....
Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang
ada kah kau dengar?
(TUHAN TELAH MENEGURMU - APIP MUSTOFA)
27 Mei 2006, hari itu seharusnya menjadi hari bahagia seluruh masyarakat Kabupaten Gunungkidul, sebab 27 Mei adalah hari jadi Kabupaten Gunungkidul ke-175. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alam seolah membalikkan muka. Menunjukkan rupa garang yang dalam sekian detik, bangunan yang berdiri kokoh, ambruk mencium tanah. Dalam sekian detik pula puluhan manusia menjemput takdir ajalnya. Dalam sekian detik jutaan ketakutan merayapi bocah-bocah polos yang mencari jawaban atas pertanyaan yang menjejali pikirannya. Kenapa tanah berguncang? Kenapa rumahku roboh? Kenapa banyak teriakan? Kenapa ibu menangis? Kenapa ibu memelukku seolah takut kehilangan aku? Kenapa bapak jatuh tergeletak? Kenapa? Dalam sekian detik saja, senyum-senyum lenyap. Sempurna tergantikan tangisan dan teriakan pilu.
27 Mei 2006. Aku masih kelas 5 SD. Bocah kecil yang setiap hari bercengkrama dengan alam, tertawa dengan alam, bersahabat dengan alam. Tapi pagi itu juga pikiranku sempurna dipenuhi tanya. Ini kah bencana? Saat ku lihat bangunan pasar di depan rumahku roboh. Puluhan orang dewasa berteriak panik. Berlarian ke sana ke mari. Tak sedikit yang menangis. Menciumi anaknya yang baru saja bangun dan si anak justru balas menatap bingung pada orang tuanya yang menangis menciuminya. Mereka, orang-orang dewasa, yang biasanya setiap ada masalah selalu mencoba bersikap tenang di depan anak-anak, saat itu justru gurat kepanikan dan ketakutan yang ku lihat dari wajah mereka. 27 Mei 2006. Hari ketika aku menyadari, orang dewasa pun bisa merasakan ketakutan.
Gempabumi 5,9 SR mengguncang bumi yang membesarkanku. Hari itu juga aku menyadari bahwa pemikiranku tentang desaku adalah tempat ternyaman dan teraman di bumi terpatahkan. Tidak ada tempat yang paling aman di dunia ini. Sekali pun kita berada di dalam pelukan hangat orang tua atau orang yang melindungi kita. Sebab sejatinya setiap manusia memiliki rasa takut. Mereka juga cemas. Cemas dengan anaknya, saudaranya, pun dirinya. Aku juga tersadar, orang yang merasa takut akan lebih banyak menyebut nama Tuhan. Begitu aku ke luar rumah, banyak orang dewasa yang menitikkan air mata sembari komat-kamit menyebut nama Tuhan. Bermacam doa diucapkan dengan mulut bergetar. Hati bergetar. Tubuh bergetar. Berharap penuh Tuhan menurunkan jutaan pasukan pertolongan yang membawa kenyamanan dan rasa aman.
Ah ya. Sekali lagi aku menyadari, bahwa manusia memang teramat kecil di alam semesta ini. Manusia tidak punya kuasa untuk memegang kendali atas apa yang ada di dunia ini. Manusia adalah wayang, dan Tuhan adalah Sang Dalang. Urusan jalan cerita, wayang mana tahu. Wayang hanya lah benda yang digerakkan dalam sebuah drama yang dibawakan Sang Dalang. Sewaktu-waktu Dalang bisa memperlakukannya dengan teramat spesial, tapi di waktu lain Dalang bisa mematahkan wayang hanya dengan sekali gerakan.
Tapi dibalik ketakutan yang menimbulkan ketegangan di langit-langit Jogja, Tuhan Yang Maha Baik menyelipkan kisah menyenangkan di sana. Ah, terkadang aku merasa malu atas diriku yang begitu hina ini tapi dengan teramat baiknya Tuhan tetap memberikan nikmat kebahagiaan setelah kesusahan.
Pasca gempabumi, tentu saja kami mengungsi. Malam pertama setelah kejadian gempa, keluargaku tidur di sawah samping rumah. Kami tidur beralaskan tikar, berbalut selimut tebal dan beratapkan bintang. Sementara warga lain di desaku tidur berdesakan di tenda darurat yang dibangun di dekat sawah. Menyedihkan? Mungkin memang menyedihkan. Tapi di situlah aku merasakan kebahagiaan karena tidur beratapkan langit berbintang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Lewat tengah malam, ketika aku sudah tertidur pulas, tiba-tiba saja aku dibangunkan. Langit yang awalnya dihiasi formasi bintang, berubah gelap tanpa satu titik cahaya. Garasi kantor kecamatan menjadi tempat terakhir kami mengungsi sebelum akhirnya di hari ketiga kami berpindah ke rumah kakek.
Ada banyak hal yang ku dapat selama mengungsi. Kebersamaan masyarakat desa, khususnya di dusun tempatku tinggal terasa semakin erat. Setiap orang sama-sama saling menghibur, menciptakan atmosfer menyenangkan setelah sebelumnya didera ketakutan. Kami, anak-anak kecil, pun mulai bisa tertawa. Meski terkadang raut kami berubah tegang ketika gempa susulan terjadi. Kebahagiaan kami semakin bermunculan ketika sekolah akhirnya kembali dibuka dengan tenda darurat besar berwarna hijau tua. Banyak relawan datang menghibur kami. Aku masih ingat, beberapa relawan dari Sunrise School Bali datang ke sekolahku membawa banyak perlengkapan alat tulis, baju, dan tentu saja permainan seru. Kami banyak tertawa. Diajarkan menyanyi lagu berbahasa Inggris, kosakata bahasa Inggris, perlombaan berbahasa Inggris dan bahkan waktu itu adalah pertama kali kami melihat secara langsung sosok bule yang sebenarnya. Hahaha! Kami bahagia. Tentu saja bukan karena tidak ada pelajaran yang membosankan di kelas. Tapi kebersamaan kami yang terasa lebih hangat dan menyenangkan. Aku dan temanku lebih banyak menciptakan lagu. Lagu yang seolah mengajak manusia berjabat tangan kembali dengan alam. Lagu yang seolah mengajak orang-orang di sekitar kami untuk kembali bangkit. Lagu yang seolah mengisyaratkan "kita tidak sendiri. Kita bersama Tuhan di sini".
27 Mei 2006. Gempabumi 5,9 SR mengguncang bumi yang membesarkanku. Kami memang takut saat itu. Kami memang menangis. Kami kehilangan sanak saudara. Kami kehilangan senyuman. Tapi Tuhan Maha Adil. Tuhan Maha Baik. Setelah hujan lebat ada pelangi yang Dia berikan pada kami. Pelangi yang membawa kembali kebahagiaan kami. Pelangi yang kembali membuat alam berseri. Pelangi yang membuat kami sadar, selalu ada hikmah dibalik sebuah musibah.
***
27 Mei 2015. Ku ucapkan terima kasih untuk seluruh orang-orang spesial yang dikirim Tuhan untuk menolong kami, korban Gempabumi Jogja 9 tahun lalu. Terima kasih untuk doa dan semangat yang dikirimkan untuk kami 9 tahun lalu. Lepas dari kejadian mengerikan itu, semoga hati dan jiwa tetap terjaga untuk selalu menyertakan Alloh Yang Maha Baik di setiap hela napas kita. Di situasi buruk maupun baik sekali pun.
27 Mei 2015. Ku ucapkan DIRGAHAYU GUNUNGKIDUL HANDAYANI KE-184, tempat yang ku banggakan, tempat yang selalu ku rindukan. Tetaplah luar biasa, mengagumkan, dan memesona dengan segala anugerah bentangalam dan budaya yang disematkan Tuhan padamu. Salam penuh bangga dari kami yang ada di Ujungkulon (Purwosari). ^^
Keyongan Kidul, 27 Mei 2015
-Mutiara Ha(ya)ti
0 komentar:
Posting Komentar