Angka yang tak
tersentuh hitung
Tentang hari yang tak
kunjung berwujud mimpi
Sekat itu masih sama,
melekat
Jika tertimbun lelah,
nampak makin menjulang tubuhnya
Alangkah mirisnya,
kisah yang hidupnya dijejali desah
Bukan pintaku bayi
merah ini berdenyut di hati
Ku tahu ia lahir begitu
saja, tanpa pernah menular kejang
Sadarku, malam jadi
siangku
Dan siangku jadi
malamku
Dunia terputar seiring
dia membulat besar
Tapi bukan gemuruh cita
bersemayam
Adanya seonggok tanya
berbaju kelam
Dan sebilah pedang
tertodong tajam
Tentang ia yang hanya
terjangkau mata
Dari jarak ratusan
angkasa
Aduhai, laksana ia
bulan dan aku bumi
Ia hanya bisa ku
pandang,
Tanpa sekata menjalin
kawan, merajut girang
Mungkin alam benar,
Aku harus menjelma
lubang hitam
Agar rasa ini kuasa
menarikmu di samping hati, menjajari
Agar kau sungguh mau
mengecupku dengan senyum, tahu
Ada namamu tersemat di
selendang doaku, selalu
Keyongan Kidul, Oktober 2014
-Mutiara Ha(ya)ti
0 komentar:
Posting Komentar