TIDAK ADA YANG BOLEH TAHU

Aku masih SD saat itu. Setiap minggunya aku dan beberapa teman bermainku mengikuti TPA yang diadakan sendiri oleh bapak di rumah. Seperti biasa, seusai setoran membaca iqro atau Al Qur'an, bapak akan memulai materi atau bercerita tentang kisah nabi dan para sahabat. Sore itu, sebelum menutup TPA bapak memberikan tugas pada kami. Masing-masing dari kami diberi amplop kosong.
"Tuliskan cita-cita kalian di selembar kertas lalu masukkan ke amplop itu. Syaratnya, tidak ada yang boleh tahu apa yang kamu tulis di selembar kertas itu. Siapapun itu, termasuk Alloh dan malaikat tidak boleh tahu. Kumpulkan lagi minggu depan."
Kami terbengong mendengar tugas kami saat itu. Apa kaitannya tugas ini dengan materi yang disampaikan bapak tadi? Dan yang terpenting di mana kami harus menuliskan cita-cita kami dengan syarat tidak boleh ada yang tahu apa yang ditulis? Bukannya bapak pernah bilang kalo Alloh selalu melihat kita? Tapi terus tugas ini gimana ngerjainnya? Kira-kira seperti itu yang terpikir dibenakku.  
Beberapa hari setelah tugas itu diberikan aku masih belum menyelesaikan tugas itu. Aku masih berpikir dimana sebaiknya menuliskan cita-citaku di selembar kertas dengan syarat tidak ada yang boleh tahu.
Hingga suatu hari, ketika masih di sekolah dan masih jam pelajaran, aku izin untuk ke kamar kecil. Di kantung seragamku sudah ku selipkan selembar kertas, amplop, dan pensil. Haha. Ya, aku berencana menuliskannya di dalam kamar mandi. Meski saat itu aku tidak yakin juga karena yakin Alloh pasti tahu aku sedang di kamar mandi sekolah dan menuliskan cita-cita di selembar kertas. Bahkan Allah pasti tahu apa yang ku tuliskan.
Minggu depannya, kami mengumpulkan amplop tersebut ke bapak. Setelah di cek, kami "berhasil" menuliskan cita-cita masing-masing di selembar kertas. bapak bertanya dimana kami menulisnya, dan satu persatu kami bercerita. Bapak tersenyum waktu itu mendengar jawaban polos kami. Lalu beliau menjelaskan.
"Mau dimana pun kalian menuliskan cita-cita kalian ini, Allah sesungguhnya tahu apa yang kalian tuliskan, karena nggak mungkin Alloh nggak tahu. Allah Maha Tahu."
"Lalu harusnya kami nulisnya gimana, Pak?" tanya kami polos.
"Karena tidak ada yang boleh tahu apa yang kalian tulis, sedangkan faktanya Alloh tetap tahu apa yang kalian tulis, jadi seharusnya amplop ini kalian biarkan kosong saja. Kalian tidak perlu menuliskan cita-cita kalian di amplop."
Kami tertegun saat itu mendengar jawaban bapak. Begitu membekasnya memori itu sampai terkadang terputar kembali di pikiranku, meski sudah sekian belas tahun yang lalu. Tapi setiap teringat hal itu, aku jadi sadar bahwa sesungguhnya saat itu bapak tengah menanamkan suatu pemahaman penting pada kami. Pemahaman tentang salah satu sifat Alloh, yaitu maha tahu.
Pemahaman yang ditanamkan oleh bapak, bahwa Allah Maha Tahu sesungguhnya tidak sesederhana itu. Ada makna mendalam jika kita memaknainya dengan seksama. Hal ini mengingatkan diri ini bahwa memang mau kita berkelit apapun Allah tetap akan mengetahui. Mau kita berlari dan bersembunyi di tempat teraman di dunia sekalipun Allah tetap masih bisa mengawasi. Jika sudah menyadari dan meyakini hal ini, maka seharusnya pemahaman ini menjadi alasan terkuat ketika kita hendak berbuat hal yang bisa mendatangkan dosa. Sekalipun saat itu kita sendiri tidak ada orang yang mengawasi, tapi faktanya masih ada Alloh yang mengawasi. Bahkan ada malaikat yang mencatat gerak-gerikmu saat itu.
Tapi memang tanpa sadar kita lupa dengan pemahaman tentang salah satu sifat Allah ini. Dan hal itu berujung pada kita yang dengan sengaja berbuat dosa atau bersikap santai saja ketika berbuat dosa, lupa kalau ada malaikat Atid yang saat itu juga menulis di catatannya. Sekuat apapun kita menahan diri dari dosa, memang ada kalanya kita tetap tidak bisa lepas dari dosa. Karena memang takdir yang digariskan pada kita, manusia. Namun hal ini tentu saja tidak seolah membuat kita berpikir :
"ya udah mau gimana lagi kita kan emang diciptakan untuk nggak bisa lepas dari kesalahan, jadi buat apa nahan-nahan berbuat salah?"
Hmm iyaa memang manusia nggak bisa lepas dari salah, tapi usaha kita menahan diri dari berbuat salah itu menjadi catatan amalan kebaikan bagi kita. Meski ternyata kita tetap berbuat salah setiap harinya, tapi ada satu hal lagi dari sifat Allah yang perlu kita tanamkan dalam hati. Allah Maha Pengampun. Diciptakan kita sebagai makhluk yang rawan berbuat dosa seharusnya mampu menuntut kita untuk memohon ampun pada Allah setiap harinya. Itulah mengapa Rasululloh menganjurkan kita untuk memperbanyak istighfar setiap harinya. Karena kita nggak tahu dosa yang kita lakukan di waktu itu sudah diampuni belum oleh Allah :(
Jadi dimanapun kita berada semoga kita selalu ingat bahwa ada Alloh yang selalu mengawasi gerak-gerik kita. Akan jauh lebih baik jika dengan kesadaran ini kita lengkapi dengan berbuat kebaikan pada diri sendiri dan sesama sehingga Allah akan tersenyum melihatmu berbuat baik dengan ikhlas.
***
Gedongtengen, 10 Desember 2018
-Mutiara Hayati-


CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar

Back
to top