LAGU(KU)

Perahu kertas ku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

-beberapa tahun silam-
Lagu ini banyak disukai orang. Di tahun ketika lagu ini berada di puncak kesuksesan, dimana saja pasti diputar. Terlebih mereka yang sedang mabuk cinta dengan pasangannya.
Aku juga sering mendengar lagu ini. Di kelas ketika sedang menghabiskan jam kosong. Di toko buku. Di mobil. Nonton TV. Tapi bukannya menikmati, aku justru menutup kuping. Enggan mendengar. Bahkan mendengar judulnya pun tidak suka.
“Putar lagu yang lain, dong!”
Kalimat itu ku katakan setiap ada teman yang memutar. Tapi pada beberapa situasi aku memilih mengalah. Beranjak menjauh dari mereka dan baru kembali setelah lagu itu selesai diputar.
Lagu ini dulunya milik kalian. Dan aku selalu benci untuk mendengarnya. Saat kalian berlarian riang merayakan cinta, aku tersuruk di lembah kegelapan. Puisiku berserakan. Penuh bercak tangis luka. Penuh darah kesabaran yang terbuang sia-sia. Penuh patahan doa yang tak bisa disatukan.
Lagu ini dulunya milik kalian. Dan aku membencinya.

-Janurai, 2016-
Setiap sakit pasti akan disembuhkan, sekalipun dengan kematian.
Setiap luka pasti akan disembuhkan, sekalipun butuh hati yang baru untuk disematkan.
Siang ini, setelah lama bersusah payah membangun separuh hati yang rubuh, akhirnya aku memberanikan diri mendengarkan lagu kalian secara utuh, dari detik pertama sampai terakhir. Menyesapi setiap ketukan nada dan syair di dalamnya. Aku penasaran apakah masih akan ada nyeri yang terasa atau tidak sama sekali. Aku penasaran, apakah benar hatiku sudah sembuh total.
Ah, ternyata aku berhasil mendengarkannya. Awal ketukan nada kenangan dan luka lama memang sempat terputar. Tapi tak lama kemudian aku berhasil tersenyum. Kenangan dan luka itu adalah masa lalu bersama dengan hatiku yang dulu. Tidak ada lagi yang perlu dirasakan. Tidak ada yang harus ditangisi. Aku sudah hidup dengan sepotong hati yang baru. Dan dengan ini bahagia menyergapiku.

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(Cinta-cinta) cita-cita,
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Lagu ini dulunya memang milik kalian. Tapi dengan senyum keikhlasan dan syukur atas nikmat yang masih diberi, lagu ini berubah menjadi milikku. Mungkin memang terkesan terlambat karena baru saat ini ia meledak-ledak di hati. Tapi mana peduli. Sebagaimana cinta, dia tidak datang melihat waktu. Kapan saja bisa meramaikan dengan percikan warna-warni di langit hati.
Aku memutuskan untuk hidup dengan hati yang baru. Kau pasti tahu lah, barang yang rusak harus diganti. Jika dipaksa ia tidak akan berfungsi lagi. Diperbaiki? Ah, iya memang memungkinkan. Tapi tetap saja dia tidak akan berfungsi maksimal seperti dulu. Lagipula Yang Maha Cinta adalah Maha Baik dan Pemberi. Jika Dia menawarkan yang lebih baik, kenapa harus ditolak dan kukuh untuk hidup dengan barang yang lama? Dalih atas nama setia? Cinta sejati? Hmm… ku pikir cinta sejati tidak akan pernah melukai.
Lagu ini dulunya milik kalian, tapi sekarang ia milikku.

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku, menemukanmu

(Perahu Kertas – Maudy Ayunda)

CONVERSATION

1 komentar:

  1. Kenapa aku terharu ya bacanya? :') itu lagu((ku)) kalii Yuk #mencobamerebut

    BalasHapus

Back
to top