan ibu pun selalu tidak keberatan ketika mereka hendak pergi ke
kota, aku selalu minta untuk dibelikan majalah Bobo atau buku tentang sains.
Angka
24, cukup bagiku untuk menyadari bahwa memang kehidupan perlu dijalani dengan
penuh kesabaran. Aku tidak menyadari itu sampai akhirnya benar-benar mengalami
sendiri bagaimana Tuhan membimbingku untuk selalu menaikkan level sabar setiap
waktu. Hingga akhirnya hal ini membuatku menyadari tentang kenaikan level sabar
sejak awal sudah nampak dari sosok ibu. Bagaimana ibu yang sejak aku kecil
terus menaikkan kapasitas sabarnya, menghadapi aku yang sedikit-sedikit
merengek menuntut ini-itu. Lalu lahirlah adik yang membuat kesabaran ibu terus
naik karena menghadapi aku dan adik yang selalu banyak tingkah. Ibu yang selalu
berhasil menahan egonya setiap kali menghadapi aku dan adikku ketika sedang
emosional. Iya, ibu adalah sosok penyabar yang ku temui di dunia ini. Dan hal
ini tentu saja membuatku mengaca pada diriku, bahwa poin inilah yang harus aku
pegang untuk menjalani langkah-langkah ke depan kelak.
Terlalu
banyak hal yang ingin disampaikan dari apa yang telah ku alami sejak kecil.
Bekal-bekal ilmu yang telah ditanamkan oleh bapak ibu sejak kecil. Termasuk
kenangan-kenangan manis yang telah ku lelaui bersama bapak ibu. Terkadang rindu
juga bagaimana rasanya menghabiskan waktu bersama ketika mati listrik di kamar
mendengarkan cerita bapak tentang apapun. Bermain dengan bayangan tangan yang
dibentuk hewan, mendengarkan cerita tentang nabi-nabi, dan cerita pengalaman
bapak ibu semasa kecil yang membuat aku dan adik terbayang bagaimana keseruan
bapak ibu menjalani masa kecilnya. Rindu juga rasanya dulu pada beberapa waktu
sengaja bangun dini hari hanya untuk menyaksikan puncak hujan meteor. Masih
ingat bagaimana aku berteriak senang ketika pertama kali melihat fireball dengan kepulan asap yang jelas
di langit. Saking senangnya hingga tanganku mengenai mata adikku yang berdiri
polos di sampingku sambil mendongak ke langit. Pun rindu bagaimana rasanya
bangga menjadi seorang kakak setelah berhasil menidurkan adik di kamar dengan
dongeng tentang hewan-hewan yang ku karang sendiri.
Agak
aneh rasanya mengumpulkan tugas kuliah dengan gaya bahasa yang sama dengan gaya
bahasa yang ku gunakan ketika aku menulis untuk di-post di blog pribadiku. Tapi memang sejak lama ingin menuliskan
tentang hal ini. Jika mungkin tidak ada tugas ini, entah kapan akan berhasil ku
tulis tentang kenangan masa kecilku yang penuh dengan hal-hal yang patut ku
syukuri. Termasuk menjadi anak sulung ibu bapak yang selalu senang menyambut weekend karena bisa pulang ke rumah
dengan segudang cerita yang kualami selama 6 hari. Termasuk rasa syukur karena
sampai saat ini masih dikaruniai kenikmatan waktu untuk menghabiskan masa
orbitku bersama dua malaikat dan adik sholihahku.
***
Bantul,
14 November 2019
*note : jadi semester ganjil kemarin dapat tugas dari salah satu dosen utk menulis tentang masa kecil. Tapi pada akhirnya tidak dikumpulkan karena beliau meminta perwakilan dari kami utk menceritakan langsung di kelas.
0 komentar:
Posting Komentar